BRIN Logo
Sign In

Katalog Riset & Inovasi

Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN

Filter Pencarian
Energi
BambooDrive Electric Outboard

BambooDrive Electric Outboard

Desain motor ketingting ini mengadopsi bentuk poros penggerak khas yang menyerupai struktur batang bambu di hutan bambu, di mana bentuk poros lurus dirancang untuk meningkatkan kecepatan, stabilitas arah, dan kemudahan kendali di perairan dangkal dan dalam serta dilengkapi dengan stang kemudi yang terintegrasi dengan tuas gas dan kontrol kecepatan, sistem pendingin air melalui pipa inlet di atas baling-baling, konfigurasi motor BLDC dan kontroler di bagian depan yang terhubung ke baling-baling melalui inner shaft berisi oli pelumas dan pendingin, serta dilengkapi klem pengikat yang ditempatkan pada titik seimbang untuk distribusi beban yang optimal, dan plat sirip hiu pada ujung poros untuk melindungi baling-baling dari benturan benda keras di dasar perairan. Desain ini berguna untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan motor tempel listrik dalam operasional di perairan dangkal, sempit, atau penuh rintangan, seperti sungai dan pesisir. Poros lurus memberikan kecepatan yang lebih tinggi dibanding poros bengkok, sementara sistem kemudi dengan tuas gas dan kontrol kecepatan memudahkan pengendalian jarak jauh atau dengan satu tangan. Sistem pendingin melalui pipa inlet menjaga suhu kerja motor dan kontroler tetap stabil, sehingga memperpanjang usia pakai. Inner shaft dengan pelumas internal mengurangi gesekan dan panas, mendukung kinerja jangka panjang. Klem pengikat yang terletak pada titik seimbang motor memastikan distribusi beban merata, memudahkan pemasangan dan pengoperasian. Selain itu, plat sirip hiu pada ujung poros berfungsi sebagai pelindung baling-baling dari benturan dengan batu, karang, atau benda keras lain di perairan dangkal, sehingga meningkatkan ketahanan sistem secara keseluruhan.

Pangan
Formulasi Biokontrol Trichoderma untuk Penyakit Busuk Batang Vanili

Formulasi Biokontrol Trichoderma untuk Penyakit Busuk Batang Vanili

Invensi ini berkaitan dengan suatu agen biokontrol penyakit tanaman vanili memanfaatkan jamur Trichoderma asperellum sedemikian hingga dapat mengatasi penyakit busuk batang pada tanaman vanili. Formulasi agen biokontrol pada invensi ini terdiri dari bulir jagung, dedak, air dan biang induk yang berupa Trichoderma asperellum. Pembuatan agen biokontrol dilakukan melalui tiga tahap antara lain: tahap persiapan pembuatan isolat Trichoderma asperellum; tahap sterilisasi media tumbuh; dan tahap inokulasi Trichoderma asperellum.

Pangan
Soil Enhancer untuk Bawang Merah

Soil Enhancer untuk Bawang Merah

Invensi ini berkaitan pembenah tanah yang diaplikasikan pada tanaman bawang merah (Allium cepa L.) untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan umbi tanaman bawang merah. Formulasi pembenah tanah pada invensi ini terdiri dari bahan organik dan bioaktivator FLOP. Bahan organik tersusun atas limbah serasah, limbah media tumbuh jamur (baglog), biochar (batok kelapa), ampas tahu dan kasgot. Sedangkan bioaktivator FLOP tersusun atas Coriolopsis hainanensis, Polyporus thailandensis, dan Cerrena aurantiopora. Pembenah tanah pada invensi ini diawali dengan membersihkan bahan organik dari pengotor kemudian menyusun beberapa lapisan bahan organik. Setelah itu, menyiram air pada lapisan sedemikian hingga kelembabannya mencapai 60% pada setiap lapisan yang dilanjutkan dengan menaburkan bioaktivator FLOP pada tumpukan. Setelah itu, tumpukan fermentasi ditutup menggunakan material kedap air dan mengaduk secara merata tumpukan fermentasi pada hari ke 12 dan 24, dimana apabila tumpukan mengering maka dapat dilakukan penyiraman. Bioaktivator FLOP ditambahkan pada saat pengadukan hari ke 24 dan ditaburkan ke seluruh bahan baku organik secara merata. Bahan pembenah tanah yang sudah matang dipanen pada hari ke 45-50, kemudian dikeringkan dan disaring pada saringan berukuran 10-20 mesh serta dilakukan pengemasan.

Pangan
Insektisida Nabati

Insektisida Nabati

Suatu formula insektisida nabati berbasis minyak mimba (Azadirachta indica) dengan bahan aktif azadirachtin yang selain bersifat toksik juga mengganggu pertumbuhan, khususnya proses metamorfosa serangga, serai wangi (Cymbopogon nardus) dengan bahan aktif sitronela yang bersifat sebagai pengusir hama (insect repellent) dan cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan bahan aktif eugenol yang bersifat toksik terhadap serangga. Minyak atsiri serai wangi dan cengkeh diperoleh dari hasil penyulingan, sedangkan minyak mimba diperoleh dari hasil pengepresan biji. Bahan-bahan tersebut dicampur lalu ditambahkan pengemulsi Tween 80 dan diaduk merata sampai terjadi larutan yang homogen berwarna coklat. Penggunaannya adalah dengan cara mengencerkan 2-5 ml formula dalam 1 liter air yang akan menghasilkan emulsi berwarna putih dan disemprotkan ke bagian tanaman untuk mengendalikan serangan hama.

Pangan
Pupuk Hayati Konsorsium Bakteri Spesifik

Pupuk Hayati Konsorsium Bakteri Spesifik

Invensi ini berkaitan dengan pupuk hayati berbentuk pasta yang berbasis konsorsium bakteri endofit dan bakteri tanah yang memiliki potensi sebagai agen biostimulan yang berasal dari bagian tanaman dan tanah dari tanaman bawang merah (Allium cepa L.), kunyit, kakao, manggis dan akasia. Aspek pertam yaitu formulasi pupuk hayati pasta berbasis konsorsium bakteri potensi agen biostimulan spesifik untuk tanaman sengon. Formulasi ini terdiri dari larutan CMC dan biang induk, dimana merupakan konsorsium bakteri yang terdiri dari Bacillus pumilus strain eBWTd4.1, Pseudomonas guariconensis strain BWTd4.3, Sphingobacterium multivorum strain eBWMa5; Bacillus stratosphericus strain TBWT8, Rhizobium tropici strain DCM2.1.2, Klebsiella pneumoniae strain KPR 4.2, Bacillus sp. srain CGK DT1; Bacillus subtilis strain eBWTd2.1, Pantoea agglomerans strain MCBt 2. Sedangkan aspek kedua yaitu proses pembuatan pupuk hayati pasta berbasis bakteri unggulan diawali dengan menumbuhkan inokulan cair dalam media nutrient broth selama 2 hari kemudian melarutkan 40 gram CMC ke dalam 1 L air sambil diaduk sampai larut. Larutan CMC tersebut disterilisasi menggunakan kompor selama 60 menit pada suhu sekurang-kurangnya 100oC yang selanjutnya didinginkan sampai suhu ruang. Inokulan cair ditambahkan ke dalam campuran dengan perbandingan larutan CMC dengan inokulan cair 70:30. Campuran diaduk kemudian diperoleh pupuk hayati dalam bentuk pasta.

Pangan
Sistem Fertigasi Hidroponik Bertingkat dengan Tabung Vakum Otomatis

Sistem Fertigasi Hidroponik Bertingkat dengan Tabung Vakum Otomatis

Invensi ini berkaitan dengan sistem fertigasi hidroponik, lebih khususnya suatu tabung vakum yang digunakan dalam sistemfertigasi hidroponik bertingkat, dimana sistem ini dilengkapi toren berbahan stainless steel sebagai tabung vakum berisi larutan nutrisi utama, dan toren berbahan fiber sebagai sumber larutannutrisi cadangan. Pada saat pengisian larutan nutrisi ke dalam kedua toren tersebut, valve servo pipa utama pada pipa utama dan valve servo pipa outlet toren fiber ke toren stainless steel/tabung vakum pada pipa outlet larutan nutrisi cadangan ke tabung vakum pada posisi tertutup. Pada bagian bawah tabung vakum dilengkapi dengan kontrol level larutan nutrisi di dalam bak tanaman hidroponik. Dari pipa utama melalui slang distribusi, larutan nutrisi mengalir ke bak larutan nutrisi yang berisi tanaman hidroponik. Sistem fertigasi teknik tabung vakum tetap dapat berjalan, meskipun aliran listrik padam. Tabung vakum dapat digunakan untuk fertigasi tanaman hidroponik di dalam bak secara bertingkat. Bak larutan nutrisi tanaman hidroponik dapat dilengkapi dengan alat penguras. Pengurasan dilakukan pada saat setelah curah hujan memenuhi bak larutan nutrisi tanaman hidroponik dimana bak larutan nutrisi tanaman hidroponik diletakkan di lahan terbuka (outdoor).

Pangan
Deteksi Kematangan Pisangan dengan R-CNN Algoritma

Deteksi Kematangan Pisangan dengan R-CNN Algoritma

Invensi ini mengenai metode pendeteksian kematangan pisang tanduk menggunakan algoritma Faster Region-based Convolutional Neural Networks (R-CNN) yang disesuaikan, lebih khususnya invensi ini berhubungan dengan metode untuk mendeteksi kematangan pisang tanduk yang diklasifikasikan menjadi 7 kategori warna (dominan hijau, hijau kekuningan, hijau sempurna, hijau tua kekuningan, dominan kuning, kuning sempurna, dan kuning berbintik coklat) dengan bantuan kamera digital berbasis visi komputer. Metode yang digunakan pada invensi ini terdiri dari tahap pra-pemrosesan data untuk meningkatkan kualitas dari citra dan menghilangkan fitur-fitur yang tidak diperlukan, melakukan segmentasi citra untuk memisahkan citra pisang tanduk dengan latar belakang citra, melakukan ekstraksi fitur, pengembangan model kematangan pisang tanduk hingga memproses pendeteksian pisang tanduk.

Pangan
Metode Gingerol Plus untuk Jahe Merah Unggul

Metode Gingerol Plus untuk Jahe Merah Unggul

Invensi ini berkaitan dengan metode peningkatan kandungan gingerol pada tanaman jahe merah, khususnya varietas Jahira 2, dengan induksi mutasi menggunakan mutagen sodium azida. Tahapan-tahapan menurut invensi ini terdiri dari perendaman jahe merah dalam larutan sodium azida, pengeringan rimpang jahe merah, penanaman rimpang jahe merah pada cocopit, penanaman jahe merah pada media tanam, pemeliharaan rimpang jahe merah, dan pemanenan. Metode peningkatan kandungan gingerol tanaman jahe merah menurut invensi ini menghasilkan tanaman jahe merah dengan kandungan gingerol hingga 6,17 mg/g.

Pangan
Tepung Kelor Rendah Saponin & Tanin – Proses dan Produk Unggul

Tepung Kelor Rendah Saponin & Tanin – Proses dan Produk Unggul

Invensi ini berkaitan dengan proses pembuatan tepung daun kelor. Lebih khusus, invensi ini berhubungan dengan produk tepung berbahan dasar daun kelor (Moringa oleifera) yang telah dihilangkan bau langunya dengan cara maserasi menggunakan asam sitrat. Keunggulan dari invensi ini adalah dapat menurunkan kandungan saponin penyebab bau langu sampai 75-78% dan kandungan tanin sebagai zat antinutrisi sebesar 16–18%. Maserasi dilakukan dalam larutan asam sitrat. Kemudian dilakukan penyaringan atau dapat juga disentrifugasi untuk dipisahkan antara endapan dan cairannya. Endapan yang diperoleh kemudian dikeringkan. Endapan kering yang diperoleh kemudian dihaluskan menjadi tepung. Karakteristik produk tepung daun kelor yang dihasilkan tidak bau langu dan memiliki kandungan mineral berupa kalsium sebesar 12735,85 - 16503,39 mg/kg; besi sebesar 58,35 - 79,67 mg/kg; kadar air sebesar 5,925 - 6,465%; tidak berbau langu karena memiliki kandungan saponin yang rendah; dan warna hijau muda kecoklatan dengan tingkat kecerahan (L*) sebesar 54,75 - 56,55.

Pangan
Solusi Mi Sehat Berbasis Porang Lokal dengan Kualitas Tekstur Kelas Dunia

Solusi Mi Sehat Berbasis Porang Lokal dengan Kualitas Tekstur Kelas Dunia

Invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan mi non terigu, lebih khususnya lagi mi non terigu berbahan dasar tepung glukomanan porang, pati singkong atau pati kentang atau pati jagung, glukosa, dan air yang diproses dengan teknik ekstrusi, perebusan pada larutan alkali, perendaman pada larutan glukosa dan pengeringan serta produk yang dihasilkannya. Produk mi non terigu dalam invensi ini terdiri dari: tepung glukomanan porang sebanyak 4-6%, pati singkong atau pati kentang atau pati jagung dengan rasio jumlah pati dan total bahan sebesar 1:20; 1:10; dan 1:6,67, lebih disukai 1:6,67; air sebanyak 83-94%, dan glukosa sebanyak 1-2%. Proses pembuatan produk mi non terigu berbahan dasar tepung glukomanan porang dan pati meliputi: penimbangan, pelarutan, pencampuran, pendiaman, pencetakan dengan alat extruder single screw, penyiapan larutan alkali, perebusan dengan larutan alkali, pembilasan, perebusan dengan air panas, perendaman dalam larutan glukosa, pembilasan, pengeringan, dan pengemasan. Invensi ini memiliki keunggulan yaitu kadar abu rendah sebesar 0,27-0,38%; daya rehidrasi tinggi sebesar 142,5-174,2%; elongasi tinggi sebesar 64,1-170,3%; dan serta kehilangan padatan akibat pemasakan rendah sebesar 1,12%.

Pangan
Inovasi Filtrat Trichoderma untuk Pertumbuhan Maksimal & Lahan Lestari

Inovasi Filtrat Trichoderma untuk Pertumbuhan Maksimal & Lahan Lestari

Invensi ini berkaitan dengan agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung berbasis filtrat kultur Trichoderma asperellum AC.3, proses pembuatan, dan penggunaanya dalam metode untuk memacu pertumbuhan tanaman jagung melalui perendaman dan penyemprotan. Agen pemacu pertumbuhan menurut invensi ini mengandung kultur filtrat cendawan T. asperellum AC.3. dalam medium potato dextrose broth (PDB) dan surfaktan berupa polisorbat 20. Proses pembuatan agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung menurut invensi ini dilakukan melalui perbanyakan Trichoderma asperellum AC.3 pada media potato dextrose agar (PDA), inokulasi Trichoderma asperellum AC.3 pada media potato dextrose broth (PDB), penyaringan kultur, penyaringan kembali, pemanasan filtrat kultur, dan pencampuran filtrat kultur dengan polisorbat 20. Agen pemacu pertumbuhan yang dihasilkan kemudian digunakan dalam metode untuk memacu pertumbuhan jagung melalui perendaman benih jagung sebelum penanaman dan penyemportan agen pemacu pertumbuhan pada tanaman jagung berusia 7 hari setelah tanam. Agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung menurut invensi ini dapat meningkatkan bobot segar tanaman jagung hingga 47%.

Pangan
Solusi Media Kultivasi Mikroalga Mandiri Energi dari Keajaiban Limbah Lokal

Solusi Media Kultivasi Mikroalga Mandiri Energi dari Keajaiban Limbah Lokal

Invensi ini mengungkapkan suatu metode pembuatan media kultivasi mikroalga dari 100% limbah tahu yang telah diolah secara anerobik menggunakan deteksi faktor pembatas pertumbuhan yang bertujuan untuk memproduksi biomassa Chlorella vugaris dengan menggunakan seminimal mungkin penambahan material. Tahap-tahap yang dilakukan pada invensi ini meliputi pengolahan limbah tahu (sedimentasi, filtrasi hingga mencapai ukuran partikulat 1,2 μm, dan sterilisasi), kultivasi pendahuluan (pada 3 jenis media, yaitu media kontrol (AF 6), media limbah tahu 50% dan media limbah tahu 100%), kultivasi utama dan analisis pertumbuhan. Berdasarkan hasil beberapa eksperimen, N dan P tidak perlu ditambahkan pada media kultivasi dari limbah tahu. Jika kultivasi C.vulgaris tidak menunjukkan fase eksponensial maka deteksi dilakukan pada mikro maupun makro elemen selain N dan P hingga kultivasi memasuki fase eksponensial. Setelah faktor-faktor pembatas pertumbuhan terdeteksi pada eksperimen pendahuluan, maka dilakukan eksperimen lanjut, dimana faktor-faktor pembatas pertumbuhan C.vulgaris ditambahkan pada limbah tahu. Hasil pengujian pada invensi ini menunjukkan bahwa metoda ini dapat digunakan untuk pemanfaatan 100% limbah tahu sebagai media pertumbuhan dan menghasilkan produksi biomassa C.vulgaris dalam jumlah yang sama atau lebih tinggi daripada yang dihasilkan dalam media kontrol.