Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berkaitan dengan agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung berbasis filtrat kultur Trichoderma asperellum AC.3, proses pembuatan, dan penggunaanya dalam metode untuk memacu pertumbuhan tanaman jagung melalui perendaman dan penyemprotan. Agen pemacu pertumbuhan menurut invensi ini mengandung kultur filtrat cendawan T. asperellum AC.3. dalam medium potato dextrose broth (PDB) dan surfaktan berupa polisorbat 20. Proses pembuatan agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung menurut invensi ini dilakukan melalui perbanyakan Trichoderma asperellum AC.3 pada media potato dextrose agar (PDA), inokulasi Trichoderma asperellum AC.3 pada media potato dextrose broth (PDB), penyaringan kultur, penyaringan kembali, pemanasan filtrat kultur, dan pencampuran filtrat kultur dengan polisorbat 20. Agen pemacu pertumbuhan yang dihasilkan kemudian digunakan dalam metode untuk memacu pertumbuhan jagung melalui perendaman benih jagung sebelum penanaman dan penyemportan agen pemacu pertumbuhan pada tanaman jagung berusia 7 hari setelah tanam. Agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung menurut invensi ini dapat meningkatkan bobot segar tanaman jagung hingga 47%.
Invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan mi non terigu, lebih khususnya lagi mi non terigu berbahan dasar tepung glukomanan porang, pati singkong atau pati kentang atau pati jagung, glukosa, dan air yang diproses dengan teknik ekstrusi, perebusan pada larutan alkali, perendaman pada larutan glukosa dan pengeringan serta produk yang dihasilkannya. Produk mi non terigu dalam invensi ini terdiri dari: tepung glukomanan porang sebanyak 4-6%, pati singkong atau pati kentang atau pati jagung dengan rasio jumlah pati dan total bahan sebesar 1:20; 1:10; dan 1:6,67, lebih disukai 1:6,67; air sebanyak 83-94%, dan glukosa sebanyak 1-2%. Proses pembuatan produk mi non terigu berbahan dasar tepung glukomanan porang dan pati meliputi: penimbangan, pelarutan, pencampuran, pendiaman, pencetakan dengan alat extruder single screw, penyiapan larutan alkali, perebusan dengan larutan alkali, pembilasan, perebusan dengan air panas, perendaman dalam larutan glukosa, pembilasan, pengeringan, dan pengemasan. Invensi ini memiliki keunggulan yaitu kadar abu rendah sebesar 0,27-0,38%; daya rehidrasi tinggi sebesar 142,5-174,2%; elongasi tinggi sebesar 64,1-170,3%; dan serta kehilangan padatan akibat pemasakan rendah sebesar 1,12%.
Pembuatan formula mi non terigu dengan penambahan Glukomanan menggunakan bahan-bahan berupa tepung beras, tapioka, Glukomanan, tepung telur kuning, tepung telur putih, guargum, dan air. Tahapan proses pembuatan mi meliputi pencampuran bahan dengan mixer selama 5-10 menit pada kecepatan tingkat 3-4 (skala pada alat), pengukusan adonan kering selama 15-20 menit, pencampuran adonan semi basah (kadar air sekitar 15-20%) dan pencetakan dengan alat ekstuder sampai terbentuk untaian mi. Selanjutnya untaian mi dilakukan pengukusan selama 15-20 menit, kemudian pengeringan untaian mi ke alat penggoreng tanpa minyak (air fryer) dengan suhu 130-135oC selama 5-7 menit, dan mi dibalik serta dilakukan pengeringan kembali ke alat penggoreng tanpa minyak (air fryer) dengan suhu 130-135oC selama 5-7 menit. Hasil mi instan ini dengan waktu masak 4-4,2 menit pada air mendidih, padatan terlarut yang hilang (cooking loss) adalah 5-6%, penyerapan air (cooking weigth) mencapai 190-200%, serta Whiteness Index sebesar 50,20-50,39. Secara proksimat mi ini mempunyai kadar air 9,00-9,10%, kadar abu 1-1,05%, kadar lemak 0,71-0,76%, kadar protein 16,09-16,16%, kadar karbohidrat 72,93-73,20% energi 363,20-363,55 kkal.
Invensi teknologi ini berupa suatu metode jatuhan dan alat ukur kekerasan kulit lada setelah perendaman. Metode yang digunakan berupa metode jatuhan, yaitu menjatuhkan bagian bawah piston yang berbeban ke sekumpulan lada. Kulit lada jauh lebih lunak dibandingkan piston. Tumbukan tersebut akan membuat sekumpulan lada terkompresi. Karena arah lateral dan vertikel bagian bawah tabung ukur sudah tertutup, maka lada akan tertekan ke bawah. Kecepatan tumbuk dan massa piston bagian bawah relatif tetap. Oleh karena itu, penyusutan ketinggian lada ditentukan oleh kekerasan kulit lada. Makin keras kulit ladanya, makin pendek penyusutan tinggi ladanya. Jadi kekerasan kulit lada berbanding terbalik dengan penurunan ketinggian lada. Suatu alat ukur kekerasan kulit lada setelah perendaman pada invensi teknologi ini terdiri dari empat subsistem yaitu satu subsistem tabung ukur kekerasan lada (1) yang tersusun dari pemberat (beban, 1.1), dudukan beban (1.2), tabung lada (1.3), batang piston (1.4), piston (1.5), dan pemegang tabung (1.6); satu subsistem pengukur jarak (2) yang berupa satu laser distance meter (LDM, 1.1) dan satu pengatur posisi LDM (1.2); satu subsistem statif (3) yang tersusun dari batang statif (3.1) dan alas statif (3.2); serta satu pengolah data (4) yang terdiri dari mikrokontroler (4.1) dan display atau penampil (4.2).
Invensi ini berupa metode dan wadah pembesaran kepiting dengan dengan merangkai unit crab house secara horizontal (5 unit) dan vertikal (4 tingkat), urutan tingkat keempat pasir laut, ketiga pasir sungai, kedua pasir gunung (kuarsa) dan kesatu tanpa pasir. Tiap crab house yang diisi pasir seberat 2,5 kg dan seluruh crab house diisi seekor benih kepiting jantan. Rerata berat awal kepiting : 41,0 g (pasir laut), 33,4 g (sungai), 62,2 g (kuarsa) dan 27,2 g (tanpa pasir). Pakan berupa daging kerang darah, dosis 10% berat individu dan diberikan dua kali sehari. Aliran air sistem resirkulasi 24 jam per hari, dipompa dari tampungan, debit air ke tiap crab house sekitar 0,77 liter/menit. Limpasan air menuju ke unit filtrasi, tandon air dan dipompa kembali ke tiap crab house. Pemeliharaan selama 90 hari, diukur pertumbuhannya tiap 15 hari dan pengelolaan air serta pasir secara periodik. Rerata pertambahan berat kepiting : 166,46%; 167,96%; 112,62% dan 250% dari berat awal dengan kehidupan 100%, 80%, 80%, 20% untuk pasir dan tanpa pasir.
Invensi ini berhubungan dengan metode produksi zooplankton Artemia sp. tanpa penggantian air dengan pakan spirulina dan tepung singkong termodifikasi (mocaf) sedemikian hingga dihasilkan biomassa zooplankton artemia. Metode ini dilakukan melalui tahapan - tahapan menetaskan kista artemia; menyiapkan media produksi biomassa artemia; menebar nauplius artemia; memberikan pakan berupa campuran tepung singkong termodifikasi dan tepung spirulina; mengatur kadar oksigen; mengendalikan volume biofloc; dan melakukan pemeliharaan artemia hingga artemia mencapai tahapan dewasa. Metode produksi biomassa artemia menurut invensi ini dapat menghasilkan biomassa artemia hingga 800 g/m3 dengan menggunakan konsentrasi pakan dengan tingkat rendah dan dapat menjaga kualitas air media pemeliharaan tanpa melakukan penggantian.
Invensi ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan perbanyakan pada tanaman obat langka gandasoli hutan dan tujuan khususnya adalah untuk mendapatkan metode perbanyakan tanaman obat langka gandasoli hutan in vitro. Invensi dilakukan menggunakan sumber eksplan mata tunas yang berasal dari lapang dan eksplan dipelihara didalam kotak steril. Kegiatan bertujuan untuk memperoleh metode perbanyakan H. roxburghii secara in vitro dan invensi ini terdiri dari dua tahapan yaitu: 1) inisiasi dan induksi tunas pada media MS cair dengan penambahan BA (0.0 ; 1.0 ; 3.0 ; 5.0 mg/l) secara tunggal dan kombinasinya dengan TDZ 0.1 mg/l, dan 2) multiplikasi tunas in vitro untuk meningkatkan jumlah tunas pada perlakuan kombinasi BA, TDZ dengan NAA. Hasil invensi menunjukkan bahwa media dasar MS cair dengan penambahan kombinasi BA 3.0 mg/l + TDZ 0.1 mg/l menghasilkan respon inisiasi dan induksi tunas paling baik dibandingkan perlakuan lainnya dengan jumlah tunas 1-4 tunas dalam waktu empat minggu. Multiplikasi tunas terbaik diperoleh pada penggunaan perlakuan media MS cair dengan penambahan BA 3.0 mg/l + TDZ 0.1 mg/l dan NAA 0.3 mg/l dengan jumlah 2-5 tunas dalam waktu tiga minggu.
Invensi ini mengenai mulsa organik alas buah dan pembuatannya yang berfungsi menahan kelembaban tanah di bawah buah dan menjaga buah dari kontak langsung terhadap tanah. Mulsa terdiri dari dua lapis. Lapisan bawah berupa campuran tandan kosong kelapa sawit giling dan bentonit. Lapisan atas berupa cocofiber. Mulsa mampu mengurangi kelembaban tanah hingga 6-13% dibandingkan dengan perlakuan tanpa alas buah. Mulsa mampu mengurangi pertumbuhan gulma sebanyak 30-100% di area sekitar mulsa. Metode pembuatannya mulsa organik terdiri dari: merendam cocofiber dan tandan kosong kelapa sawit giling masing-masing dengan air bersih ditambah desinfektan 0,5- 5,0% selama 20-24 jam dan meniriskannya; mencampur tandan kosong kelapa sawit dengan bentonit dengan perbandingan berat 10:1 sebagai lapisan bawah; meletakkan pelat besi setebal 5 mm di bagian dasar cetakan; melapisinya dengan plastik; mencampur tandan kosong kelapa sawit dan bentonit ke dalam cetakan; menambahkan cocofiber sebagai lapisan atas; menutup lapisan atas dengan plastik kemudian plat besi; mengulang proses pengisian bahan hingga cetakan penuh, menutup cetakan dengan plat besi, mengempa dengan kekuatan 5 ton/900 cm2 selama minimal 4 jam, membuka cetakan, melepaskan dan mengeringkannya.
Invensi ini berhubungan dengan menyediakan komposisi dan proses pembuatan nori krispi dari rumput laut yang dilapisi dengan tepung tapioka. Komposisi nori krispi dari rumput laut, terdiri dari Ulva lactuca 18,0%–23,0%; Gracilaria changii1,8%-3,5%; Eucheuma spinosum 1,8%-3,5%; gliserin 1,5%-2,0%; teri 0,5%-3%; saus tiram 1,0%-3,0%; minyak wijen 1,0%-3,0%; minyak goreng 1,0%-3,0%; sodium metabisulfit 0,1%-0,3%; dan air sehingga jumlahnya menjadi 100%, serta tepung tapioka sebagai pelapis nori sebanyak 25%–100% dari berat nori kering. Proses pembuatan nori krispi dari rumput laut dilakukan dengan tahapan-tahapan yang terdiri dari: mencuci rumput laut; merendam dengan asam cuka 0,5% selama 6 jam (b/v); meniriskan; menimbang bahan-bahan sesuai komposisi; memasak campuran rumput laut pada suhu 1000C selama 10 menit; menghaluskannya bahan-bahan selama 1 menit; mencetak campuran ke dalam cetakan nori; mengeringkan suhu 60°C selama 24 jam; melapisi dengan tepung tapioka; menggoreng nori suhu 200°C selama 5-10 detik; meniriskan dan mengemas nori rumput laut krispi yang dilapisi dengan tepung tapioka. Produk nori yang dihasilkan mempunyai warna menyerupai nori komersial, bertekstur krispi, dan tidak ada after taste.
Invensi ini berkaitan dengan primer spesifik untuk deteksi bakteri Pantoea sp. sebagai penyebab penyakit hawar daun bakteri pada tanaman bawang merah ( Allium ascalonicumL.), khususnya untuk digunakan dalam metode deteksi menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk amplifikasi gen Alt dari bakteri Pantoea sp. sedemikian hingga diperoleh amplikon yang mengkonfirmasi identitas bakteri Pantoea sp. Primer spesifik menurut invensi terkini yaitu Pa_AltF: 5’-TCT GGT CCG ATC TGG TCT GT-3’ dan Pa_AltR: 5’-CAT CAT CAG CTC AGC GTT GC-3’. Primer tersebut digunakan dalam metode deteksi bakteri patogen Pantoea sp. pada tanaman bawang merah menggunakan PCR dengan kondisi proses pre-denaturasi pada suhu 95oC selama 5 – 10 menit; denaturasi pada suhu 95oC selama 30 – 60 detik; penempelan primer pada suhu 60 - 65oC selama 30 – 60 detik; pemanjangan dan pembentukan DNA pada suhu 72oC selama 60-90 detik; dan pemanjangan akhir pada suhu 72oC selama 5-10 menit; di mana denaturasi - pemanjangan dilakukan sebanyak 40 - 45 siklus. Penentuan hasil dilakukan dengan menggunakan elektroforesis gel agarosa dengan konsentrasi 1 - 2%, di mana hasil pemeriksaan dikatakan positif jika muncul pita DNA target berukuran 197 pasang basa (pb).
Invensi ini berupa suatu proses pembuatan sambal tabur yang diperkaya protein dengan menambahkan protein dari ikan kering dan kacang-kacangan,kemudian dipress pada salah satu tahapnya untuk mengurangi minyak. Pada beberapa bahan baku dilakukan pengorengan dan beberapa bahan tertentu dilakukan penyangraian. Bahan kemudian dicampurkan menjadi satu dengan blender kemudian dipress untuk mengeluarkan minyak keluar hasil penggorengan. Setelah dipress bahan diblender kasar kemudian dikemas dengan menggunakan botol dan ditutup rapat.
Invensi ini mengenai pembuatan losion anti nyamuk dari minyak kayu putih dengan campuran ekstrak lavender, lebih khusus lagi invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan losion anti nyamuk dengan bahan utama minyak kayu putih Melaleuca cajuputi dan ekstrak lavender yang bermanfaat untuk mencegah gigitan nyamuk, melembabkan kulit, dan memiliki efek antioksidan. Proses pembuatan losion berbahan dasar beeswax, polawax, aquades, ekstrak aloevera cair, Tocopheryl acetate,minyak kayu putih Melaleuca cajuputi, dan ekstrak lavender. Formulasi losion dibuat dengan tujuan meningkatkan nilai ekonomi pada bahan dasar yang digunakan, meningkatkan manfaat dan efektivitas losion, dan terciptanya losion berbahan dasar herbal dan ramah lingkungan. Losion anti nyamuk dari minyak kayu putih dan ekstrak lavender ini memiliki keunggulan mencegah gigitan nyamuk dengan bahan alami herbal serta memberikan manfaat lebih bagi kulit yaitu meningkatkan kelembaban dan efek antioksidan.