BRIN Logo
Sign In

Katalog Riset & Inovasi

Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN

Filter Pencarian
Pangan
Metode Ekstraksi Dan Pemurnian Pada Analisa Senyawa Pyrethroid Dalam Kakao Bubuk

Metode Ekstraksi Dan Pemurnian Pada Analisa Senyawa Pyrethroid Dalam Kakao Bubuk

Invensi ini berkaitan dengan suatu metode ekstraksi dan pemurnian pada analisa senyawa pyrethroid, lebih khususnya metode ekstraksi dan pemurnian pada analisa senyawa pyrethroid yang terdiri dari l-cyhalothrin, permethrin, cypermethrin, fenvalerate dan deltamethrin dalam kakao bubuk dengan menggunakan berbagai jenis pelarut yang terdiri dari asetonitril, methanol dan n-heksan untuk ekstraksi serta berbagai jenis adsorben yang digunakan untuk pemurnian baik tunggal maupun campurannya. Adapun langkah-langkahnya yaitu: mencampur adsoben ke dalam kakao bubuk, dimana adsorben terdiri dari primary and secondary amine (PSA), graphitized carbon black (GBC), C18 end-capped (C18-EC), florisil dan campurannya yang terdiri dari PSA/C18, PSA/GCB, PSA/Florisil, C18/GCB, C18/Florisil, GCB/Florisil, PSA/C18/GCB, PSA/C18/Florisol, C18/GCB/Florisil; menghomogenkan campuran; mencampur senyawa pyrethroid ke dalam campuran; mengekstrak campuran, lebih disukai menggunakan rotary agitator selama 30 menit dengan kecepatan putar sebesar 22.5 rpm; memisahkan lapisan pelarut, dimana hasilnya disebut sebagai ekstrak; menyaring ekstrak, dimana hasilnya selanjutnya disebut sebagai filtrat; menginjeksikan filtrat ke dalam GC-ECD, lebih disukai pada kolom kapiler HP 5 (30m x 0,25 mm i.d. 0,25 µm film thickness), suhu injektor 250oC, split injektor 1:1, suhu detektor 300oC; menentukan pelarut dan adsorben yang tepat dengan menghitung %recovery dan %RPD.

Pangan
Proses Pembuatan Gula Cair Berbasis Pati Mentah Menggunakan Enzim Amilase Kompleks Dari Aspergillus Awamori Kt-11

Proses Pembuatan Gula Cair Berbasis Pati Mentah Menggunakan Enzim Amilase Kompleks Dari Aspergillus Awamori Kt-11

Invensi ini berkenaan dengan kemampuan enzim kompleks dari Aspergillus awamori KT-11 yang dapat menghidrolisis pati mentah menjadi gula cair. Produksi enzim amilase kompleks dilakukan menggunakan kulit singkong sebagai substrat. Aktivitas enzim amilase kompleks dari Aspergillus awamori KT-11 stabil pada suhu penyimpanan 25 °C. Pembuatan gula cair dari 30% pati mentah menggunakan 10% enzim amilase kompleks selama 72 jam pada suhu 60 °C mampu menghasilkan gula cair dengan nilai Dextrose Equivalent sebesar 31 ± 1,1.

Pangan
Komposisi Biskuit Kaya Antioksidan Berbahan Dasar Ubi Kayu Terfermentasi Dan Labu Kuning

Komposisi Biskuit Kaya Antioksidan Berbahan Dasar Ubi Kayu Terfermentasi Dan Labu Kuning

Invensi ini berkaitan dengan suatu komposisi biskuit yang berbahan dasar ubi kayu terfermentasi dan labu kuning (C. moschata). Invensi ini bertujuan untuk menyediakan komposisi biskuit yang berbahan dasar ubi kayu terfermentasi dan labu kuning (C. moschata). Komposisi biskuit yang dimaksud terdiri atas tepung mocaf sebesar 25–45%, lebih disukai 35,7%; tepung labu kuning sebesar 5–13%, lebih disukai 9,45%; margarin sebesar 25–45%, lebih disukai 34%; gula pasir sebesar 10–16%, lebih disukai 13%; kuning telur sebesar 4–9%, lebih disukai 5,7%; susu skim bubuk sebesar 4–8%, lebih disukai 5,7%; dan baking powder sebesar 0,2–0,5%, lebih disukai 0,38%. Biskuit kaya antioksidan yang dihasilkan memiliki karakteristik fisikokimia, nutrisi, dan aktivitas antioksidan dengan kandungan air sebesar 5,2–6,9%; abu sebesar 1,9–2,2%; protein sebesar 1,9–2,9%; karbohidrat sebesar 35,6–46,1%; serta aktivitas antioksidan sebesar 11,7–14,1%.

Pangan
Produk Lembaran Buah Yang Mengandung Pisang, Mangga, Dan Buah Naga

Produk Lembaran Buah Yang Mengandung Pisang, Mangga, Dan Buah Naga

Invensi ini berkenaan dengan produk lembaran buah yang mengandung pisang, mangga, buah naga merah, gum arab, sorbitol, dan air. Proses pembuatan lembaran buah menurut invensi ini terdiri atas tahapan sortasi, pengupasan, penimbangan, pengukusan, pencampuran, penghancuran, pencetakan dalam loyang, pengeringan, pendinginan, dan pengemasan. Produk yang dihasilkan mengandung serat, vitamin C, dan antioksidan.

Pangan
Alat Pembuang Udara Terperangkap Dalam Pasta Cokelat

Alat Pembuang Udara Terperangkap Dalam Pasta Cokelat

Invensi ini mengenai alat pembuang udara terperangkap dalam pasta cokelat, lebih khusus lagi, invensi ini berhubungan dengan alat untuk membuang udara terperangkap dalam pasta cokelat yang lebih disukai pada proses pencetakan menjadi cokelat batangan maupun permen cokelat. Alat lebih sederhana karena hanya menentukan besaran getaran yang dibutuhkan. Selain itu dalam invensi yang diajukan ini dapat menggunakan berbagai bahan cetakan baik kaku maupun elastis serta dapat menampung lebih dari satu buah cetakan. Invensi ini dapat memberi manfaat bagi pembuangan udara terperangkap dalam pasta cokelat secara praktis dan efisien.

Kesehatan
Metoda Pembuatan Stimulan Penyerapan Kalsium Difruktosa Anhidrida III Secara Enzimatis Dari Ekstrak Cair Yang Mengandung Inulin Yang Diekstrak Dari Irisan Umbi Tanaman Dahlia (Dahlia sp.) Yang Dikeringkan (Serpih)

Metoda Pembuatan Stimulan Penyerapan Kalsium Difruktosa Anhidrida III Secara Enzimatis Dari Ekstrak Cair Yang Mengandung Inulin Yang Diekstrak Dari Irisan Umbi Tanaman Dahlia (Dahlia sp.) Yang Dikeringkan (Serpih)

Invensi ini berupa suatu metoda pembuatan difruktosa anhidrida III dalam bentuk bubuk sebagai stimulan penyerapan kalsium yang dilakukan dengan cara mereaksikan suatu cairan yang mengandung inulin dengan suatu enzim inulin fruktotransferase. Cairan yang mengandung inulin pada invensi diperoleh melalui proses ekstraksi inulin dari bahan baku irisan umbi tanaman Dahlia (Dahlia spp.) yang dikeringkan, menggunakan air pada suhu tinggi, perwujudan daripada invensi ini melalui tahapan-tahapan, sebagai berikut: menyiapkan bahan-bahan yaitu umbi tanaman Dahlia segar dan enzim inulin fruktotransferase dari Nonomuraea sp. strain ID06-A0189; menimbang, membersihkan dan mencuci umbi, membuat irisan umbi Dahlia kering, mengekstrak cairan inulin, mereaksikan ekstrak cairan inulin dengan enzim inulin fruktotransferase dilanjutkan dengan fermentasi ragi, memisahkan ragi dengan cara penyaringan vakum menggunakan lapisan karbon atau dengan sentrifugasi, memekatkan larutan DFA III; menghilangkan warna larutan DFA III dengan karbon aktif; memisahkan karbon aktif dari larutan DFA III; mengulangi tahap menghilangkan warna larutan DFA III dengan karbon aktif; memekatkan larutan DFA III; mengkristlakan DFA III, memisahkan Kristal DFA III dari sisa cairan, mengeringkan dan menyimpan DFA III.

Kesehatan
Proses Pembuatan Ekstrak Mengkudu (Morinda citrifolia) Sebagai Sediaan Ekstrak Kering

Proses Pembuatan Ekstrak Mengkudu (Morinda citrifolia) Sebagai Sediaan Ekstrak Kering

Invensi ini berhubungan dengan Proses pembuatan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia) sebagai sediaan ekstrak kering untuk kebutuhan produk farmasi. Sediaan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia)diperoleh dengan menggunakan buah mengkudu (Morinda citrifolia) dengan spesifikasi yang sudah distandarkan baik itu bahan baku buah mengkudunya(Morinda citrifolia)maupun proses ekstraksinya. Pada invensi ini buah mengkudu (Morinda citrifolia) diperoleh dari alam Indonesia yang mudah di dapat dan dibudidaya, murah, melimpah dan usia panen nya relatif singkat. Proses yang dilakukan untuk mendapatkan ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia) terbilang mudah, efektif, dan efisien. Proses yang dimaksud terdiri dari tahapan sortasi, pemeraman, ekstraksi, pengeringan,dan penggilingan. Secara empiris mengkudu (Morinda citrifolia) sudah diakui khasiatnya, dimana kedepannya ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia) ingin ditingkatkan fungsinya menjadi fitofarmaka. Pengujian antioksidan, kandungan total fenol dan flavonoid, serta kandungan scopoletin dari ekstrak etanol mengkudu (Morinda citrifolia) bisa menjadi acuan untuk langkah pengujian selanjutnya dari ekstrak etanol mengkudu (Morinda citrifolia).

Pangan
Komposisi Nanoenkapsulan Berbasis Buah Stroberi Dan Metode Pembuatannya

Komposisi Nanoenkapsulan Berbasis Buah Stroberi Dan Metode Pembuatannya

Invensi ini berupa suatu nanoenkapsulan berbasis buah stroberi sebagai pangan fungsional dengan perwujudan dalam bentuk emulsi dengan formula nanoenkapsulasi dibuat dengan mencampurkan ekstrak tepung buah stroberi dengan enkapsulan yang bersumber dari gelatin, soya, siklodektrin, pati terlarut, maltodekstrin, singkong serta surfaktan bersumber dari minyak nabati dengan komposisi ekstrak tepung buah stroberi: enkapsulan polimer : surfaktan yaitu 2:1:1 dengan metode pembuatannya melalui tahapan mengeringkan buah stroberi, melakukan penepungan buah stroberi kering, mengekstraksi tepung buah stroberi menggunakan etanol (food grade) dengan metode KCV dan KKG, menguji ekstrak tepung buah stroberi menggunakan metode DPPH, mengisolasi isolat murni dan menganalisis menggunakan KLT, NMR, LCMS, DSC, dan FTIR, melakukan enkapsulasi ekstrak etanol buah stroberi yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi, melakukan pengecilan ukuran sampai diperoleh ukuran nano menggunakan shaker mill dan analisis ukuran nano menggunakan SEM.

Pangan
Pisau Pemotong Adonan

Pisau Pemotong Adonan

Invensi ini bertujuan untuk mengungkapkan sebuah pisau pemotong adonan, lebih khususnya pisau untuk memotong adonan diantaranya adonan pelet apung, dimana badan pisau berbentuk silinder dengan dua tingkatan diameter yang berbeda dan dudukan mata pisau yang melengkung dengan radius tertentu, sehingga dihasilkan potongan pelet apung yang seragam dengan bentuk sesuai yang diinginkan. Pisau pemotong adonan pada invensi ini terdiri dari bagian-bagian yaitu badan pisau berbentuk silinder yang memiliki bagian yang terhubung dengan poros dan bagian yang terhubung dengan dudukan mata pisau; dudukan mata pisau yang dilengkapi dengan minimal dua buah lubang baud pada sisi miring yang memanjang membentuk trapesium kemudian membentuk lengkungan pada bagian pojok atau sudut yang menempel pada sisi yang lebih tinggi; dan mata pisau dengan bentuk trapesium yang dilengkapi dengan minimal dua buah lubang baud dan ujung mata pisau dibuat miring, yang dicirikan dengan sudut kemiringan sisi miring dudukan mata pisau adalah antara 27 sampai dengan 35 derajat, lengkungan bagian pojok atau sudut memiliki radius 11 mm, dan sudut kemiringan ujung mata pisau adalah antara 75 sampai dengan 80 derajat.

Pangan
Metode Verifikasi Secara Molekuler Terhadap Sperma Sapi Hasil Pemisahan Jenis Kelamin (Sexing)

Metode Verifikasi Secara Molekuler Terhadap Sperma Sapi Hasil Pemisahan Jenis Kelamin (Sexing)

Invensi ini berhubungan dengan suatu metode verifikasi hasil pemisahan sperma betina (X) dan sperma jantan (Y) secara molekuler menggunakan primer Sex-determining region Y (SRY) dan duplex Polimerase Chain Reaction (PCR). Metode verifikasi sperma sexing sapi secara molekuler terdiri dari tahapan ekstraksi DNA sperma sapi hasil pemisahan, amplifikasi DNA dengan duplex PCR dan pengamatan hasil amplifikasi DNA dengan elektroforesis. Metode duplex PCR menggunakan gen SRY (318 bp) dan GAPDH (415 bp) mampu membedakan jenis kelamin dari sampel DNA sperma sapi Simmental dan sapi Bali hasil sexing yaitu sperma X pada kolom BSA (Bovine Serum Albumin) konsentrasi rendah (5%) dan sperma Y pada kolom BSA konsentrasi tinggi (10%), baik pada pemisahan 2 kolom maupun 3 kolom BSA.

Pangan
Formulasi Pupuk Organik Hayati Cair Berbasis Urin Terfermentasi Dan Proses Pembuatannya

Formulasi Pupuk Organik Hayati Cair Berbasis Urin Terfermentasi Dan Proses Pembuatannya

Pemanfaatan limbah urin dan bahan organik dari ekstrak kompos mampu meningkatkan ketersediaan N dan C organik bagi tanaman sehingga mampu meningkatkan produktivitas lahan dan produk pertanian. Telah diungkapkan dalam dalam invensi ini formulasi pupuk organik hayati cair berbasis urin terfermentasi yang terdiri dari urin sapi, ekstrak kompos, pupuk organik hayati, molase dan ekstrak daun pandan. Juga diungkapkan dalam invensi ini proses pembuatan pupuk organik tersebut yang terdiri dari tahapan: membuat ekstrak kompos, penambahan dengan urin sapi, penambahan pupuk organik hayati, penambahan molase, fermentasi secara aerob dan penambahan ekstrak daun pandan. Dengan adanya invensi ini didapatkan produk pupuk organik hayati cair yang berkualitas, mampu mengatasi masalah lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi dari limbah dan meningkatkan produksi tanaman sampai 10%.

Pangan
Sediaan Ektrak Jamur Shiitake Dalam Bentuk Mikroenkapsulasi Dan Proses Pembuatannya

Sediaan Ektrak Jamur Shiitake Dalam Bentuk Mikroenkapsulasi Dan Proses Pembuatannya

Invensi ini berhubungan dengan sediaan yang mengandung ekstrak jamur shiitake (Lentinus edodes) sebagai bahan fortifikasi pangan dan proses pembuatannya, khususnya berupa serbuk mikroenkapsulasi dengan komposisi formulasi berikut: ekstrak shiitake terpurifikasi 1-2 bagian, dekstrin 2 – 4 bagian, dan pelarut air suling 20 – 40 bagian. Suatu proses pembuatan sediaan ektrak jamur shiitake dalam bentuk mikroenkapsulasi terdiri dari tahapan-tahapan menyiapkan jamur shiitake segar dan mengeringkan dengan oven yang dilengkapi sirkulasi udara; mengekstraksi jamur shiitake dengan pelarut air suling; mempresipitasi ekstrak jamur shiitake menggunakan pelarut etanol; mengenkapsulasi ekstrak jamur shiitake terpurifikasi menggunakan metode spray drying atau freeze drying; dan melakukan karakterisasi mutu serbuk mikroenkapsulasi secara fisik, kimia, mapun biologi. Sediaan serbuk mikroenkapsulasi ekstrak jamur shiitake mengandung kadar air sebanyak 4,45 - 7,08%, kadar abu sebanyak 3,45 - 6,94%, polifenol sebanyak 0,45 – 0,47 %, flavonoid sebanyak 0,020 - 0,021 %, polisakarida sebanyak 29,72 – 37,98 %, dan juga memiliki aktivitas antioksidan (penghambatan radikal DPPH 50%) pada konsentrasi sebesar 4314,36 - 4346,26 ppm.