Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berhubungan dengan alat untuk memodifikasi pati yang terkandung dalam bahan tepung yang disebut dengan alat modifikasi pati, alat ini dilengkapi dua buah elektroda yang jaraknya dapat diatur dan disesuaikan. Proses modifikasi pati dilakukan dengan memanfaatkan plasma dingin yang dihasilkan dari sumber listrik bertegangan tinggi melalui dua buah elektroda, jarak antar elektroda dapat diatur dengan dengan menggerakan sebuah batang elektroda secara vertikal dan jarak tersebut dapat dilihat pada sebuah pengukur. Proses modifikasi pati dilakukan pada bahan dengan jumlah dan kadar air tertentu dengan lama perlakuan waktu selama 10-30 menit, hasil modifikasi terbukti dapat merubah sifat fisikokimia dan pasting bahan tepung yang dapat meningkatkan kualitas produk olahan pangan.
Proses produksi tepung sagu termodifikasi secara fisis dengan memberikan perlakuan panas dan tekanan menggunakan teknik ekstrusi. Tepung Sagu termodifikasi ini memiliki sifat rheologic mirip terigu untuk pembuatan kue, mie, roti dan biskuit. Proses produksi tepung sagu termodifikasi dilakukan melalui tahap pencampuran bahan baku pati sagu alami dan air sampai kadar air perlakuan panas 25%-3 0%, proses ekstrusi dengan memberikan dan tekanan pada bahan baku, pengeringan produk, penepungan, dan pengayakan. Invensi ini menghasilkan tepung sagu termodifikasi dengan sifat rheologic, organoleptik, dan fungsional yang mirip terigu dan lebih baik bila dibandingkan dengan tepung sagu alami. Dengan demikian diharapkan tepung sagu termodifikasi ini akan lebih diterima oleh konsumen sehingga industrialisasinya dapat mendukung program diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan dapat mengurangi ketergantungan pada impor gandum U-250 BU.
Invensi ini berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya pakan lokal di dalam pakan komplit untuk meningkatkan bobot badan ternak domba dan sapi. Pakan komplit dibuat dari bahan jerami padi yang difermentasi (65%), tepung daun Tithonia diversifolia (15%), dedak (19%) dan campuran mineral dan vitamin (1%). Pakan komplit ini merupakan jenis pakan yang praktis baik untuk pembuatan maupun pemberian ke ternak. Pakan komplit juga merupakan salah satu cara untuk mengawetkan pakan untuk diberikan pada saat musim panas, sehingga produksi tetap tinggi. Pakan komplit ini sangat cocok dibuat untuk skala perdesaan yang berlimpah jerami dan Tithonia diversifolia. Tithonia diversifolia merupakan tanaman semak atau perdu yang banyak tumbuh di Indonesia, mengandung protein kasar sekitar 25% dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, sehingga sangat potensial menjadi pakan. Pakan komplit mengandung Tithonia diversifolia dan jerami padi fermentasi ini dapat meningkatkan pertambahan bobot badan domba lokal sekitar 76.39 - 78.36 g/ekor/hari dan pertambahan bobot badan domba Garut sekitar 107.14 - 119.05 g/ekor/hari dan sapi PO sekitar 638,75 - 826,17 g/ekor/hari. Pakan komplit ini selain murah juga mudah diterapkan di wilayah perdesaan, sehingga memudahkan peternak untuk memenuhi kebutuhan ternak sapi atau dombanya dengan mudah serta mengandung kualitas yang baik.
Invensi ini mengungkapkan proses pembuatan produk pasta berupa spaghetti berbahan dasar tepung jagung dengan teknologi ekstruksi yang meliputi tahapan sebagai berikut : menimbang tepung jagung, tepung singkong atau tepung lainnya yang terdiri dari tepung mocaf atau tepung sagu atau tepung beras, air, dan garam: mencampurkan tepung jagung dan tepung singkong atau tepung lainnya yang terdiri dari tepung mocaf atau tepung sagu atau tepung beras dengan larutan garam; mengukus adonan; mencetak adonan menggunakan alat ekstrunder sehingga dihasilkan untaian spaghentti; memotong untaian spaghetti; mengangin-anginkan atau tempering; mengeringkan produk; dan mengemas produk spaghetti.
Invensi ini berhubungan dengan suatu proses induksi in vitro tanaman poliploid khususnya yang berasal dari kecambah Artemisia annua L. Hasil yang diperoleh dari proses induksi ini berupa tanaman poliploid yang mengandung kadar artemisinin yang tinggi. Invensi ini lebih lanjut berhubungan dengan peningkatan kadar artemisinin yang jauh lebih tinggi dari tanaman diploidnya. Tahapan proses dari invensi ini meliputi mengecambahkan biji A. annua secara in vitro dengan kolkisin, menginduksi tanaman A. annua hasil perkecambahan, menentukan LD50, menganalisis derajat ploidi dengan flowsitometer, menghitung jumlah kromosom, serta melakukan aklimatisasi. Hasil yang diperoleh melalui proses ini didapatkan tanaman poliploid terseleksi yang memiliki genotip dengan kadar senyawa artemisinin yang lebih tinggi dari tanaman diploidnya.
Tempe dan produk makanan hasil olahan tempe merupakan dunia sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Banyak paten didunia telah dihasilkan baik menyangkut formula, proses, metode maupun produknya tetapi tidak mengarah pada proses untuk aneka rasa dan aroma. Invensi ini berhubungan dengan formula, metode, proses dan produk dari tempe dan hasil olahan tempe yang memiliki aneka rasa dan aroma tertentu. Formula tempe mengandung bahan utama berupa kedelai yang ditambah dengan berupa cabai dan produk olahannya, petai dan produk olahannya, keju dan produk olahannya, bumbu instan gurih dan atau asin, berbagai macam tepung baik tepung ubi kayu, beras maupun terigu, abon baik abon ayam maupun abon sapi yang dikemas dalam wadah plastik atau daun pisang atau daun jati dan difermentasi dengan kapang tempe Rhizopus atau ragi tempe selama 12 - 36 jam pada suhu ruang 30-3200 sehingga didapatkan produk tempe segar dengan rasa dan aroma khas yang siap santap atau hasil olahannya yang memiliki citarasa dan aroma khas sehingga memberikan nilai dan kualitas yang lebih unggul.
Invensi ini berhubungan dengan suatu biskuit dengan bahan dasar dari bahan pangan lokal, khususnya biskuit yang diformulasikan dengan bahan utama ubi jalar putih (Ipomea batatas) dan/atau beras merah (Oryza glaberrima) yang diperuntukkan bagi penderita diabetes. Tujuan invensi ini untuk membuat suatu biskuit untuk penderita diabetes, dengan bahan dasar dari pangan lokal, yaitu ubi jalar putih dan/atau beras merah. Biskuit hasil invensi disusun dengan formulasi yang terdiri dari: tepung ubi jalar putih, tepung beras merah, tepung terigu, inulin, tepung agar, tepung tempe telur, vanili, soda kue, telur, margarin, dan sorbitol. Biskuit menurut invensi ini aman dikonsumsi sebagai sumber energi bagi penderita diabetes karena tidak menyebabkan kenaikan glukosa darah.
Invensi ini mengenai suatu alat tanam, khususnya alat tanam yang memiliki empat buah rangka yang masing-masing dilengkapi dengan bajak tipe singkal. Alat tanam empat baris tipe singkal pada invensi ini terdiri dari rangka dan bajak tipe singkal, yang dicirikan dengan rangka berjumlah empat buah yang pada bagian ujung bawahnya masing-masing dipasang bajak tipe singkal; empat buah rangka dipasang pada suatu poros rangka berbentuk silinder memanjang secara horizontal melalui lubang; setiap bajak tipe singkal memiliki satu buah sayap berupa pelat melengkung yang dipasang menutupi bagian alas bajak tipe singkal; suatu penarik poros rangka dipasang pada bagian tengah poros rangka; suatu logam penguat rangka 1 dipasang pada rangka di salah satu ujungnya dan ujung yang lain dipasang pada penarik poros rangka; suatu logam penguat rangka 2 dipasang pada rangka di salah satu ujungnya dan ujung yang lain dipasang pada penarik poros rangka; suatu pengatur kedalaman dipasang pada bagian atas penarik poros rangka; dan salah satu ujung penarik poros rangka dipasang suatu penyambung poros traktor.
Invensi ini berkaitan dengan makanan padat (food bars) berprotein tinggi yang terbuat dari kacang-kacangan di mana memiliki komposisi: tepung kacang-kacangan dengan 25-40% berat; tepung ubi jalar dengan sebesar-besarnya 1% berat, tepung buah-buahan dengan 10-12% berat; buah-buahan dengan 26-29% berat; margarin dengan 14-18% berat dan garam dengan sebesar-besarnya 1% berat. Makanan padat yang dihasilkan menurut invensi ini memiliki kandungan protein 12-15%; lemak 18-25%; karbohidrat 50-60% ; dan serat kasar 0,5-2,5%.
Telah diungkapkan suatu proses perbanyakan bibit kakao menggunakan teknik kultur ex-vitro dengan tahapan sebagai berikut: a. memilih eksplan dengan kriteria pucuk yang tumbuh pada batang induk yang berumur minimal 5 tahun dalam kondisi sehat, diameter eksplan 0,1 - 1 cm, memiliki tunas pucuk berupa batang dan daun berwarna hijau, b. merendam eksplan dalam larutan formula Broma A yang mengandung bahan aktif Tiamin Hidroksil Klorida 1 – 2 ml per liter secara temporal, c. merendam eksplan pada air mengalir selama 30 menit, d. merendaman eksplan didalam larutan formula Broma B mengandung bahan aktif Propineb 0,2 – 2 gr/l dan Streptomisin sulfat 0,2 – 2 gr/l dan Broma C mengandung bahan aktif Alkilaril poliglikol eter 1 ml/l selama 5 - 15 menit, e. merendam eksplan pada air mengalir selama 15 menit, f. membersihkan bagian bawah eksplan dengan kertas tisu atau kain perca, g. mencelupkan eksplan ke dalam formula Broma D mengandung bahan aktif Asam Indol Butirat 1.000 – 2.500 ppm dan alkohol 50%, h. memberikan pasta di bagian bawah eksplan dengan campuran formula Broma D yang mengandung bahan aktif Asam Indol Butirat 1.000 – 2.500 ppm dan alkohol 50%, i. melakukan penanaman eksplan dalam media tanam, dan j. menumbuhkan eksplan menjadi tanaman dalam lingkungan tumbuh terkendali selama 8 minggu di inkubator.
Invensi ini berhubungan dengan suatu formula starter mengandung Lactobacillus plantarum untuk pembuatan mokaf serta proses pembuatannya. Mokaf dimaksud dalam invensi ini merujuk kepada produk tepung ubi kayu termodifikasi, yang diadaptasikan dari istilah asing, modified cassava flour (mocaf). Formula starter untuk pembuatan mokaf ini terdiri dari Lactobacillus, susu skim bubuk, amilum, carboxy methyl cellulose (CMC), molase, ekstrak khamir, dan jus kulit markisa. Proses pembuatan formula starter mengandung Lactobacillus plantarum untuk pembuatan mocaf meliputi pencampuran semua bahan hingga terlarut, sterilisasi, 15 penambahan Lactobacillus plantarum, dan inkubasi. Formulasi starter menurut invensi ini memiliki jumlah Lactobacillus plantarum sekitar 10^-10^ cfu/ml dan efektif melakukan fermentasi ubi kayu dalam waktu 24 jam.
Invensi ini berkaitan dengan komposisi pelapis bioplastik berbasis Polistirena-akrilat (SA). Tujuan dari invensi ini adalah untuk memperoleh bioplastik yang telah terlapisi oleh pelapis yang mampu menahan air, uap air, sinar UV, dan gas oksigen. Komposisi pelapis adalah kopolimer emulsi stirena-akrilat (SA) dengan kandungan padatan sebesar 46 %, minyak esensial 0 - 3% dan nanoclay 0 - 3 % berat total kandungan padatan SA, sedangkan metode pelapisan bioplastik menggunakan alat rod coater. Produk bioplastik terlapis SA ini memiliki ketebalan lapisan kering dengan rentang 2,42 – 87,42 gsm, nilai WVTR sebesar 212 - 268 g/m².hari, nilai kuat tarik sebesar 2,66 MPa dan 3,67 MPa, nilai elongasi sebesar 97,02 % serta 91,68 %, penolakan sinar UV pada 250-300 nm, nilai OTR sebesar 14,0224 – 17,8182 cm3/(m2.hari). Berdasarkan hasil tersebut, bioplastik yang telah terlapisi SA menggunakan metode rod coater dapat digunakan untuk kemasan aktif pangan.