Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berhubungan dengan suatu formulasi silase komplit untuk pakan ternak ruminansia yang terdiri dari: a) bahan hijauan; b) bahan konsentrat; c) bahan tambahan; dan d) inokulum dan proses pembuatannya serta produk yang dihasilkan dari proses tersebut ditandai dengan kandungan akhir 54-62% kadar air, pH 4,3-4,4 dan kadar protein 7-9%.
Invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan kertas yang tidak tembus air dan minyak sehingga dapat dijadikan bahan kemasan makanan/minuman. Sifat tidak tembus air dan minyak ini dibuktikan melalui percobaan penetesan air/minyak yang dilanjutkan dengan pengamatan tembus air/minyak selama 60 menit dan dilanjutkan dengan pengukuran sudut kontak air. Uji pertama menunjukkan bahwa kertas berlapis minyak kemiri, kedelai, linseed/walnut tidak tembus air dan minyak setelah 60 menit pengamatan. Sudut kontak air pada kertas berlapis tersebut berkisar antara 82-90°, yang menunjukkan tidak tembus air. Rata-rata berat lapisan per 225 cm2 kertas berkisar antara 1.73 – 1.89 g. Sementara ketebalan lapisan sekitar 0.003 – 0.010 mm. Kekuatan dan elastisitas kertas berlapis ini serupa atau lebih tinggi dari kertas tanpa pelapisan. Puncture force-nya adalah 13.59 - 20.57 N dan puncture distance-nya adalah 3.69 – 4.11 mm. Tensile force-nya berkisar antara 25.04 – 26.02 N, sedangkan elongation distance-nya 4.43 – 6.82 mm. Invensi ini mengandalkan reaksi polimerisasi lemak, terutama yang memiliki asam lemak tidak jenuh ganda sehingga membentuk lapisan yang tidak tembus air dan minyak. Pengujian dan karakterisasi kertas berlapis yang dihasilkan mencakup uji tembus air/minyak, morfologi, sudut kontak, FTIR, bobot lapisan, uji puncture, dan uji tensile.
Invensi berhubungan dengan suatu metode produksi 3-O-β-D-galactosyl-sn-glycerol, yaitu senyawa awal penting di dalam sintesis glikolipid, yang berguna bagi industri kosmetik maupun farmasi. Pada invensi ini, senyawa 3-O-β-D-galactosyl-sn-glycerol disintesa dengan menggunakan enzim β-glucosidase dan α-laktosa, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Senyawa 3-O-β-D-galactosyl-sn-glycerol, dan α-laktosa, dikonfirmasi dengan menggunakan LC-HRMS. Invensi ini memiliki kelebihan pada spesifikasi produk, dimana hanya 3-O-β-D-galactosyl-sn-glycerol yang terdeteksi oleh LC-HRMS.
Invensi ini mengungkap mengenai suatu formulasi pembuatan pakan ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang diperkaya dengan asam organik dan produk yang dihasilkannya. Formulasi pakan ikan sebagaimana invensi ini dicirikan dengan adanya campuran asam organik yang memiliki komposisi berupa asam formiat sebanyak 40-50% b/b, asam propionat sebanyak 10-15% b/b, asam sitrat 15-20% b/b dan mineral 20-30% b/b. Produk pakan ikan hasil invensi ini memiliki komposisi nutrien kadar air 9,25%, protein 39,87%, lemak 5,24%, abu 9,43%, serat kasar 8,17% dan BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) 37,29%. Ketika diujikan pada ikan Nila (Oreochromis niloticus), diperoleh perbaikan pertumbuhan melalui peningkatan bobot akhir 11,26 g, panjang akhir 8,67 cm, pertumbuhan mutlak 7,94 g, dan laju pertumbuhan spesifik 2,18 %/hari, selain itu diperoleh juga perbaikan palatibilitas pakan melalui peningkatan jumlah konsumsi pakan individu dengan nilai 7,99 g/ikan, jika dibandingkan dengan pakan ikan Nila tanpa menggunakan invensi.
Invensi ini berhubungan dengan suatu proses pembuatan makanan enteral yang terdiri dari pencampuran tepung ganyong, tepung nasi, tepung tempe-telur, tepung kacang hijau, gula pasir dan margarin dimana tepung ganyong tersebut dibuat melalui tahap-tahapan berikut: a. sortasi umbi ganyong; b. pencucian dengan air; c. perendaman dalam larutan natrium bisulfit 0,15 - 0,35% selama 60 - 90 menit; d. pengukusan pada suhu 95 - 99 derajat celcius selamat 75 - 100 menit; e. pencacahan menjadi potongan yang lebih kecil; f. pengeringan pada suhu 45-55 derajat celcius selama 15 - 20 jam; g. penepungan; dan h. pengayangan dengan ukuran 100-150 mesh, serta formulasi makanan enteral yang terdiri dari 10-20% tepung ganyong (Canna edulis kerr.), 20 - 30% tepung nasi, 15 - 25% pasir, dan 2 - 8% margarin.
Invensi berhubungan dengan mesin panjat pohon, lebih khususnya invensi ini berhubungan dengan mesin panjat, yang dirancang khusus untuk memanjat pohon kelapa bertenaga mesin yang digunakan untuk melakukan panen kelapa. Invensi ini menjelaskan konstruksi invensi dilengkapi keamanan (safety) berlapis seperti rem cakram sebagai primary brake dan juga tersedia secondary brake berupa rakitan pin sebagai stopper pada roda gigi searah, juga dilengkapi dengan lampu dan sirine darurat bila invensi ini mengalami masalah diatas pohon dengan memberitahukan kepada pembantu operator dibawah pohon. Roda penggerak utama dilapisi karet injeksi berprofil berbentuk trapesium untuk menambah daya cengkeram ke batang pohon namun tidak merusak kulit pohon, roda penggerak dan roda penjepit atas serta bawah berbentuk silinder dengan permukaan berbentuk “V” selain untuk menambah luasan bidang kontak roda dengan batang pohon juga agar tidak terlepas dari batang pohon sehingga mesin lebih stabil. Jarak roda penggerak dengan roda penjepit 20cm s.d 40cm agar mesin panjat dapat beroperasi pada berbagai batang pohon dengan diameter sampai dengan 40cm seperti pohon kelapa, pohon pinang dan bahkan tiang pipa, sepanjang batang tersebut tidak terdapat tonjolan seperti bekas potongan pelepah daun. Dengan demikian daya penyesuaian mesin terhadap perubahan lingkungan (portabilitas) cukup tinggi.
Invensi ini mengungkap suatu metode pembuatan serta karakter produk pakan terfermentasi untuk ikan sidat (Anguila spp.) dengan inokulum yang menggunakan konsorsium mikroorganisme. Mikroorganisme sesuai pada invensi ini terdiri dari sekurangkurangnya bakteri Lactobacillus plantarum, bakteri Weissella paramesenteroides, khamir Saccharomyces cerevisiae, kapang Aspergillus oryzae, kapang Mucor sp., kapang Rhizopus oryzae, dan kapang Neurospora intermedia. Metode menurut invensi ini terdiri dari tahapan penyiapan starter mikroorganisme yang berbentuk padat kering yang lalu dilanjutkan dengan tahapan pembuatan pakan dengan cara fermentasi starter tersebut pada substrat tertentu. Produk pakan ikan sidat ini mengandung protein pada pakan mencapai 45% (b/b). Pemberian pakan ini mampu meningkatkan kandungan total energi, protein, DHA, rasa, aroma, dan warna daging pada ikan sidat.
Invensi ini mengungkapkan suatu proses untuk pembuatan monoasil gliserol dengan menggunakan enzim 1,3 regiospesifik yang tertambatkan yang meliputi tahapan-tahapan berikut: a. penimbangan bahan baku minyak sawit; b. penambahan pelarut; c. penambahan enzim; d. pengadukan dan pemanasan; e. pemisahan; dan f. kristalisasi; dimana proses pembuatan monoasil gliserol sesuai dengan perwujudan invensi ini dapat menghasilkan monoasil gliserol dengan kadar yang tinggi dan biaya untuk proses pembuatan produk tersebut adalah rendah karena menggunakan pelarut metanol atau etanol, dan inilah yang merupakan suatu keuntungan dari invensi ini.
Invensi ini secara umum berhubungan dengan suatu formulasi dan proses pengolahan mie gluten free dengan menggunakan printer 3 dimensi serta karakteristik produk yang dihasilkannya. Invensi ini terdiri dari 2 klaim, yaitu (1) Suatu formulasi mie gluten free merupakan material printer 3 dimensi dan (2) proses pengolahan mie gluten free dengan menggunakan printer 3 dimensi. Proses pengolahan mie gluten free meliputi tahap: proses modifikasi 3 dimensi, proses pencetakan mie gluten free dan karakterisasi produk yang dihasilkannya. Suatu produk mie tanpa gluten yang dibuat menggunakan printer dimensi dan setelah dikeringkan dengan oven, mengandung kadar air 4,88-5,94%, kadar abu 0,88- 1,59%, kadar lemak 0,62-1,28%, kadar protein 2,65-3,17%, Kadar karbohidrat 89,55- 89,80% dan energi 375,16-383,40 kkal.
Invensi ini berhubungan dengan suatu metode untuk optimasi pembentukan kalus somatik Embriogenik tebu dan regenerasinya secara in vitro menggunakan eksplant daun muda yang masih menggulung yang diambil dari bagian paling dalam dari pucuk Tebu (Saccharum officinarum L.). Adapun metode optimasinya diawali dengan tahapan sterilisasi eksplant batang tebu, dilanjutkan dengan induksi, proliferasi, maturasi dan regenerasi kalus SE secara in vitro, aklimatisasi di rumah kaca serta konfirmasi stabilitas ploidi tanaman hasil regenerasi kalus SE tebu baik secara in vitro maupun ex vitro . Metode ini bertujuan untuk mendapatkan protokol regenerasi kalus embriogenik tebu yang stabil yang akan diaplikasikan untuk kegiatan rekayasa genetika tebu melalui pengeditan genom.
Rosela seduh atau celup merupakan suatu bahan minuman kesehatan yang terbuat dari kelopak bunga rosela yang difortifikasi dengan cairan sari kelopak bung rosela dengan formulasi perbandingan 70% kelopak bung rosela dan 30% cairan sari kelopak bunga rosela. cairan sari kelopak bunga rosela diperoleh melalui tahapan proses, yakni penyortiran bahan kelopak bunga segar, penyucian dengan air bersih, penirisan, pengirisan, pencampuran air, pemanasan suhu 40-50ºC dan pengepresan. tepung rosela diperoleh melalui proses sebagai berikut penyortiran kelopak bunga rosela, penyucian dengan air bersih, pengeringan suhu 40-50ºC, peremukan atau penghancuran, penyaringan dengan screen 30 mesh. Pengkondisian dilakukan dengan cara yakni bunga rosela dicampur dengan cairan sari kelopak bunga rosela dengan perbandingan 70%:30% hingga homogen, pengeringan suhu 40-50ºC, sterilisasi dan kemudian dikemas dengan menggunakan model pengemasan berupa sachet celup kertas yang aman dari kontaminan dan menjadi suatu bahan minuman siap seduh atau celup yang praktis.
Invensi ini berkaitan dengan suatu formula bahan demulsifier organik food-grade dan proses pembuatannya. Tujuan invensi ini adalah menyediakan formula bahan demulsifier baru yang terbuat dari bahan organik dan food-grade yang dapat digunakan untuk mengurangi kehilangan minyak pada produksi minyak kelapa sawit dan proses pembuatannya. Formula bahan demulsifier organik food-grade -pada invensi ini terdiri dari olein-plus sebanyak 6,5%, polisakarida sebanyak 10%, garam dapur 1%, aluminium sulfat pentahidrat 2%, dan air sebanyak 80,5%. Proses pembuatan demulsifier menyiapkan oleinplus, polisakarida, air, garam dapur dan aluminium sulfat; mencampur olein-plus dan polisakarida yang diproses pada suhu 130 ˚C selama 2 jam; menambahkan garam dapur dan aluminium sulfat pentahidrat dan dilanjutkan pemanasan sampai 6 jam; menambahkan air dan mendinginkannya hingga mencapai suhu ruang; memisahkan cairan demulsifier dari pengotornya.