Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berhubungan dengan suatu metode verifikasi hasil pemisahan sperma betina (X) dan sperma jantan (Y) secara molekuler menggunakan primer Sex-determining region Y (SRY) dan duplex Polimerase Chain Reaction (PCR). Metode verifikasi sperma sexing sapi secara molekuler terdiri dari tahapan ekstraksi DNA sperma sapi hasil pemisahan, amplifikasi DNA dengan duplex PCR dan pengamatan hasil amplifikasi DNA dengan elektroforesis. Metode duplex PCR menggunakan gen SRY (318 bp) dan GAPDH (415 bp) mampu membedakan jenis kelamin dari sampel DNA sperma sapi Simmental dan sapi Bali hasil sexing yaitu sperma X pada kolom BSA (Bovine Serum Albumin) konsentrasi rendah (5%) dan sperma Y pada kolom BSA konsentrasi tinggi (10%), baik pada pemisahan 2 kolom maupun 3 kolom BSA.
Pemanfaatan limbah urin dan bahan organik dari ekstrak kompos mampu meningkatkan ketersediaan N dan C organik bagi tanaman sehingga mampu meningkatkan produktivitas lahan dan produk pertanian. Telah diungkapkan dalam dalam invensi ini formulasi pupuk organik hayati cair berbasis urin terfermentasi yang terdiri dari urin sapi, ekstrak kompos, pupuk organik hayati, molase dan ekstrak daun pandan. Juga diungkapkan dalam invensi ini proses pembuatan pupuk organik tersebut yang terdiri dari tahapan: membuat ekstrak kompos, penambahan dengan urin sapi, penambahan pupuk organik hayati, penambahan molase, fermentasi secara aerob dan penambahan ekstrak daun pandan. Dengan adanya invensi ini didapatkan produk pupuk organik hayati cair yang berkualitas, mampu mengatasi masalah lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi dari limbah dan meningkatkan produksi tanaman sampai 10%.
Invensi ini berhubungan dengan sediaan yang mengandung ekstrak jamur shiitake (Lentinus edodes) sebagai bahan fortifikasi pangan dan proses pembuatannya, khususnya berupa serbuk mikroenkapsulasi dengan komposisi formulasi berikut: ekstrak shiitake terpurifikasi 1-2 bagian, dekstrin 2 – 4 bagian, dan pelarut air suling 20 – 40 bagian. Suatu proses pembuatan sediaan ektrak jamur shiitake dalam bentuk mikroenkapsulasi terdiri dari tahapan-tahapan menyiapkan jamur shiitake segar dan mengeringkan dengan oven yang dilengkapi sirkulasi udara; mengekstraksi jamur shiitake dengan pelarut air suling; mempresipitasi ekstrak jamur shiitake menggunakan pelarut etanol; mengenkapsulasi ekstrak jamur shiitake terpurifikasi menggunakan metode spray drying atau freeze drying; dan melakukan karakterisasi mutu serbuk mikroenkapsulasi secara fisik, kimia, mapun biologi. Sediaan serbuk mikroenkapsulasi ekstrak jamur shiitake mengandung kadar air sebanyak 4,45 - 7,08%, kadar abu sebanyak 3,45 - 6,94%, polifenol sebanyak 0,45 – 0,47 %, flavonoid sebanyak 0,020 - 0,021 %, polisakarida sebanyak 29,72 – 37,98 %, dan juga memiliki aktivitas antioksidan (penghambatan radikal DPPH 50%) pada konsentrasi sebesar 4314,36 - 4346,26 ppm.
Invensi ini berhubungan dengan alat untuk memodifikasi pati yang terkandung dalam bahan tepung yang disebut dengan alat modifikasi pati, alat ini dilengkapi dua buah elektroda yang jaraknya dapat diatur dan disesuaikan. Proses modifikasi pati dilakukan dengan memanfaatkan plasma dingin yang dihasilkan dari sumber listrik bertegangan tinggi melalui dua buah elektroda, jarak antar elektroda dapat diatur dengan dengan menggerakan sebuah batang elektroda secara vertikal dan jarak tersebut dapat dilihat pada sebuah pengukur. Proses modifikasi pati dilakukan pada bahan dengan jumlah dan kadar air tertentu dengan lama perlakuan waktu selama 10-30 menit, hasil modifikasi terbukti dapat merubah sifat fisikokimia dan pasting bahan tepung yang dapat meningkatkan kualitas produk olahan pangan.
Proses produksi tepung sagu termodifikasi secara fisis dengan memberikan perlakuan panas dan tekanan menggunakan teknik ekstrusi. Tepung Sagu termodifikasi ini memiliki sifat rheologic mirip terigu untuk pembuatan kue, mie, roti dan biskuit. Proses produksi tepung sagu termodifikasi dilakukan melalui tahap pencampuran bahan baku pati sagu alami dan air sampai kadar air perlakuan panas 25%-3 0%, proses ekstrusi dengan memberikan dan tekanan pada bahan baku, pengeringan produk, penepungan, dan pengayakan. Invensi ini menghasilkan tepung sagu termodifikasi dengan sifat rheologic, organoleptik, dan fungsional yang mirip terigu dan lebih baik bila dibandingkan dengan tepung sagu alami. Dengan demikian diharapkan tepung sagu termodifikasi ini akan lebih diterima oleh konsumen sehingga industrialisasinya dapat mendukung program diversifikasi pangan berbasis sumberdaya lokal dan dapat mengurangi ketergantungan pada impor gandum U-250 BU.
Invensi ini berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya pakan lokal di dalam pakan komplit untuk meningkatkan bobot badan ternak domba dan sapi. Pakan komplit dibuat dari bahan jerami padi yang difermentasi (65%), tepung daun Tithonia diversifolia (15%), dedak (19%) dan campuran mineral dan vitamin (1%). Pakan komplit ini merupakan jenis pakan yang praktis baik untuk pembuatan maupun pemberian ke ternak. Pakan komplit juga merupakan salah satu cara untuk mengawetkan pakan untuk diberikan pada saat musim panas, sehingga produksi tetap tinggi. Pakan komplit ini sangat cocok dibuat untuk skala perdesaan yang berlimpah jerami dan Tithonia diversifolia. Tithonia diversifolia merupakan tanaman semak atau perdu yang banyak tumbuh di Indonesia, mengandung protein kasar sekitar 25% dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, sehingga sangat potensial menjadi pakan. Pakan komplit mengandung Tithonia diversifolia dan jerami padi fermentasi ini dapat meningkatkan pertambahan bobot badan domba lokal sekitar 76.39 - 78.36 g/ekor/hari dan pertambahan bobot badan domba Garut sekitar 107.14 - 119.05 g/ekor/hari dan sapi PO sekitar 638,75 - 826,17 g/ekor/hari. Pakan komplit ini selain murah juga mudah diterapkan di wilayah perdesaan, sehingga memudahkan peternak untuk memenuhi kebutuhan ternak sapi atau dombanya dengan mudah serta mengandung kualitas yang baik.
Invensi ini mengungkapkan proses pembuatan produk pasta berupa spaghetti berbahan dasar tepung jagung dengan teknologi ekstruksi yang meliputi tahapan sebagai berikut : menimbang tepung jagung, tepung singkong atau tepung lainnya yang terdiri dari tepung mocaf atau tepung sagu atau tepung beras, air, dan garam: mencampurkan tepung jagung dan tepung singkong atau tepung lainnya yang terdiri dari tepung mocaf atau tepung sagu atau tepung beras dengan larutan garam; mengukus adonan; mencetak adonan menggunakan alat ekstrunder sehingga dihasilkan untaian spaghentti; memotong untaian spaghetti; mengangin-anginkan atau tempering; mengeringkan produk; dan mengemas produk spaghetti.
Invensi ini berhubungan dengan suatu proses induksi in vitro tanaman poliploid khususnya yang berasal dari kecambah Artemisia annua L. Hasil yang diperoleh dari proses induksi ini berupa tanaman poliploid yang mengandung kadar artemisinin yang tinggi. Invensi ini lebih lanjut berhubungan dengan peningkatan kadar artemisinin yang jauh lebih tinggi dari tanaman diploidnya. Tahapan proses dari invensi ini meliputi mengecambahkan biji A. annua secara in vitro dengan kolkisin, menginduksi tanaman A. annua hasil perkecambahan, menentukan LD50, menganalisis derajat ploidi dengan flowsitometer, menghitung jumlah kromosom, serta melakukan aklimatisasi. Hasil yang diperoleh melalui proses ini didapatkan tanaman poliploid terseleksi yang memiliki genotip dengan kadar senyawa artemisinin yang lebih tinggi dari tanaman diploidnya.
Tempe dan produk makanan hasil olahan tempe merupakan dunia sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Banyak paten didunia telah dihasilkan baik menyangkut formula, proses, metode maupun produknya tetapi tidak mengarah pada proses untuk aneka rasa dan aroma. Invensi ini berhubungan dengan formula, metode, proses dan produk dari tempe dan hasil olahan tempe yang memiliki aneka rasa dan aroma tertentu. Formula tempe mengandung bahan utama berupa kedelai yang ditambah dengan berupa cabai dan produk olahannya, petai dan produk olahannya, keju dan produk olahannya, bumbu instan gurih dan atau asin, berbagai macam tepung baik tepung ubi kayu, beras maupun terigu, abon baik abon ayam maupun abon sapi yang dikemas dalam wadah plastik atau daun pisang atau daun jati dan difermentasi dengan kapang tempe Rhizopus atau ragi tempe selama 12 - 36 jam pada suhu ruang 30-3200 sehingga didapatkan produk tempe segar dengan rasa dan aroma khas yang siap santap atau hasil olahannya yang memiliki citarasa dan aroma khas sehingga memberikan nilai dan kualitas yang lebih unggul.
Invensi ini berhubungan dengan suatu biskuit dengan bahan dasar dari bahan pangan lokal, khususnya biskuit yang diformulasikan dengan bahan utama ubi jalar putih (Ipomea batatas) dan/atau beras merah (Oryza glaberrima) yang diperuntukkan bagi penderita diabetes. Tujuan invensi ini untuk membuat suatu biskuit untuk penderita diabetes, dengan bahan dasar dari pangan lokal, yaitu ubi jalar putih dan/atau beras merah. Biskuit hasil invensi disusun dengan formulasi yang terdiri dari: tepung ubi jalar putih, tepung beras merah, tepung terigu, inulin, tepung agar, tepung tempe telur, vanili, soda kue, telur, margarin, dan sorbitol. Biskuit menurut invensi ini aman dikonsumsi sebagai sumber energi bagi penderita diabetes karena tidak menyebabkan kenaikan glukosa darah.
Invensi ini mengenai suatu alat tanam, khususnya alat tanam yang memiliki empat buah rangka yang masing-masing dilengkapi dengan bajak tipe singkal. Alat tanam empat baris tipe singkal pada invensi ini terdiri dari rangka dan bajak tipe singkal, yang dicirikan dengan rangka berjumlah empat buah yang pada bagian ujung bawahnya masing-masing dipasang bajak tipe singkal; empat buah rangka dipasang pada suatu poros rangka berbentuk silinder memanjang secara horizontal melalui lubang; setiap bajak tipe singkal memiliki satu buah sayap berupa pelat melengkung yang dipasang menutupi bagian alas bajak tipe singkal; suatu penarik poros rangka dipasang pada bagian tengah poros rangka; suatu logam penguat rangka 1 dipasang pada rangka di salah satu ujungnya dan ujung yang lain dipasang pada penarik poros rangka; suatu logam penguat rangka 2 dipasang pada rangka di salah satu ujungnya dan ujung yang lain dipasang pada penarik poros rangka; suatu pengatur kedalaman dipasang pada bagian atas penarik poros rangka; dan salah satu ujung penarik poros rangka dipasang suatu penyambung poros traktor.
Invensi ini berkaitan dengan makanan padat (food bars) berprotein tinggi yang terbuat dari kacang-kacangan di mana memiliki komposisi: tepung kacang-kacangan dengan 25-40% berat; tepung ubi jalar dengan sebesar-besarnya 1% berat, tepung buah-buahan dengan 10-12% berat; buah-buahan dengan 26-29% berat; margarin dengan 14-18% berat dan garam dengan sebesar-besarnya 1% berat. Makanan padat yang dihasilkan menurut invensi ini memiliki kandungan protein 12-15%; lemak 18-25%; karbohidrat 50-60% ; dan serat kasar 0,5-2,5%.