Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berkaitan dengan suatu sistem otomatis berbasis jaringan untuk mengkalibrasi pengukur curah hujan tipe cawan berjungkit dan memiliki desain yang kompak sehingga memiliki tingkat portabilitas yang tinggi. Sistem ini terdiri dari tiga subsistem, yaitu suatu unit kalibrator (1), suatu unit pengolah dan penyaji data kalibrasi (2), dan suatu unit pencetak sertifikat kalibrasi (3). Unit kalibrator (1) terdiri dari tabung silinder (11) yang dilengkapi dengan pipa celup (111), sensor air (12), sensor suhu (13), sensor kelembapan (14), pompa (15), flowmeter (16), data logger, dan catu daya. Tabung silinder (11) diisikan air menggunakan pipa celup (111) atau pompa (15) pada saat pra-kalibrasi. Kemudian pada saat kalibrasi, air mengalir dari tabung silinder (11) ke IUT (A) melalui kanal (110), flowmeter (16) dan data logger sebelum akhirnya menuju IUT (A). Metode kerja sistem ini meliputi tahapan: melepaskan kabel data pada IUT agar tidak mempengaruhi proses pengukuran curah hujan sebelumnya; membersihkan permukaan IUT; meletakkan unit kalibrator di atas IUT; menggelontorkan air dari unit kalibrator ke IUT; menghubungkan IUT dengan unit kalibrator; memasukkan parameter data IUT ke unit pengolah dan penyaji data kalibrasi; mengalirkan air ke dalam tabung silinder; melakukan proses kalibrasi untuk intensitas curah hujan rendah, sedang, atau tinggi; meneteskan air melalui pipet ke cawan berjungkit pada IUT; mengulangi proses kalibrasi hingga beberapa kali, lebih disukai empat kali; memeriksa hasil kalibrasi di unit pengolah dan penyaji data kalibrasi; mengirim data hasil kalibrasi ke unit pencetak kalibrasi; mencetak hasil kalibrasi; dan melepaskan unit kalibrator dari IUT.
Invensi ini berkaitan dengan metode produksi dan aplikasi pupuk hayati untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi yang ditanam pada lahan terpapar kering. Pupuk hayati yang dikembangkan pada invensi ini memiliki bahan aktif berupa jamur Aspergillus niger yang dikombinasikan dengan bahan pembawa berupa zeolit dan hidrogel. Perbanyakan inokulan jamur Aspergillus niger dilakukan menggunakan bahan baku media yang murah yaitu, 0,1% molase selama 14 hari. Proses pembuatan pupuk hayati ini dilakukan dengan cara mencampur 150 ml inokulan cair jamur Aspergillus niger dengan 1 kg zeolit steril. Setelah dikering anginkan, kemudian dicampur dengan tepung hidrogel dengan perbandingan 1:0,02. Penggunaan formula pupuk hayati pada invensi ini mampu meningkatkan produktivitas padi varietas mekongga sekitar 80% sampai 95% pada lahan terpapar kering.
Invensi ini berkaitan dengan formulasi dan pembuatan kapsul enkapsulan ekstrak buah mengkudu dengan isian serbuk halus berwarna coklat muda yang berbau khas buah mengkudu berasa sedikit asam dengan kadar skolopetin 0,14±0,03% yang dapat digunakan sebagai antihipertensi. Kekhususan dari invensi ini adalah proses ekstraksi dilakukan dengan metoda maserasi-perkolasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak kental yang diperoleh dikeringkan melalui proses spray dryer dengan penambahan maltodekstrin sebagai bahan penyalut sehingga terbentuk serbuk enkapsulan ekstrak. Formula kapsul buah mengkudu terdiri dari ekstrak buah mengkudu, talk, magnesium stearat, carbosil, mikro kristalin selulosa, sodium starch gluconate.
Melanin merupakan zat pigmen gelap/hitam pada kulit, rambut, dan mata, serta berfungsi sebagai perlindungan terhadap paparan sinar ultraviolet. Namun, produksi sintesis melanin berlebih (hiperpigmentasi) dapat menggelapkan kulit berupa noda gelap (dark spot). Cara alternatif untuk mencerahkan kulit adalah dengan menghilangkan pigmen melanin yang telah terbentuk. Melanin dapat didegradasi oleh enzim lakase ekstraseluler yang diproduksi kapang jamur pelapuk putih (white-rot fungi). Dalam studi ini, dilakukan optimasi produksi enzim lakase menggunakan media food-grade organik menggunakan kapang jamur Hypsizygus ulmarius. Diperoleh hasil optimum produksi lakase adalah Ketika menggunakan media beras merah organik konsentrasi 5% dan waktu inkubasi 15 hari. Proses pemekatan dan pemurnian dilakukan dengan tahapan sentrifugasi, ultrafiltrasi dengan Amicon-ultra with molecular cut-off 50KDa, dilanjut dengan filtrasi menggunakan filter hydrophilic ±0.2 μM, diperoleh enzim lakase murni dengan bobot molekul ±60 KDa. Pengujian analisis in vitro degradasi melanin menunjukkan efektivitas enzim ini dalam mendegradasi melanin, dengan menggunakan zat mediator asam galat 0.05 mM. Formulasi toner skincare berbasis enzim lakase Hypsizygus ulmarius sudah berhasil diformulasikan.
Suatu formula antimikroba berbasis herbal dan lisozim termodifikasi yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri resisten antimikroba. Komposisi herbal adalah bawang putih 50%,jahe merah 25%,kunyit 12,5%, lempuyang 12,5%. Lisozim termodifikasi yang digunakan adalah konsentrasi 0,001%. Formula herbal dan lisozim termodifikasi dibuat dengan perbandingan 1:1 (v/v). Proses pembuatan herbal dilakukan dengan pencucian sampai bersih semua bahan tanpa dikupas kulitnya, kecuali bawang putih. Masing-masing bahan herbal dirajang dan dikeringkan. Simplisia herbal yang diperoleh digiling secara terpisah dan diayak sehingga dihasilkan serbuk berukuran 50-60 mesh. Pembuatan lisozim termodifikasi dilakukan dengan melarutkan lisozim dalam PBS konsentrasi 0,001% dan dihidrolisis pada suhu 90oC selama 20 menit menggunakan waterbath sambil digoyang secara berkala setiap 5 menit. Hasil hidrolisis tersebut disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15-20 menit. Supernatan dikoleksi sebagai lisozim termodifikasi. Hasil uji menunjukkan bahwa herbal, lisozim termodifikasi serta formula herbal dan lisozim termodifikasi efektif menghambat pertumbuhan bakteri E. coli, Salmonella sp. dan S. aureus yang resisten terhadap penicillin, streptomycine, collistine sulfat, cefotaxime, dan enrofloxacine.
Invensi ini berkaitan dengan suatu suatu formula media produksi dan proses produksi enzim lakase dari jamur pelapuk putih Trametes hirsuta EDN 082 menggunakan sistem fermentasi terendam. Telah diungkapkan dalam invensi ini suatu formulasi media produksi enzim lakase, yang terdiri dari dari isolat jamur Trametes hirsuta EDN 082 dalam jumlah 5- 10% (v/v); tandan kosong kelapa sawit dalam konsentrasi 0,1-1% (b/v); glukosa dalam konsentrasi 2,5-6,5% (b/v); yeast ekstrak dalam konsentrasi 0,5-4,5% (b/v); CuSO4 dalam konsentrasi 0,025-0,125% (b/v) dan konstituen lainnya (b/v) 0,2% KH2PO4, 0,05% MgSO4·7H2O, 0,01% CaCl2·2H2O, 0,05% KCl, dan 0,05% tiamin. Juga telah diungkapkan proses produksi enzim lakase melalui sistem fermentasi terendam dilakukan dalam beberapa tahapan proses meliputi perbanyakan kultur jamur; penginokulasian kultur jamur ke dalam substrat; inkubasi substrat; dan pemisahan produk yang dihasilkan. Enzim lakase yang dihasilkan melalui proses tersebut memiliki aktivitas enzim sebesar 8412,7 U/L.
Invensi ini berkaitan dengan vaksin yang mengandung isolat Edwardsiella ictaluri serta metode pembuatannya, khususnya vaksin yang mengandung tiga isolat Edwardsiella ictaluri dari daerah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, dan polisakarida astragalus, serta metode pembuatannya sedemikian hingga dihasilkan vaksin yang dapat meningkatkan respon kekebalan spesifik dari ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) terhadap multiinfeksi patogen Edwardsiella ictaluri. Vaksin menurut invensi ini mengandung isolat bakteri Edwardsiella ictaluri PJbH, Edwardsiella ictaluri P, dan isolat bakteri Edwardsiella ictaluri PBm1G yang terinaktivasi formaldehida, Phosphat Buffer Saline (PBS) steril; dan larutan polisakarida astragalus 0,5% dalam NaCL steril. Vaksin tersebut dibuat melalui tahapan melakukan stabilisasi isolat bakteri, mengkultur isolat bakteri, melakukan pemanenan sel bakteri, melarutkan sel hasil panen dalam Phosphate Buffered Saline, melakukan inaktivasi sel utuh bakteri, menyimpan larutan bakteri pada suhu 2-4oC, melakukan sentrifusi larutan sel bakteri inaktif, membuat larutan polisakarida astragalus, melarutkan pelet sel bakteri inaktif dalam larutan polisakarida astragalus, mencampurkan masing - masing larutan stok vaksin bakteri dan menyimpan larutan vaksin suhu 2-4ºC hingga digunakan. vaksin menurut invensi ini mampu meningkatkan respon kekebalan spesifik dari ikan patin terhadap multiinfeksi patogen Edwardsiella ictaluri dengan nilai RPS hingga sebesar 91,67%
Invensi ini berkaitan dengan vaksin bivalen kering beku berpenyalut alginat serta metode pembuatannya. Vaksin bivalen kering beku menurut invensi ini mengandung bakteri Streptococcus agalactiae strain N14G, bakteri Aeromonas hydrophila strain AHL0905-2, penyalut berupa alginat, dan penstabil berupa DL- Dithiothreitol. Vaksin tersebut dibuat dengan metode pembuatan vaksin bivalen kering beku melalui tahapan membiakkan sel bakteri, melakukan pemanenan masing - masing sel bakteri, mengumpulkan masing - masing sel bakteri, melakukan inaktivasi masing - masing sel bakteri, mencampur larutan sel bakteri, melakukan sentrifugasi larutan bakteri, melarutkan pelet sel utuh bakteri dalam garam steril yang mengandung DL-Dithiothreitol, menambahkan alginat, melakukan pengeringan beku, dan menyimpan vaksin bivalen kering beku. Vaksin bivalen kering beku menurut invesi ini dapat meningkatkan level perlindungan terhadap infeksi tunggal maupun ko-infeksi bakteri A. hydrophila dan S. agalactiae dengan nilai RPS hingga mencapai 80%.
Invensi ini berkaitan dengan modifikasi cuaca melalui penyemaian awan-awan cumulus di daerah tropis (penyemaian awan hangat) untuk meningkatkan curah hujan dengan cara pembakaran suar yang mengandung partikel-partikel higroskopis yang bertindak sebagai inti kondensasi untuk pembentukan butir-butir air hujan. Suar penyemai awan dipasang pada rak eksternal (mounting rack) pewawat dan suar dinyalakan langsung di bawah awan saat pesawat melintas di bawah formasi awan tersebut. Selanjutnya partikel-partikel garam higroskopis yang dihasilkan dari pembakaran suar dapat meningkatkan laju pembentukan butir-butir air hujan di dalam formasi awan melalui mekanisme koalesensi. Komposisi suar penyemai awan higroskopis untuk modifikasi cuaca pada invensi ini terdiri dari bahan oksidator berupa kalium perklorat (KClO4), bahan fuel berupa magnesium (Mg), bahan pewarna api berupa litium karbonat (Li2CO3), bahan garam higroskopis berupa natrium klorida (NaCl), dan bahan pengikat berupa shellac. Hasil pembakaran komposisi suar penyemai awan higroskopis pada invensi ini berupa partikel-partikel garam higroskopis yang terdiri dari NaCl, KCl, dan MgCl2 dengan rentang ukuran partikel sebesar 0,7 hingga 3,3 mikrometer yang bertindak sebagai inti kondensasi di dalam awan yang dimodifikasi.
Blade drone yang didesain digunakan sebagai drone penyiraman untuk tanaman bawang merah varietas Batu Ijo dan Birma, dimana saat drone diaplikasikan pada tanaman downwashnya (sapuan anginnya) tidak akan merusak tanaman bawang merah varietas Batu Ijo dan Birma. Blade drone yang didesain merupakan Hexa-drone dimana drone terdiri dari 6 propeller, setiap propeller terdiri dari 8 blade dengan airfoil NACA 4415.
Invensi ini berhubungan dengan kit deteksi virus DNA penyebab meningitis dan penggunaannya, khususnya kit deteksi untuk digunakan pada real time Polymerase Chain Reaction (PCR). Kit menurut invensi ini terdiri dari primer HSV1-2F, primer HSV1-2R, probe HSV1-2 , primer HHV3F , primer HHV3-R , probe HHV3 , primer EBV4-F , primer EBV4-R, probe EV4, primer CMV-F, primer CMV-R, probe CMV, primer BetaG-F, primer BetaG-R, probe BetaG, campuran reagen PCR multiplex, dan air bebas DNAse dan nuklease. Kit deteksi digunakan dalam metode deteksi virus DNA penyebab meningitis menggunakan real time PCR multiplex dengan kondisi proses pra-denaturasi pada suhu 95°C selama 3 menit; denaturasi pada suhu 95°C selama 3O detik; annealing pada suhu 61°C selama 45 detik; dan ekstensi pada suhu 75 °C selama 15 detik. Kit deteksi virus DNA penyebab meningitis dapat mendeteksi virus DNA penyebab meningitis berupa human simplex virus 1 dan 2, human herpes virus 3, Epstein-Barr virus, dan Cytomegalovirus
Invensi ini mengungkapkan proses pembuatan jeli antioksidan berbahan dasar buah R. fraxinifolius yang terdiri dari tahap pengeringan buah, ekstraksi etanol dan air, serta formulasi jeli. Proses pengeringan menggunakan metode pengeringan beku hingga kadar air 5-10%. Ekstraksi dilakukan dengan dua metode: menggunakan pelarut etanol food grade (ekstrak antioksidan) dan air (ekstrak pewarna alami). Ekstrak etanol mengandung fenol total 400-500 mg GAE/g ekstrak kering, flavonoid total 12-20 mg QE/g ekstrak kering, dan vitamin C 800-850 mg/100 g, sedangkan ekstrak air mengandung antosianin total 50-70 mg/100 g. Produk jeli diformulasi dengan bahan pengental seperti karagenan, konjac, dan gum, serta memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 450-550 μg/ml. Jeli ini menawarkan solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan antioksidan masyarakat.