Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berhubungan dengan formulasi suatu kukis atau kue kering dengan bahan dasar dari bahan pangan lokal, khususnya kukis yang diformulasi dengan bahan utama tepung sorgum dan ekstrak kulit manggis untuk meningkatkan nilai fungsional terutama antioksidan dan antidiabetesnya. Kukis sorgum hasil invensi ini disusun dengan formulasi yang terdiri dari: tepung sorgum, tepung terigu dan ekstrak kulit manggis sebagai bahan utama, dan bahan pendukung lainnya, meliputi mentega, telur, gula pasir, garam, dan baking powder. Produk kukis sorgum dengan campuran ekstrak kulit manggis yang dihasilkan memiliki aktivitas antioksidan 12,19-15,61% pada konsentrasi 800 ppm; memiliki kandungan total fenol 1701-2460 mg GAE/g, dan memiliki aktivitas antidiabetes 97,1-97,5%.
Invensi ini berkaitan dengan suatu metode aklimatisasi planlet Stevia melalui stek mikro pucuk dan buku hasil kultur jaringan. Tahapan-tahapan metode menurut invensi ini yaitu: menyiapkan eksplan sumber stek mikro, menyiapkan media tanam berupa boks plastik mika kemudian mengisinya dengan media tanam, menyiapkan stek mikro yaitu tunas pucuk dan buku, menanamnya pada media tanam, melakukan pemeliharaan di dalam ruang inkubasi, menyiapkan media aklimatisasi di nursery, melakukan aklimatisasi di nursery dan memelihara planlet hingga siap tanam di lapangan. Metode aklimatisasi Stevia menurut invensi ini memiliki tingkat keberhasilan sebesar 64-91%. Tanaman Stevia hasil aklimatisasi menurut invensi ini dapat ditanam di lapangan setelah dipelihara selama 2 bulan untuk menghasilkan bibit yang siap ditanam di lapangan.
Media tanam organik lembaran pencegah erosi berfungsi sebagai penutup tanah dan media tanam pada tanah terbuka akibat kegiatan pemotongan tanah maupun penimbunan. Media tersebut terdiri dari lembaran media tanam lentur (2) berbahan organik yang dipadatkan disambungkan secara bergantian dengan lembaran media tanam (1) berbahan organik yang dipadatkan dilengkapi dengan takikan pada sisi memanjangnya sebagai penempatan benih salut pupuk dan mikroba(4) dan pasak(5). Benih salut pupuk dan media(2) berupa butiran benih yang penempatannya di takikan media tanam(1) dilakukan dengan penebaran pada saat media tanam(1) telah terpasang. Pasak (5) berbahan organik ditempatkan pada takikan(3) pada saat pemasangan media tanam(1) yang berfungsi untuk menahan media tanam (1) agar tidak bergeser dari tempatnya. Takikan(3) berbentuk segitiga diletakkan pada sisi memanjang di bagian atas media tanam(1) untuk penempatan benih salut pupuk dan mikroba serta sebagai jebakan sedimen. Takikan(3) bagian bawah media tanam(1) digunakan untuk penempatan benih salut pupuk dan media (2), sebagai jebakan sedimen dan sebagian untuk penempapan pasak (3).
Invensi ini berkaitan dengan prosedur penyimpanan diapause telur ulat sutra B. mori L. bivoltin dengan satu tahap pendinginan menggunakan suhu rendah (hibernasi buatan) selama 70 hari, dengan tetap menghasilkan kualitas telur dan kokon yang baik. Prosedur metode yang dilakukan berawal dari penyimpanan telur yang baru dihasilkan (oviposition) pada kondisi suhu 25°C selama 1 hari kemudian dimasukkan ke dalam cold storage suhu 5°C selama 69 hari; kemudian menyimpan dalam ruangan dengan temperatur 25°C selama 3 jam; mencelupkan ke dalam HCl ; selanjutnya dimasukkan ke dalam ruang inkubasi sampai menetas. Hasil pengujian dan observasi menunjukkan telur menetas lebih serempak dan lebih cepat dengan persentase penetasan yang tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode invensi memberikan hasil kokon dengan kualitas yang lebih baik.
Invensi ini berkaitan dengan suatu set marka molekular snap berbasis gen TBL3-like untuk identifikasi jenis kelamin tanaman salak (Salacca zalacca). Proses identifikasi jenis kelamin tanaman salak (Salacca zalacca) menggunakan marka molekular SNAP berbasis gen TBL3-like dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: (a) melakukan ekstraksi DNA, (b)membuat campuran reaksi PCR dengan (c) memasukkan tube berisi campuran larutan PCR dengan ke dalam mesin thermocycler, (d) menjalankan mesin thermocycler, (e) memvisualisasikan hasil PCR dengan elektroforesis.
Invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan dan produk minuman kesehatan berbahan dasar daging lidah buaya (Aloe vera) dengan penambahan madu klanceng (Kelulut). Madu Klanceng yang digunakan dalam produk minuman ini berupa madu dari spesies lebah tanpa sengat atau lebah Kelulut baik dari spesies Tetragonula laeviceps maupun Heterotrigona itama. proses pembuatan minuman sari lidah buaya dibuat dengan tahapan yaitu memotong dadu daging lidah buaya, merebus potongan daging lidah buaya, meniriskan, menghancurkan, menambahkan air matang, menambahkan madu klanceng dan atau gula batu, merebus campuran jus lidah buaya dan mengemas. Produk minuman Aloe vera mengandung madu klanceng menghasilkan produk minuman dengan kemampuan meningkatkan pertumbuhan bakteri probiotik asam laktat hingga 50–60% yang baik untuk kesehatan saluran cerna dan dan meningkatkan masa simpan produk 11–27 hari lebih lama pada suhu 30ºC dan 9–25 hari lebih lama pada suhu 25ºC dibandingkan tanpa penambahan madu klanceng.
Invensi ini berkaitan dengan proses pembuatan tepung tulang ikan patin dan tuna dengan metode fisik tanpa solvent/enzim terdiri dari tahapan proses penulangan, pencucian, perebusan, pembersihan, pengecilan ukuran, pembilasan, penirisan, pelunakan, pengecilan ukuran, penghalusan, pembuatan pasta, pengeringan, pengayakan yang menghasilkan karakteristik tepung tulang ikan patin dengan karakteristik berupa derajat keputihan 88,85; kadar air 3,525%; kadar abu 54,340%; kadar protein 19,795%; kadar lemak 11,58%; kadar karbohidrat 14,29%; ukuran partikel 639,65 nm; Ca 44,9415%; P 12,5735%; K 0,1815%; Na 0,4615% dan Mg 0,5415% dan karakteristik tepung tulang ikan tuna berupa derajat keputihan 72,02; kadar air 3,645%; kadar abu 53,617%; kadar protein 21,591%; kadar lemak 7,05%; kadar karbohidrat 15,12%; dan ukuran partikel 555,8 n;, Ca 43,177%; P 12,4315%; K 0,2065%; Na 0,3975%; Mg 0,5115%.
Invensi ini berupa suatu metode dan alat untuk sterilisasi dan pengawetan buah dan sayur menggunakan plasma dingin, dengan perwujudan peralatan terdiri dari chamber yang dilengkapi dengan mikrokontroler sebagai pengendali utama kontrol otomatis, unit pembangkit ozon yang didalamnya terdapat reaktor plasma dingin untuk menghasilkan proses oksidasi ozon, kipas pendorong, kipas sirkulasi, kompresor, sensor suhu dan sensor ozon serta metode kendali menggunakan modulasi lebar pulsa dan umpan balik terukur, sehingga menghasilkan konsentrasi ozon dan besaran nilai suhu yang dapat diatur dan dikontrol sebagai sterilisasi dan pengawetan buah dan sayur yang aman untuk dikonsumsi dengan proses melalui tahapan sensor ozon membaca kadar ozon dan sensor suhu membaca besaran nilai suhu dalam chamber; mikrokontroler sebagai pengendali utama menghitung selisih kadar ozon dan suhu didalam chamber dan nilai acuan yang ditentukan lalu menghasilkan sinyal pulsa sebagai keluaran; keluaran sinyal pulsa sebagai masukan untuk reaktor plasma dan kompresor dalam menghasilkan kadar ozon dan besaran suhu sesuai nilai acuan; dan sensor membaca kembali kadar ozon dan suhu dalam chamber hingga berada pada rentang toleransi +5 persen sampai dengan -5 persen dari nilai acuan.
Peralatan pengering benih setelah pelapisan pupuk, mokroba dan/atau obat-obatan dengan konfigurasi seperti pada gambar 1 di mana bak pengering (1) merupakan tempat benih yang akan dikeringkan dengan dasar bak menyerupai saringan yang dapat menahan benih tetapi meloloskan udara yang berasal dari root blower (4). Selanjutnya unit dehumidifier (2) menghisap udara yang berasal dari bak pengering (1) dan dikeluarkan menuju root blower (4), uap air yang tertangkap dari udara diembunkan dan dikeluarkan melalui saluran pembuang air (3), root blower (4) berfungsi menambah tekanan udara kering keluaran dari dehumidifier (2) agar mampu menembus tumpukan benih menuju hisapan dehumidifier (2). Pemanas (5) berfungsi meningkatkan temperatur untuk meningkatkan kecepatan pengeringan benih dipasang pada mulut keluaran root blower (4) dimana tingginya temperatur diatur antara 35 sampai 60 derajat Celsius oleh termostat (6).
Invensi ini berhubungan dengan bumbu pasta serbuk sumber protein dan proses pembuatannya yang dicirikan dengan proses pembusaan (foaming). Bumbu pasta serbuk pada invensi ini berbahan baku bumbu pasta basah dan serbuk daging sapi sedemikian hingga menghasilkan bumbu pasta serbuk yang memiliki kadar protein sebesar 16,72%. Komposisi bumbu pasta serbuk sumber protein terdiri dari konsentrat tomat sebanyak 31,42%, bawang bombai bubuk sebanyak 1,26%, bawang putih bubuk sebanyak 1,26%, garam sebanyak 1,89%, merica bubuk sebanyak 0,47%, oregano bubuk sebanyak 0,31%, xanthan gum 2% sebanyak 31,42%, magnesium karbonat sebanyak 0,25%, asam cuka sebanyak 0,31%, air sebanyak 31,42%; larutan CMC 3% sebanyak 0,30%, putih telur sebanyak 8,23%; serbuk daging sapi sebanyak 6,25%, dan gula pasir halus sebanyak 31,25%. Proses pembuatan bumbu pasta serbuk meliputi pembuatan bumbu pasta basah, pembuatan campuran bumbu pasta busa, pengeringan campuran bumbu pasta busa bahan B, pengkondisian bumbu pasta kering pada freezer selama 24 jam, penggilingan bumbu
Invensi ini berhubungan dengan proses pelarutan asam nonanoat dalam pelarut berbasis air. Lebih khusus, invensi ini berkaitan proses pelarutan asam nonanoat sebagai herbisida alami dalam pelarut berbasis air tanpa menggunakan surfaktan tambahan. Tahapan proses pelarutan terdiri dari pembuatan larutan NaCl pH dalam NaOH; pemanasan larutan pada suhu 50-60oC; penambahan asam nonanoat 0,5-3%; sonikasi larutan selama 30-60 menit; pengadukan larutan; pendinginan; dan dilanjutkan dengan penetralan larutan. Invensi ini memiliki keunggulan karena proses pelarutan asam nonanoat tidak memerlukan bahan kimia yang kompleks dan larutan ini dapat diaplikasikan langsung sebagai herbisida alami.
Invensi ini berhubungan dengan formula agen pembusa dan metode pengeringan busa pada fikosianin dari Spirulina sp. Proses pengeringan busa fikosianin menurut invensi ini meliputi proses ekstraksi fikosianin dari Spirulina sp. dan proses pengeringan busa pada fikosianin cair. Karakteristik serbuk fikosianin kering antara lain rendemen fikosianin 26,62- 38,96%, aktivitas air: 0,52-0,60; kadar air: 5,71-7,57%; water soluble index (WSI): 80,82-87,70%.