Eksplorasi skema RIIM dan pendanaan lainnya
Sistem telekomunikasi Internet of Things (IoT) adalah integrasi perangkat dan teknologi yang memungkinkan pengumpulan, pertukaran, dan analisis data secara otomatis dan efisien melalui jaringan telekomunikasi. Sistem ini menghubungkan berbagai perangkat fisik, sensor, dan aktuator melalui internet, yang kemudian saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas berbagai operasi. Konsep dasar sistem telekomunikasi IoT terlihat pada Gambar 1. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang komponen dan fungsi dari sistem telekomunikasi cerdas berbasis IoT. Gambar 1. Konsep dasar sistem telekomunikasi IoT (Sumber: https://www.myspsolution.com/home)Beberapa komponen utama dalam pembangunan sistem telekomunikasi IoT ini adalah sebagai berikut:Perangkat IoT , yaitu Sensor dan AktuatorKonektivitas: Koneksi jaringan transmisi data yang dikumpulkan bisa menggunakan berbagai teknologi komunikasi seperti Wifi, Bluetooth, Zigbee, LTE, dan jaringan 5G untuk menghubungkan perangkat IoT ke internet dan satu sama lain.Platform IoT. Platform ini berfungsi sebagai penghubung antara perangkat IoT dan aplikasi. Platform ini mengelola perangkat, mengumpulkan data, melakukan analisis, dan memungkinkan interaksi antar perangkat. Beberapa contoh platform yang sering digunakan adalah AWS IoT, Google Cloud IoT, Microsoft Azure IoT.Data dan Analitik. Data yang dikumpulkan dari perangkat IoT dianalisis untuk mendapatkan wawasan yang berguna. Analitik ini dapat dilakukan di cloud (cloud computing) atau di tepi jaringan (edge computing) untuk respons yang lebih cepat.Aplikasi dan Layanan. Aplikasi yang memanfaatkan data yang dikumpulkan dan dianalisis untuk menyediakan layanan yang bernilai tambah, seperti kebencanaan, manajemen energi, otomatisasi rumah, kota cerdas, pemantauan lingkungan dan kesehatan, transportasi dan lain sebagainya.Sistem telekomunikasi IoT ini terus berkembang. Teknologi ini membuat hidup menjadi lebih modern dan nyaman dengan segala kemudahan yang ditawarkan seperti:Otomatisasi dan Pengendalian. Sistem telekomunikasi cerdas memungkinkan otomatisasi berbagai proses seperti manajemen gedung, transportasi, dan pertanian. Misalnya, sistem penyiraman tanaman otomatis yang diaktifkan berdasarkan kelembaban tanah yang terdeteksi oleh sensor.Pemantauan dan Pengawasan. Sistem telekomunikasi IoT memungkinkan pemantauan jarak jauh terhadap aset dan infrastruktur, seperti jaringan listrik, jalur transportasi, dan fasilitas industri. Hal ini dapat meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional.Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik. Pengumpulan dan pengiriman data yang dihasilkan oleh perangkat IoT melalui media telekomunikasi dapat dianalisis untuk memberikan wawasan yang mendalam, membantu pengambilan keputusan yang lebih baik dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, kesehatan, dan manajemen lingkungan.Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas. Sistem telekomunikasi IoT mampu melakukan otomatisasi dan analitik yang cerdas, proses operasional dapat dioptimalkan, mengurangi biaya operasional dan meningkatkan produktivitas.Interoperabilitas. Sistem telekomunikasi IoT memungkinkan berbagai perangkat dan sistem yang berbeda untuk berkomunikasi dan bekerja sama, menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan lebih efisien.Fokus Tema Riset dan Topik Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan Call for Joint Collaboration OR EI Tahun Anggaran 2026 adalah sebagai berikut:TEMA RISETSistem Telekomunikasi IoT untuk Deteksi BencanaSistem Telekomunikasi IoT untuk Aplikasi Farming (Pertanian/ Peternakan/ Perikanan/ Aquaculture/ Agrikultur)Sistem Telekomunikasi IoT untuk Pemantauan LingkunganSistem Telekomunikasi IoT Industri (termasuk sistem otonom/ transportasi)Sistem Telekomunikasi IoT untuk KesehatanSistem Telekomunikasi IoT Deteksi Objek, SuaraTOPIK KEGIATANDesain AntenaSignal Processing and Vehicle NetworksRadio Frecuency and MicrowaveAdvanced Network ProtocolWireless CommunicationSensorComputer VisionKecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran MesinGPS, GIS, GNSSSistem KomunikasiSistem AktuatorSistem Manajemen Tenaga dan EnergiIntelligent instrumentIoT device securitySensor-device technology KAK, Format Proposal, Persyaratan, dan Ketentuan Lainnya dapat dilihat pada link berikut :https://s.id/CFJCOREI2026
Sistem telekomunikasi Internet of Things (IoT) adalah integrasi perangkat dan teknologi yang memungkinkan pengumpulan, pertukaran, dan analisis data secara otomatis dan efisien melalui jaringan telekomunikasi. Sistem ini menghubungkan berbagai perangkat fisik, sensor, dan aktuator melalui internet, yang kemudian saling berkomunikasi dan bekerja sama untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas berbagai operasi. Konsep dasar sistem telekomunikasi IoT terlihat pada Gambar 1. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang komponen dan fungsi dari sistem telekomunikasi cerdas berbasis IoT. Gambar 1. Konsep dasar sistem telekomunikasi IoT (Sumber: https://www.myspsolution.com/home)Beberapa komponen utama dalam pembangunan sistem telekomunikasi IoT ini adalah sebagai berikut:Perangkat IoT , yaitu Sensor dan AktuatorKonektivitas: Koneksi jaringan transmisi data yang dikumpulkan bisa menggunakan berbagai teknologi komunikasi seperti Wifi, Bluetooth, Zigbee, LTE, dan jaringan 5G untuk menghubungkan perangkat IoT ke internet dan satu sama lain.Platform IoT. Platform ini berfungsi sebagai penghubung antara perangkat IoT dan aplikasi. Platform ini mengelola perangkat, mengumpulkan data, melakukan analisis, dan memungkinkan interaksi antar perangkat. Beberapa contoh platform yang sering digunakan adalah AWS IoT, Google Cloud IoT, Microsoft Azure IoT.Data dan Analitik. Data yang dikumpulkan dari perangkat IoT dianalisis untuk mendapatkan wawasan yang berguna. Analitik ini dapat dilakukan di cloud (cloud computing) atau di tepi jaringan (edge computing) untuk respons yang lebih cepat.Aplikasi dan Layanan. Aplikasi yang memanfaatkan data yang dikumpulkan dan dianalisis untuk menyediakan layanan yang bernilai tambah, seperti kebencanaan, manajemen energi, otomatisasi rumah, kota cerdas, pemantauan lingkungan dan kesehatan, transportasi dan lain sebagainya.Sistem telekomunikasi IoT ini terus berkembang. Teknologi ini membuat hidup menjadi lebih modern dan nyaman dengan segala kemudahan yang ditawarkan seperti:Otomatisasi dan Pengendalian. Sistem telekomunikasi cerdas memungkinkan otomatisasi berbagai proses seperti manajemen gedung, transportasi, dan pertanian. Misalnya, sistem penyiraman tanaman otomatis yang diaktifkan berdasarkan kelembaban tanah yang terdeteksi oleh sensor.Pemantauan dan Pengawasan. Sistem telekomunikasi IoT memungkinkan pemantauan jarak jauh terhadap aset dan infrastruktur, seperti jaringan listrik, jalur transportasi, dan fasilitas industri. Hal ini dapat meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional.Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik. Pengumpulan dan pengiriman data yang dihasilkan oleh perangkat IoT melalui media telekomunikasi dapat dianalisis untuk memberikan wawasan yang mendalam, membantu pengambilan keputusan yang lebih baik dalam berbagai bidang, termasuk bisnis, kesehatan, dan manajemen lingkungan.Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas. Sistem telekomunikasi IoT mampu melakukan otomatisasi dan analitik yang cerdas, proses operasional dapat dioptimalkan, mengurangi biaya operasional dan meningkatkan produktivitas.Interoperabilitas. Sistem telekomunikasi IoT memungkinkan berbagai perangkat dan sistem yang berbeda untuk berkomunikasi dan bekerja sama, menciptakan ekosistem yang terintegrasi dan lebih efisien.Fokus Tema Riset dan Topik Kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan Call for Joint Collaboration OR EI Tahun Anggaran 2026 adalah sebagai berikut:TEMA RISETSistem Telekomunikasi IoT untuk Deteksi BencanaSistem Telekomunikasi IoT untuk Aplikasi Farming (Pertanian/ Peternakan/ Perikanan/ Aquaculture/ Agrikultur)Sistem Telekomunikasi IoT untuk Pemantauan LingkunganSistem Telekomunikasi IoT Industri (termasuk sistem otonom/ transportasi)Sistem Telekomunikasi IoT untuk KesehatanSistem Telekomunikasi IoT Deteksi Objek, SuaraTOPIK KEGIATANDesain AntenaSignal Processing and Vehicle NetworksRadio Frecuency and MicrowaveAdvanced Network ProtocolWireless CommunicationSensorComputer VisionKecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran MesinGPS, GIS, GNSSSistem KomunikasiSistem AktuatorSistem Manajemen Tenaga dan EnergiIntelligent instrumentIoT device securitySensor-device technology KAK, Format Proposal, Persyaratan, dan Ketentuan Lainnya dapat dilihat pada link berikut :https://s.id/CFJCOREI2026
Eksplorasi sumber daya air mencakup kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemukan, mengevaluasi, dan mengelola potensi sumber daya alam yang terdapat di perairan. Beberapa sumber daya perairan yang sering di eksplorasi meliputi ikan, minyak dan gas bumi, mineral, obat-obatan, dan energi terbarukan.Deteksi sumber daya perairan merupakan langkah penting dalam pemahaman, pemantauan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di perairan sekitarnya. Deteksi sumber daya perairan membantu dalam manajemen perikanan dengan memantau populasi ikan, penyebaran mereka, dan aktivitas ekosistem perairan. Informasi ini membantu dalam mengambil keputusan yang lebih baik terkait dengan kuota penangkapan dan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan. Dengan menggunakan teknologi deteksi, kita dapat menghindari praktik overfishing yang dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan. Deteksi dapat membantu mengidentifikasi lokasi-lokasi dengan populasi ikan yang tinggi dan memastikan bahwa penangkapan dilakukan dengan batasan yang sesuai.Selain itu, deteksi sumber daya perairan membantu dalam pemantauan kondisi lingkungan perairan, termasuk suhu air, tingkat keasaman, polusi, dan perubahan iklim. Informasi ini penting untuk pemahaman dampak manusia terhadap lingkungan perairan dan untuk mengambil langkah-langkah konservasi yang sesuai. Deteksi bawah air digunakan untuk mengeksplorasi potensi sumber daya mineral dan energi di dasar perairan, seperti minyak dan gas bumi, mineral, serta potensi energi terbarukan seperti energi ombak dan pasang surut. Informasi yang diperoleh melalui deteksi sumber daya perairan membantu dalam melindungi dan memelihara keanekaragaman hayati perairan. Ini termasuk identifikasi dan perlindungan terumbu karang, pengelolaan area konservasi perairan, dan pemantauan migrasi spesies perairan.Deteksi juga berperan dalam keamanan maritim dengan membantu dalam melacak pergerakan kapal, mendeteksi kapal selam, dan mengidentifikasi aktivitas maritim yang mencurigakan. Ini penting untuk tujuan pertahanan nasional dan keamanan perairan. Sistem deteksi juga dapat digunakan untuk memantau potensi bencana alam di perairan, seperti tsunami atau gempa bumi bawah air. Hal ini memungkinkan pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan mitigasi yang tepat. Sementara deteksi sumber daya perairan membantu dalam pengelolaan pesisir, termasuk pemantauan erosi pantai, perubahan garis pantai, dan pengelolaan infrastruktur pesisir.Memahami perairan akan sangat membantu dalam mempelajari perubahan iklim Bumi, metode perlindungan lingkungan, dan proses evolusi biologis. Selain itu, perairan mengandung sejumlah besar sumber daya, termasuk hidrokarbon, mineral, angin hidrotermal, dan sumber daya biologis, yang menarik minat besar dari manusia. Penjelajahan perairan bisa kembali dari waktu yang lama. Penerbangan ilmiah global pertama dilakukan oleh HMS Challenger pada abad ke-19, tetapi metode eksplorasi pada saat itu sederhana dan bahkan primitif. Saat ini, dengan pengembangan teknologi sensor, berbagai metode sensor berdasarkan optik, akustik, dan elektromagnetik secara luas diterapkan untuk pengamatan dan eksplorasi perairan. Sensor akustik berisi berbagai perangkat sonar untuk peta dasar perairan, navigasi tenggelam, dan objek bawah air. Teknologi sensor optik yang diterapkan untuk eksplorasi perairan meliputi pencitraan bawah air untuk inspeksi objek, spektroskopi, dan fluoro fotometer untuk pemantauan parameter lingkungan. Teknologi elektromagnetik digunakan untuk deteksi logam bawah air seperti tambang dan sumber daya mineral, dan untuk inspeksi bawah air kabel dan pipa.Berbagai jenis kapal selam sangat penting untuk kendaraan dalam eksplorasi perairan. Ini dapat diklasifikasikan sebagai kendaraan yang diduduki manusia (HOV), kendaraan beroperasi jarak jauh (ROV), mobil bawah air otonom (AUV), ROV dan AUV hibrida (HROV atau ARV), dan glider bawah air. Dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya permintaan untuk eksploitasi perairan, AUV multifungsi, dan cerdas, yang dapat digunakan untuk berbagai tugas, diharapkan untuk eksplorasi karena area luas perairan dan eksploration biaya tinggi dengan ROV. Pengembangan tipe baru dan multifungsi AUV juga telah menempatkan persyaratan baru pada kecerdasan dan miniaturisasi sensor. Gambar 2 menunjukkan potensi aplikasi yang dapat dikembangkan dalam riset bawah air. Berbagai macam aplikasi mulai dari monitoring, kebencanaan, sosial budaya, navigasi dan keamanan menjadi spektrum aplikasi yang luas, bermacam-macam dan urgen dari eksplorasi bawah air di Indonesia. Sayangnya hingga saat ini riset bawah air masih belum dilakukan secara masif. Walaupun arahan dan instruksi presiden dan visi serta misi kemandirian maritim sudah mulai dicanangkan, dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, riset mengenai bawah air menjadi sangat urgent. Kegiatan Rumah Program Hasil Riset dan Inovasi Jaringan Detektor Bawah Air diharapkan dapat mendukung Indonesia dalam hal: Dukungan Terhadap Peningkatan Skor Global Innovation Index, khususnya terkait adopsi Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek);Penciptaan inovasi berjalan dari hulu hingga komersialisasi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional;Dukungan terhadap sejumlah capaian pada target SDGs;Dukungan peningkatan produktivitas dan daya saing;Dukungan terhadap program pemerintah Asta Cita, khususnya bidang pangan, energi terbarukan dan keberlanjutan lingkungan. TEMA RISET 1. Sistem dan Sensor Pemantauan Kualitas Air2. Sistem dan Sensor untuk Identifikasi Objek Bawah Air3. Sistem Monitoring Lingkungan dan Ekosistem Bawah Air4. Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Sistem Gerak Cerdas untuk Operasional Detektor5. Sistem Elektronika dan Akuisisi Data untuk Detektor6. Sistem Telekomunikasi dapat berbasis Akustik, Optik, dan Radio untuk Transmisi Data Detektor7. Human–Machine Interface (HMI) untuk Kendali dan Visualisasi Sistem Detektor8. Decision Support System (DSS) dan Sistem Peringatan Dini Berbasis Data Detektor9. Pengembangan Teknologi Lainnya Terkait Sistem Detektor Bawah Air KAK Rumah Program Purwarupa Hasil Riset Inovasi Jaringan Detektor Bawah Air dapat diakses pada link : https://s.id/CFJCOREI2026
Eksplorasi sumber daya air mencakup kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemukan, mengevaluasi, dan mengelola potensi sumber daya alam yang terdapat di perairan. Beberapa sumber daya perairan yang sering di eksplorasi meliputi ikan, minyak dan gas bumi, mineral, obat-obatan, dan energi terbarukan.Deteksi sumber daya perairan merupakan langkah penting dalam pemahaman, pemantauan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di perairan sekitarnya. Deteksi sumber daya perairan membantu dalam manajemen perikanan dengan memantau populasi ikan, penyebaran mereka, dan aktivitas ekosistem perairan. Informasi ini membantu dalam mengambil keputusan yang lebih baik terkait dengan kuota penangkapan dan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan. Dengan menggunakan teknologi deteksi, kita dapat menghindari praktik overfishing yang dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan. Deteksi dapat membantu mengidentifikasi lokasi-lokasi dengan populasi ikan yang tinggi dan memastikan bahwa penangkapan dilakukan dengan batasan yang sesuai.Selain itu, deteksi sumber daya perairan membantu dalam pemantauan kondisi lingkungan perairan, termasuk suhu air, tingkat keasaman, polusi, dan perubahan iklim. Informasi ini penting untuk pemahaman dampak manusia terhadap lingkungan perairan dan untuk mengambil langkah-langkah konservasi yang sesuai. Deteksi bawah air digunakan untuk mengeksplorasi potensi sumber daya mineral dan energi di dasar perairan, seperti minyak dan gas bumi, mineral, serta potensi energi terbarukan seperti energi ombak dan pasang surut. Informasi yang diperoleh melalui deteksi sumber daya perairan membantu dalam melindungi dan memelihara keanekaragaman hayati perairan. Ini termasuk identifikasi dan perlindungan terumbu karang, pengelolaan area konservasi perairan, dan pemantauan migrasi spesies perairan.Deteksi juga berperan dalam keamanan maritim dengan membantu dalam melacak pergerakan kapal, mendeteksi kapal selam, dan mengidentifikasi aktivitas maritim yang mencurigakan. Ini penting untuk tujuan pertahanan nasional dan keamanan perairan. Sistem deteksi juga dapat digunakan untuk memantau potensi bencana alam di perairan, seperti tsunami atau gempa bumi bawah air. Hal ini memungkinkan pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan mitigasi yang tepat. Sementara deteksi sumber daya perairan membantu dalam pengelolaan pesisir, termasuk pemantauan erosi pantai, perubahan garis pantai, dan pengelolaan infrastruktur pesisir.Memahami perairan akan sangat membantu dalam mempelajari perubahan iklim Bumi, metode perlindungan lingkungan, dan proses evolusi biologis. Selain itu, perairan mengandung sejumlah besar sumber daya, termasuk hidrokarbon, mineral, angin hidrotermal, dan sumber daya biologis, yang menarik minat besar dari manusia. Penjelajahan perairan bisa kembali dari waktu yang lama. Penerbangan ilmiah global pertama dilakukan oleh HMS Challenger pada abad ke-19, tetapi metode eksplorasi pada saat itu sederhana dan bahkan primitif. Saat ini, dengan pengembangan teknologi sensor, berbagai metode sensor berdasarkan optik, akustik, dan elektromagnetik secara luas diterapkan untuk pengamatan dan eksplorasi perairan. Sensor akustik berisi berbagai perangkat sonar untuk peta dasar perairan, navigasi tenggelam, dan objek bawah air. Teknologi sensor optik yang diterapkan untuk eksplorasi perairan meliputi pencitraan bawah air untuk inspeksi objek, spektroskopi, dan fluoro fotometer untuk pemantauan parameter lingkungan. Teknologi elektromagnetik digunakan untuk deteksi logam bawah air seperti tambang dan sumber daya mineral, dan untuk inspeksi bawah air kabel dan pipa.Berbagai jenis kapal selam sangat penting untuk kendaraan dalam eksplorasi perairan. Ini dapat diklasifikasikan sebagai kendaraan yang diduduki manusia (HOV), kendaraan beroperasi jarak jauh (ROV), mobil bawah air otonom (AUV), ROV dan AUV hibrida (HROV atau ARV), dan glider bawah air. Dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya permintaan untuk eksploitasi perairan, AUV multifungsi, dan cerdas, yang dapat digunakan untuk berbagai tugas, diharapkan untuk eksplorasi karena area luas perairan dan eksploration biaya tinggi dengan ROV. Pengembangan tipe baru dan multifungsi AUV juga telah menempatkan persyaratan baru pada kecerdasan dan miniaturisasi sensor. Gambar 2 menunjukkan potensi aplikasi yang dapat dikembangkan dalam riset bawah air. Berbagai macam aplikasi mulai dari monitoring, kebencanaan, sosial budaya, navigasi dan keamanan menjadi spektrum aplikasi yang luas, bermacam-macam dan urgen dari eksplorasi bawah air di Indonesia. Sayangnya hingga saat ini riset bawah air masih belum dilakukan secara masif. Walaupun arahan dan instruksi presiden dan visi serta misi kemandirian maritim sudah mulai dicanangkan, dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, riset mengenai bawah air menjadi sangat urgent. Kegiatan Rumah Program Hasil Riset dan Inovasi Jaringan Detektor Bawah Air diharapkan dapat mendukung Indonesia dalam hal: Dukungan Terhadap Peningkatan Skor Global Innovation Index, khususnya terkait adopsi Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek);Penciptaan inovasi berjalan dari hulu hingga komersialisasi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional;Dukungan terhadap sejumlah capaian pada target SDGs;Dukungan peningkatan produktivitas dan daya saing;Dukungan terhadap program pemerintah Asta Cita, khususnya bidang pangan, energi terbarukan dan keberlanjutan lingkungan. TEMA RISET 1. Sistem dan Sensor Pemantauan Kualitas Air2. Sistem dan Sensor untuk Identifikasi Objek Bawah Air3. Sistem Monitoring Lingkungan dan Ekosistem Bawah Air4. Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Sistem Gerak Cerdas untuk Operasional Detektor5. Sistem Elektronika dan Akuisisi Data untuk Detektor6. Sistem Telekomunikasi dapat berbasis Akustik, Optik, dan Radio untuk Transmisi Data Detektor7. Human–Machine Interface (HMI) untuk Kendali dan Visualisasi Sistem Detektor8. Decision Support System (DSS) dan Sistem Peringatan Dini Berbasis Data Detektor9. Pengembangan Teknologi Lainnya Terkait Sistem Detektor Bawah Air KAK Rumah Program Purwarupa Hasil Riset Inovasi Jaringan Detektor Bawah Air dapat diakses pada link : https://s.id/CFJCOREI2026
Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah sangat luas, dengan posisi geografis yang terbentang di garis Khatulistiwa dan terletak diantara dua benua dan dua Samudra. Posisi geografis ini menjadikan Indonesia dianugerahi dengan potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya yaitu dalam kekayaan alam hayati di Indonesia, namun letak geografis Indonesia menimbulkan terjadinya bencana alam yang tinggi. Saat ini berbagai permasalahan juga terjadi di wilayah Indonesia seperti semakin berkurangnya luasan hutan, degradasi lahan di daerah aliran sungai, penurunan kualitas air, penurunan muka tanah, pencemaran lingkungan, dan masalah lainnya yang diakibatkan oleh pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu sangat dibutuhkan suatu teknologi yang dapat memantau kondisi sumberdaya alam, lingkungan, dan perubahannya secara periodik yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan metode pengelolaan sumberdaya alam yang yang paling tepat dan berkelanjutan. Teknologi Big Data merupakan peran kunci dalam mendorong inovasi, efisiensi, dan Keputusan berbasis data di berbagai Industri. Dengan terusnya berkembang volume, kecepatan, dan Variasi data, pentingnya Big Data akan terus meningkat, memberikan peluang dan tantangan baru bagi organisasi riset elektronika dan informatika. Big Data adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan volume data yang sangat besar, kompleks, dan terus berkembang yang sulit diolah dan dianalisis menggunakan metode atau alat tradisional. Konsep ini tidak hanya berfokus pada jumlah data, tetapi juga pada cara data tersebut diproses dan dianalisis untuk mendapatkan wawasan yang berguna. Ada beberapa aspek penting dari big data yang perlu dipahami:Volume: Merujuk pada jumlah data yang sangat besar. Misalnya, data yang dihasilkan oleh media sosial, sensor, transaksi online, dan perangkat IoT bisa sangat besar. Big data biasanya melibatkan terabyte hingga petabyte data.Velocity (Kecepatan): Mengacu pada kecepatan data yang dihasilkan dan diproses. Data bisa datang dengan cepat, seperti dalam kasus streaming data dari media sosial atau perangkat sensor yang mengirimkan data secara real-time.Variety (Kepelbagaian): Data big data datang dalam berbagai format dan jenis, termasuk data terstruktur (seperti tabel dalam basis data), semi-terstruktur (seperti XML atau JSON), dan tidak terstruktur (seperti teks, gambar, video).Veracity (Kebenaran): Menyangkut kualitas dan keakuratan data. Dalam big data, sering kali data yang dikumpulkan memiliki tingkat ketidakpastian atau kebisingan, sehingga penting untuk memilah dan memvalidasi data tersebut agar dapat menghasilkan wawasan yang valid.Value (Nilai): Mengacu pada kemampuan untuk mengekstrak nilai dan wawasan dari data. Big data tidak hanya tentang memiliki banyak data, tetapi juga tentang bagaimana data tersebut dapat dianalisis untuk memberikan informasi yang berharga dan mendukung pengambilan keputusan.Salah satu contoh Big data adalah data penginderaan jauh, data geospasial, dan crowdsourcing yang dapat digunakan dalam bidang Geoinformatika. Teknologi Geoinformatika mencakup teknologi penginderaan jauh, analisis data spasial secara Sistem Informasi Geografis (SIG) hingga teknik Geo-AI, dan platform data/informasi spasial merupakan teknologi yang terus berkembang dan dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi sumberdaya alam, lingkungan, dan perubahannya. Saat ini banyak berbagai platform informasi yang telah dikembangkan untuk melakukan pemantauan kondisi sumberdaya alam, lingkungan, dan mitigasi bencana. Selain itu data Genomik merupakan kategori Big Data dalam bidang Bioinformatika, yang pemanfaatannya dapat digunakan untuk melihat potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang perlu memperhatikan pelestariannya, juga belum banyak terungkapkan. Riset dan inovasi pada bidang hayati dasar dan pangan-pertanian yang vital untuk ketahanan pangan misalnya untuk menemukan bibit unggul dari sumber daya genetika membutuhkan data dan pengetahuan sampai ke tingkat genome. sampai saat ini, kekayaan biodiversitas Indonesia baik yang berasal dari non-human dan human belum banyak terungkapkan dan termanfaatkan. Untuk mengatasi gap antara potensi sumber daya biodiversitas dan pemanfaatannya diperlukan kegiatan riset berbasis Bioinformatika agar terungkapnya potensi biodiversitas Indonesia. Investasi infrastruktur riset untuk bioinformatika di BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) telah dilakukan secara masif. Infrastruktur alat laboratorium untuk akuisisi data multi-omics sampel hayati untuk mendapatkan data genom seperti alat sekuensing (Sanger, NGS, Long Reads- ONT), profiling protein dengan Cryo-TEM, alat-alat mass spectrometer dan lainnya. BRIN juga memiliki infrastruktur riset untuk komputasi dan penyimpanan dalam skala besar berupa kluster komputer untuk komputasi berkinerja tinggi (High Performance Computing) dalam skala PetaByte. Dalam hal ini, BRIN akan melakukan penggunaan Big Data dan analisis data untuk dapat memecahkan kompleks dalam bidang geoinformatika dan bioinformatika. Fokus Tema Riset yang dilakukan dalam kegiatan Call for Joint Collaboration OR EI Tahun Anggaran 2026 adalah sebagai berikut:Platform Geoinformatika bidang Ketahanan Pangan/ Lingkungan dan Kebencanaan/ Emisi Gas Rumah Kaca/ Sumber Daya Alam (Diharapkan riset yang aplikatif dan dapat diintegrasikan ke dalam GEOMIMO)Platform Bioinformatika: Analisis Data Genom/Multi-omics/Struktural Biologi (Pengembangan tools/pipelines)Komputasi Biologi/Kimia Komputasional: Pemodelan dan Simulasi Sistem Biologi dan Molecular (fokus kesehatan/precision medicine)Pengembangan Korpus untuk Bidang Kesehatan/ Pangan/ Lingkungan/ Pendidikan/ Pemerintahan Digital/ Bahasa Lokal/ Warisan Budaya/ Industri Kreatif/ termasuk Analysis Ready Data (ARD) Citra SatelitAI/Keamanan Siber untuk Kesehatan/ Pangan/ Lingkungan/ Pendidikan/ Pemerintahan Digital/ Bahasa Lokal/ Warisan Budaya/ Industri KreatifCrowdsourcing/Pemetaan Partisipatif/ Citizen Science Platform (Untuk Biodiversitas/Sosial Budaya) KAK, Format Proposal, Persyaratan, dan Ketentuan Lainnya dapat dilihat pada link berikut :https://s.id/CFJCOREI2026
Eksplorasi sumber daya air mencakup kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menemukan, mengevaluasi, dan mengelola potensi sumber daya alam yang terdapat di perairan. Beberapa sumber daya perairan yang sering di eksplorasi meliputi ikan, minyak dan gas bumi, mineral, obat-obatan, dan energi terbarukan.Deteksi sumber daya perairan merupakan langkah penting dalam pemahaman, pemantauan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat di perairan sekitarnya. Deteksi sumber daya perairan membantu dalam manajemen perikanan dengan memantau populasi ikan, penyebaran mereka, dan aktivitas ekosistem perairan. Informasi ini membantu dalam mengambil keputusan yang lebih baik terkait dengan kuota penangkapan dan menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan. Dengan menggunakan teknologi deteksi, kita dapat menghindari praktik overfishing yang dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan. Deteksi dapat membantu mengidentifikasi lokasi-lokasi dengan populasi ikan yang tinggi dan memastikan bahwa penangkapan dilakukan dengan batasan yang sesuai.Selain itu, deteksi sumber daya perairan membantu dalam pemantauan kondisi lingkungan perairan, termasuk suhu air, tingkat keasaman, polusi, dan perubahan iklim. Informasi ini penting untuk pemahaman dampak manusia terhadap lingkungan perairan dan untuk mengambil langkah-langkah konservasi yang sesuai. Deteksi bawah air digunakan untuk mengeksplorasi potensi sumber daya mineral dan energi di dasar perairan, seperti minyak dan gas bumi, mineral, serta potensi energi terbarukan seperti energi ombak dan pasang surut. Informasi yang diperoleh melalui deteksi sumber daya perairan membantu dalam melindungi dan memelihara keanekaragaman hayati perairan. Ini termasuk identifikasi dan perlindungan terumbu karang, pengelolaan area konservasi perairan, dan pemantauan migrasi spesies perairan.Deteksi juga berperan dalam keamanan maritim dengan membantu dalam melacak pergerakan kapal, mendeteksi kapal selam, dan mengidentifikasi aktivitas maritim yang mencurigakan. Ini penting untuk tujuan pertahanan nasional dan keamanan perairan. Sistem deteksi juga dapat digunakan untuk memantau potensi bencana alam di perairan, seperti tsunami atau gempa bumi bawah air. Hal ini memungkinkan pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan mitigasi yang tepat. Sementara deteksi sumber daya perairan membantu dalam pengelolaan pesisir, termasuk pemantauan erosi pantai, perubahan garis pantai, dan pengelolaan infrastruktur pesisir.Memahami perairan akan sangat membantu dalam mempelajari perubahan iklim Bumi, metode perlindungan lingkungan, dan proses evolusi biologis. Selain itu, perairan mengandung sejumlah besar sumber daya, termasuk hidrokarbon, mineral, angin hidrotermal, dan sumber daya biologis, yang menarik minat besar dari manusia. Penjelajahan perairan bisa kembali dari waktu yang lama. Penerbangan ilmiah global pertama dilakukan oleh HMS Challenger pada abad ke-19, tetapi metode eksplorasi pada saat itu sederhana dan bahkan primitif. Saat ini, dengan pengembangan teknologi sensor, berbagai metode sensor berdasarkan optik, akustik, dan elektromagnetik secara luas diterapkan untuk pengamatan dan eksplorasi perairan. Sensor akustik berisi berbagai perangkat sonar untuk peta dasar perairan, navigasi tenggelam, dan objek bawah air. Teknologi sensor optik yang diterapkan untuk eksplorasi perairan meliputi pencitraan bawah air untuk inspeksi objek, spektroskopi, dan fluoro fotometer untuk pemantauan parameter lingkungan. Teknologi elektromagnetik digunakan untuk deteksi logam bawah air seperti tambang dan sumber daya mineral, dan untuk inspeksi bawah air kabel dan pipa.Berbagai jenis kapal selam sangat penting untuk kendaraan dalam eksplorasi perairan. Ini dapat diklasifikasikan sebagai kendaraan yang diduduki manusia (HOV), kendaraan beroperasi jarak jauh (ROV), mobil bawah air otonom (AUV), ROV dan AUV hibrida (HROV atau ARV), dan glider bawah air. Dalam beberapa tahun terakhir, dengan meningkatnya permintaan untuk eksploitasi perairan, AUV multifungsi, dan cerdas, yang dapat digunakan untuk berbagai tugas, diharapkan untuk eksplorasi karena area luas perairan dan eksploration biaya tinggi dengan ROV. Pengembangan tipe baru dan multifungsi AUV juga telah menempatkan persyaratan baru pada kecerdasan dan miniaturisasi sensor. Gambar 2 menunjukkan potensi aplikasi yang dapat dikembangkan dalam riset bawah air. Berbagai macam aplikasi mulai dari monitoring, kebencanaan, sosial budaya, navigasi dan keamanan menjadi spektrum aplikasi yang luas, bermacam-macam dan urgen dari eksplorasi bawah air di Indonesia. Sayangnya hingga saat ini riset bawah air masih belum dilakukan secara masif. Walaupun arahan dan instruksi presiden dan visi serta misi kemandirian maritim sudah mulai dicanangkan, dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, riset mengenai bawah air menjadi sangat urgent. Kegiatan Rumah Program Hasil Riset dan Inovasi Jaringan Detektor Bawah Air diharapkan dapat mendukung Indonesia dalam hal: Dukungan Terhadap Peningkatan Skor Global Innovation Index, khususnya terkait adopsi Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek);Penciptaan inovasi berjalan dari hulu hingga komersialisasi untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional;Dukungan terhadap sejumlah capaian pada target SDGs;Dukungan peningkatan produktivitas dan daya saing;Dukungan terhadap program pemerintah Asta Cita, khususnya bidang pangan, energi terbarukan dan keberlanjutan lingkungan. TEMA RISET 1. Sistem dan Sensor Pemantauan Kualitas Air2. Sistem dan Sensor untuk Identifikasi Objek Bawah Air3. Sistem Monitoring Lingkungan dan Ekosistem Bawah Air4. Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Sistem Gerak Cerdas untuk Operasional Detektor5. Sistem Elektronika dan Akuisisi Data untuk Detektor6. Sistem Telekomunikasi dapat berbasis Akustik, Optik, dan Radio untuk Transmisi Data Detektor7. Human–Machine Interface (HMI) untuk Kendali dan Visualisasi Sistem Detektor8. Decision Support System (DSS) dan Sistem Peringatan Dini Berbasis Data Detektor9. Pengembangan Teknologi Lainnya Terkait Sistem Detektor Bawah Air KAK Rumah Program Purwarupa Hasil Riset Inovasi Jaringan Detektor Bawah Air dapat diakses pada link : https://s.id/CFJCOREI2026
BRIN menginisiasi kerja sama dengan Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) untuk melaksanakan kolaborasi riset dan inovasi melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kolaborasi Internasional Bertema Pisang. Skema RIIM Kolaborasi Internasional Bertema Pisang merupakan Skema RIIM Kolaborasi yang dibuka secara khusus sebagai keberlanjutan program kerja sama hibah riset dan inovasi dengan BMGF.Skema RIIM Kolaborasi Internasional Bertema Pisang merupakan implementasi dari target Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai platform untuk kerja sama nasional dan global yang inklusif dan kolaboratif dengan fokus pada riset dan inovasi bidang pangan, khususnya banana collection, characterization and pre-breeding.
BRIN menginisiasi kerja sama dengan Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) untuk melaksanakan kolaborasi riset dan inovasi melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kolaborasi Internasional Bertema Pisang. Skema RIIM Kolaborasi Internasional Bertema Pisang merupakan Skema RIIM Kolaborasi yang dibuka secara khusus sebagai keberlanjutan program kerja sama hibah riset dan inovasi dengan BMGF.Skema RIIM Kolaborasi Internasional Bertema Pisang merupakan implementasi dari target Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai platform untuk kerja sama nasional dan global yang inklusif dan kolaboratif dengan fokus pada riset dan inovasi bidang pangan, khususnya banana collection, characterization and pre-breeding.
Pengembangan ilmu biologi struktur biomolekul merupakan salah satu pilar penting dalam mendukung kemajuan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang seperti kesehatan, pangan, energi, serta lingkungan. Melalui pendekatan biologi struktur, peneliti dapat memahami hubungan antara struktur biomolekul, dan fungsi biologisnya serta mekanisme interaksi antar biomolekul dalam menemukan target terapi baru, merancang vaksin dan obat, mengembangkan pangan fungsional, hingga menghasilkan inovasi bioteknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.Indonesia, sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, memiliki potensi besar dalam pengembangan biologi struktur. Ribuan spesies endemik yang menyimpan kekayaan biomolekul unik dapat menjadi sumber inovasi ilmiah sekaligus daya saing nasional dan global. Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, seperti ketersediaan infrastruktur riset yang memadai dan penguasaan teknologi kunci serta keterbatasan kolaborasi riset global.Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyediakan infrastruktur riset terkini seperti cryo-electron microscopy (cryo-EM), nuclear magnetic resonance (NMR), mass spectrometry, serta superkomputasi (HPC) dan melalui dukungan pendanaan RIIM Invitasi Strategis telah menjalankan Platform Kolaborasi Biologi Struktur Biomolekul Keanekaragaman Hayati sejak tahun 2024. Platform ini dirancang sebagai simpul riset nasional yang mengintegrasikan fasilitas penelitian berstandar internasional, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas disiplin dengan mitra nasional maupun global. Pada tahun pertama, platform telah berhasil meletakkan dasar ekosistem riset terpadu yang memungkinkan pemanfaatan infrastruktur riset cryo-electron microscopy (cryo-EM) untuk menentukan struktur tiga dimensi makromolekul seperti protein, sel dan jaringan.Memasuki tahun kedua, platform kolaborasi dilakukan pengembangan ruang lingkup tidak hanya makromoekul namun juga mikromokelul dan aplikasinya untuk kesehatan, pangan dan pertanian. Untuk itu, dibuka program Call for Proposal (CfP) tahun kedua yang ditujukan bagi peneliti dari BRIN, perguruan tinggi, lembaga riset nasional, mitra internasional, serta sektor industri. Program ini berfungsi sebagai sarana untuk:Mempercepat penguasaan teknologi dan pencapaian target riset strategis di bidang biologi struktur.Mendorong keterlibatan aktif peneliti muda, mahasiswa, visiting researcher dan postdoctoral untuk mencetak talenta muda kepakaran biologi struktur.Memperkuat kolaborasi nasional dan global, lintas lembaga dan lintas disiplin demi menciptakan ekosistem riset yang inklusif, terbuka, dan berstandar global.Meningkatkan kualitas publikasi internasional, data struktur biomolekul yang terdaftar di basis data global, serta potensi paten dan hilirisasi riset.Dengan adanya CfP ini, diharapkan platform kolaborasi menjadi hub dan motor penggerak riset kolaboratif nasional dan internasional. Dukungan lintas kedeputian di lingkungan BRIN meliputi Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi, Deputi Sumber Daya Manusia dan IPTEK, dan Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi serta kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga riset internasional, dan industri memastikan bahwa program ini tidak hanya menghasilkan luaran ilmiah jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kepakaran biologi struktur yang berkelanjutan dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia.
Pengembangan ilmu biologi struktur biomolekul merupakan salah satu pilar penting dalam mendukung kemajuan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang seperti kesehatan, pangan, energi, serta lingkungan. Melalui pendekatan biologi struktur, peneliti dapat memahami hubungan antara struktur biomolekul, dan fungsi biologisnya serta mekanisme interaksi antar biomolekul dalam menemukan target terapi baru, merancang vaksin dan obat, mengembangkan pangan fungsional, hingga menghasilkan inovasi bioteknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.Indonesia, sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, memiliki potensi besar dalam pengembangan biologi struktur. Ribuan spesies endemik yang menyimpan kekayaan biomolekul unik dapat menjadi sumber inovasi ilmiah sekaligus daya saing nasional dan global. Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, seperti ketersediaan infrastruktur riset yang memadai dan penguasaan teknologi kunci serta keterbatasan kolaborasi riset global.Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyediakan infrastruktur riset terkini seperti cryo-electron microscopy (cryo-EM), nuclear magnetic resonance (NMR), mass spectrometry, serta superkomputasi (HPC) dan melalui dukungan pendanaan RIIM Invitasi Strategis telah menjalankan Platform Kolaborasi Biologi Struktur Biomolekul Keanekaragaman Hayati sejak tahun 2024. Platform ini dirancang sebagai simpul riset nasional yang mengintegrasikan fasilitas penelitian berstandar internasional, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas disiplin dengan mitra nasional maupun global. Pada tahun pertama, platform telah berhasil meletakkan dasar ekosistem riset terpadu yang memungkinkan pemanfaatan infrastruktur riset cryo-electron microscopy (cryo-EM) untuk menentukan struktur tiga dimensi makromolekul seperti protein, sel dan jaringan.Memasuki tahun kedua, platform kolaborasi dilakukan pengembangan ruang lingkup tidak hanya makromoekul namun juga mikromokelul dan aplikasinya untuk kesehatan, pangan dan pertanian. Untuk itu, dibuka program Call for Proposal (CfP) tahun kedua yang ditujukan bagi peneliti dari BRIN, perguruan tinggi, lembaga riset nasional, mitra internasional, serta sektor industri. Program ini berfungsi sebagai sarana untuk:Mempercepat penguasaan teknologi dan pencapaian target riset strategis di bidang biologi struktur.Mendorong keterlibatan aktif peneliti muda, mahasiswa, visiting researcher dan postdoctoral untuk mencetak talenta muda kepakaran biologi struktur.Memperkuat kolaborasi nasional dan global, lintas lembaga dan lintas disiplin demi menciptakan ekosistem riset yang inklusif, terbuka, dan berstandar global.Meningkatkan kualitas publikasi internasional, data struktur biomolekul yang terdaftar di basis data global, serta potensi paten dan hilirisasi riset.Dengan adanya CfP ini, diharapkan platform kolaborasi menjadi hub dan motor penggerak riset kolaboratif nasional dan internasional. Dukungan lintas kedeputian di lingkungan BRIN meliputi Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi, Deputi Sumber Daya Manusia dan IPTEK, dan Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi serta kemitraan dengan perguruan tinggi, lembaga riset internasional, dan industri memastikan bahwa program ini tidak hanya menghasilkan luaran ilmiah jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kepakaran biologi struktur yang berkelanjutan dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia.
Call for ParticipantsExpedition Program Of IMPOLSE (INDONESIAN MARITIME and WESTERN PACIFIC OCEAN Long-term SCIENTIFIC EXPEDITION) 2025 BACKGROUNDJoint cruises, the eastern inflow of the Indonesian Throughflow (ITF) in especially its eastern inflow, but the outflows at Lombok, Ombai, and Timor remain unclear. To address these gaps and explore related ecosystem and turbulence issues, both parties signed a new agreement in 2022 to conduct multidisplinary marine science cruises over the next five years OBJECTIVESThis program is dedicated to:To observe and study the circulation pattern and variations at the entrance and exit channel of the ITF in the eastern part of the Indonesian Throughflow.To identify the distribution and composition of microplastics in the Indonesian sea; to compare the variation of microplastics before and after the Covid-19 pandemicTo understand the turbulent mixing dynamics and ITF hydrographic structure: to measure spatio-temporal variability of turbulent kinetic energy dissipation and diffusivity along the ITF in different straits and passage; resolve thermohaline variability and water mass modification across straits.Validate climate and ocean models. To provide benchmark datasets to improve parameterization in global ocean and climate models FIELD ACTIVITIESIn principle, two types of activities will take place during the 2025 joint expedition: physical oceanography and sampling activities. The marine scientific research expedition will last for 31 days, with the activity groups during the expedition outlined as follows. A. Physical Oceanography Activity1. Snapshot MeasurementThe survey will conduct snapshot measurements of CTD, ADCP and Single Beam Echosounder (SBES) measurements during the scientific cruising of the expedition. The cruising speed between stations is expected to be 7 knots. The datasets collected are in digital format (recorded by the instruments). Totally, there will be 46 CTD stations. The station positions (coordinates) for the CTD cast are shown in Figure 1Figure 1.Geographical distribution of CTD stations, mooring placements and recovery during IMPOLSE 2025. Note that the TRBM and ARGO deployment are cancelled during the IMPOLSE 2025.2. Deploy, Rotate and Recovery of the Moored InstrumentsSix moorings will be handled during the expedition, i.e., in the Lifamatola Passage (2), Maluku Channel (3), Halmahera Sea (1) will be retrieved. Four moorings in the: Makassar Strait (1), Lombok Strait (1), will be newly deployed (tentative). Two moorings in the Maluku Channel will be rotated. Map of the proposed locations is shown in Figure 1. Only related to electronic data obtained by the mooring instruments. B. Sample Involved Activity (SIA)These Sample Involved Activities will be collected by Indonesian and Chinese scientists. Samples agreed by both sides will be carried out during the joint cruise. There are several material samples will be collected during the cruise, including seawater, suspended particles, microplastics, and sediments. Several sample collection work will be done during the cruise.. MOORING INSTRUMENTSome instruments and equipment needed for the mooring deployment are available and stored in the Warehouse in KST BJ Habibie PUSPIPTEK-BRIN, Serpong, Indonesia. All instruments will be handled by Directorate for Research Vessel Management, Deputy for Infrastructure Research and Innovation. Table 4 shows the detail of instruments needed for the IMPOLSE 2025. RESEARCH VESSELKR Geomarin IIIFigure 2. KR Geomarin IIITabel 2. KR Geomarin III SpecificationVessel NameK/R. GEOMARIN IIIRegistration PortCirebon, IndonesiaShip TypeMultipurpose Research VehicleClassBKI (Biro Klasifikasi Indonesia), NK (Nippon Kaiji Kyokai)BuilderPT PAL SurabayaLaunching2010GRT1254 GTLength Overall61.7 mBreadth 12 mDraft 3.7 mMaximum Speed13.5 KnotsSurvey Speed4.5 KnotsFuel Tank Capacity267 m3Fresh Water Capacity124 m3Main Engine Yanmar540 HPBowthruster400 HPFuel Consumption8.5 Kl/dayElectric Generator3 x 350 KWEndurance30 daysVessel crew21 personTechnician & scientist30 person Tabel 3 EquipmentNameType2D SeismikSercel 428 (240 channel, 1500 Cu In, Kompressor Atlas Copco 2 x 800 CFM)Marine GravimeterLa Coste MGS-6Marine MagneticSespy 2Sediment SamplingGravity Core, Box Core, Piston Core and GrabMultibeam EchosounderSimrad EM-3000, R2SonicSinglebeam EchosounderMK II, MK III, Reson 420Sub Bottom ProfilingSyquest 2010, StrataboxSide Scan SonarEdgetech 420, Klein 3000, StarfishADCPStationary and Dynamic CALL FOR PARTICIPANT TIMELINEActivityDate/PeriodCall AnnouncementSeptember 1 – September 14, 2025Administrative ReviewSeptember 1 – September 14, 2025Substantive ReviewSeptember 15 – September 20, 2025Final ResultsSeptember 22, 2025Sailing Departure (TENTATIVE)October – November 2025
Call for ParticipantsExpedition Program Of IMPOLSE (INDONESIAN MARITIME and WESTERN PACIFIC OCEAN Long-term SCIENTIFIC EXPEDITION) 2025 BACKGROUNDJoint cruises, the eastern inflow of the Indonesian Throughflow (ITF) in especially its eastern inflow, but the outflows at Lombok, Ombai, and Timor remain unclear. To address these gaps and explore related ecosystem and turbulence issues, both parties signed a new agreement in 2022 to conduct multidisplinary marine science cruises over the next five years OBJECTIVESThis program is dedicated to:To observe and study the circulation pattern and variations at the entrance and exit channel of the ITF in the eastern part of the Indonesian Throughflow.To identify the distribution and composition of microplastics in the Indonesian sea; to compare the variation of microplastics before and after the Covid-19 pandemicTo understand the turbulent mixing dynamics and ITF hydrographic structure: to measure spatio-temporal variability of turbulent kinetic energy dissipation and diffusivity along the ITF in different straits and passage; resolve thermohaline variability and water mass modification across straits.Validate climate and ocean models. To provide benchmark datasets to improve parameterization in global ocean and climate models FIELD ACTIVITIESIn principle, two types of activities will take place during the 2025 joint expedition: physical oceanography and sampling activities. The marine scientific research expedition will last for 31 days, with the activity groups during the expedition outlined as follows. A. Physical Oceanography Activity1. Snapshot MeasurementThe survey will conduct snapshot measurements of CTD, ADCP and Single Beam Echosounder (SBES) measurements during the scientific cruising of the expedition. The cruising speed between stations is expected to be 7 knots. The datasets collected are in digital format (recorded by the instruments). Totally, there will be 46 CTD stations. The station positions (coordinates) for the CTD cast are shown in Figure 1Figure 1.Geographical distribution of CTD stations, mooring placements and recovery during IMPOLSE 2025. Note that the TRBM and ARGO deployment are cancelled during the IMPOLSE 2025.2. Deploy, Rotate and Recovery of the Moored InstrumentsSix moorings will be handled during the expedition, i.e., in the Lifamatola Passage (2), Maluku Channel (3), Halmahera Sea (1) will be retrieved. Four moorings in the: Makassar Strait (1), Lombok Strait (1), will be newly deployed (tentative). Two moorings in the Maluku Channel will be rotated. Map of the proposed locations is shown in Figure 1. Only related to electronic data obtained by the mooring instruments. B. Sample Involved Activity (SIA)These Sample Involved Activities will be collected by Indonesian and Chinese scientists. Samples agreed by both sides will be carried out during the joint cruise. There are several material samples will be collected during the cruise, including seawater, suspended particles, microplastics, and sediments. Several sample collection work will be done during the cruise.. MOORING INSTRUMENTSome instruments and equipment needed for the mooring deployment are available and stored in the Warehouse in KST BJ Habibie PUSPIPTEK-BRIN, Serpong, Indonesia. All instruments will be handled by Directorate for Research Vessel Management, Deputy for Infrastructure Research and Innovation. Table 4 shows the detail of instruments needed for the IMPOLSE 2025. RESEARCH VESSELKR Geomarin IIIFigure 2. KR Geomarin IIITabel 2. KR Geomarin III SpecificationVessel NameK/R. GEOMARIN IIIRegistration PortCirebon, IndonesiaShip TypeMultipurpose Research VehicleClassBKI (Biro Klasifikasi Indonesia), NK (Nippon Kaiji Kyokai)BuilderPT PAL SurabayaLaunching2010GRT1254 GTLength Overall61.7 mBreadth 12 mDraft 3.7 mMaximum Speed13.5 KnotsSurvey Speed4.5 KnotsFuel Tank Capacity267 m3Fresh Water Capacity124 m3Main Engine Yanmar540 HPBowthruster400 HPFuel Consumption8.5 Kl/dayElectric Generator3 x 350 KWEndurance30 daysVessel crew21 personTechnician & scientist30 person Tabel 3 EquipmentNameType2D SeismikSercel 428 (240 channel, 1500 Cu In, Kompressor Atlas Copco 2 x 800 CFM)Marine GravimeterLa Coste MGS-6Marine MagneticSespy 2Sediment SamplingGravity Core, Box Core, Piston Core and GrabMultibeam EchosounderSimrad EM-3000, R2SonicSinglebeam EchosounderMK II, MK III, Reson 420Sub Bottom ProfilingSyquest 2010, StrataboxSide Scan SonarEdgetech 420, Klein 3000, StarfishADCPStationary and Dynamic CALL FOR PARTICIPANT TIMELINEActivityDate/PeriodCall AnnouncementSeptember 1 – September 14, 2025Administrative ReviewSeptember 1 – September 14, 2025Substantive ReviewSeptember 15 – September 20, 2025Final ResultsSeptember 22, 2025Sailing Departure (TENTATIVE)October – November 2025