BRIN Logo
Sign In

Skema RIIM dan Pendanaan Lainnya

Eksplorasi skema RIIM dan pendanaan lainnya

Filter Pencarian
Open
RIIM Start-Up
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 196
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

RIIM Start-Up

Skema Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Startup adalah pendanaan yang diberikan kepada startup berbasis riset agar menjadi perusahaan pemula yang mandiri, menguntungkan (profitable), dan berkelanjutan (sustainable). Startup dalam skema ini adalah perusahaan yang didirikan oleh minimal tiga orang, dengan tujuan untuk mengkomersialisasikan produk atau jasa yang berasal dari hasil riset.Skema ini bertujuan untuk mendorong komersialisasi hasil riset. Produk/jasa hasil riset yang diajukan dapat bersumber dari periset BRIN maupun dari masyarakat seperti perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga riset, akar rumput, atau lainnya. Startup yang lolos seleksi, selama berjalannya kontrak akan memperoleh pendanaan serta mendapatkan fasilitasi dan pendampingan inkubasi. Pendanaan RIIM Startup bersifat kompetitif, dengan sumber pendanaan berasal dari imbal balik dana abadi penelitian yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pendanaan yang diberikan sampai dengan Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) per tahun dengan jangka waktu maksimal 2 tahun (24 bulan). Dana yang diberikan dapat digunakan untuk pengembangan produk, proses produksi, pemasaran, perluasan akses pasar, branding produk, perizinan, dan sertifikasi produk.Ketentuan Penggunaan DanaPendanaan RIIM Startup dapat digunakan untuk:Honorarium: Honorarium Pembantu/Tenaga Lapangan;Honorarium Narasumber (Belanja Jasa Profesi);Bahan Baku Prototipe/Produksi Skala Terbatas:Bahan Baku atau Komponen Produksi;Biaya Jasa Maklon (Manufacturing Fee);Biaya Berlangganan;Belanja Sewa Terkait Produksi;Bahan pendukung kegiatan;Biaya Promosi;Perjalanan Dalam Negeri;Biaya perizinan dan sertifikasi produk;Biaya Pendaftaran HKI.Pendanaan RIIM Startup tidak dapat digunakan untuk:Honor/gaji untuk founder, co-founder, c-level executive;Belanja modal kecuali untuk komponen produk;Biaya berlangganan seperti listrik, air, telepon, pulsa, internet, aplikasi meeting online ;Belanja sewa seperti kendaraan operasional, ruang rapat, gedung pertemuan, sewa lahan;Biaya iklan;Biaya perjalanan luar negeri;Biaya jasa konsultan;Penggunaan lainnya yang tidak relevan dengan pencapaian luaran dari RIIM Startup.HAL-HAL YANG PERLU MENJADI PERHATIAN:Isian instansi pada biodata pengusul harus sama dengan nama perusahaan startup yang tercantum dalam proposal. Jika nama instansi tidak tersedia dalam sistem, silakan hubungi email: dana-risnov@brin.go.id.Lampiran proposal harus lengkap sesuai dengan sistematika yang ditentukan.Penetapan bidang fokus didasarkan pada masalah yang ingin diselesaikan oleh produk hasil riset yang diusulkan dalam proposal.Bidang fokus startup dapat diakses melalui laman https://s.brin.go.id/l/bidangfokustartup.Penyusunan anggaran mengacu pada juknis yang dapat dilihat pada tautan berikut: https://s.brin.go.id/l/JuknisRAB-RIIMStartup.

Open
Pengujian Produk Inovasi Kesehatan
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 17
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

Pengujian Produk Inovasi Kesehatan

Skema ProgramSkema Pengujian Produk Inovasi Kesehatan merupakan Skema Pengujian dari BRIN sebagai penyedia program dan sponsor bersama mitra industri untuk melakukan pelaksanaan pengujian pra-klinik atau uji klinik atas kandidat produk inovasi kesehatan yang akan diedarkan. Skema ini terbuka bagi industri yang bekerjasama dengan Periset pemilik kekayaan intelektual dari BRIN, perguruan tinggi, atau Lembaga riset. Skema ini merupakan Skema penyediaan laboratorium pengujian atau Organisasi Riset Kontrak (ORK)/Clinical Research Organization (CRO) untuk melakukan pelaksanaan pengujian pra-klinik atau klinik atas kandidat produk inovasi kesehatan. Tipe ProgramSkema Pengujian Produk Inovasi Kesehatan terdiri dari 3 tipe program yaitu :      A. Pelaksanaan uji pra-klinik Produk Inovasi Kesehatan     B. Pengajuan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) ke Regulator     C. Pelaksanaan uji klinik Produk Inovasi Kesehatan. BidangPrioritasObjek yang dapat difasilitasi dalam Skema Pengujian Produk Inovasi Kesehatan merupakan kandidat-kandidat yang telah terbukti secara ilmiah dari:obat herbal terstandar;fitofarmaka;obat;vaksin;alat kesehatan;pangan berklaim; dan/ataukosmetika.

Open
Pengujian Produk Inovasi Teknologi
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 8
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

Pengujian Produk Inovasi Teknologi

Skema ProgramSkema Pengujian Produk Inovasi Teknologi yang selanjutnya disebut Skema PPIT adalah skema fasilitasi riset dan inovasi yang dilaksanakan oleh BRIN bekerja sama dengan LPDP untuk melakukan hilirisasi hasil riset bidang teknologi menjadi produk yang dapat diproduksi secara massal di industri dan digunakan oleh industri, masyarakat, dan/atau pemerintah, sebagai bagian dari Program Pendanaan RIIM.Tujuanmenghasilkan produk Inovasi Teknologi yang telah atau lolos uji dan siap dimanfaatkan secara luasbagi masyarakat;mendorong sinergisme dan kolaborasi antara BRIN, lembaga pengujian, dan industri dalam kerangka pemanfaatan hasil riset; danmendorong percepatan hilirisasi hasil riset bidang teknologi.Luarandokumen data dan informasi hasil PPIT yang dikeluarkan oleh lembaga pengujian yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan regulator;dokumen kekayaan intelektual yang dimanfaatkan; danproduk Inovasi Teknologi yang teruji dan terstandarisasi serta siap untuk diproduksi dan dipasarkan.Objek Prioritasyang dapat difasilitasi melalui Skema PPIT merupakan hasil riset yang telah terbukti secara ilmiah antara lain meliputi:elektronika dan informatika;energi dan manufaktur;hayati dan lingkungan;kebumian dan maritim;nanoteknologi dan material;penerbangan dan antariksa;tenaga nuklir; dantransportasi;

Open
RIIM Start-Up
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 379
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

RIIM Start-Up

Skema Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Startup adalah pendanaan yang diberikan kepada startup berbasis riset agar menjadi perusahaan pemula yang mandiri, menguntungkan (profitable), dan berkelanjutan (sustainable). Startup dalam skema ini adalah perusahaan yang didirikan oleh minimal tiga orang, dengan tujuan untuk mengkomersialisasikan produk atau jasa yang berasal dari hasil riset.Skema ini bertujuan untuk mendorong komersialisasi hasil riset. Produk/jasa hasil riset yang diajukan dapat bersumber dari periset BRIN maupun dari masyarakat seperti perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga riset, akar rumput, atau lainnya. Startup yang lolos seleksi, selama berjalannya kontrak akan memperoleh pendanaan serta mendapatkan fasilitasi dan pendampingan inkubasi. Pendanaan RIIM Startup bersifat kompetitif, dengan sumber pendanaan berasal dari imbal balik dana abadi penelitian yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pendanaan yang diberikan sampai dengan Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) per tahun dengan jangka waktu maksimal 2 tahun (24 bulan). Dana yang diberikan dapat digunakan untuk pengembangan produk, proses produksi, pemasaran, perluasan akses pasar, branding produk, perizinan, dan sertifikasi produk.Ketentuan Penggunaan DanaPendanaan RIIM Startup dapat digunakan untuk:Honorarium: Honorarium Pembantu/Tenaga Lapangan;Honorarium Narasumber (Belanja Jasa Profesi);Bahan Baku Prototipe/Produksi Skala Terbatas:Bahan Baku atau Komponen Produksi;Biaya Jasa Maklon (Manufacturing Fee);Biaya Berlangganan;Belanja Sewa Terkait Produksi;Bahan pendukung kegiatan;Biaya Promosi;Perjalanan Dalam Negeri;Biaya perizinan dan sertifikasi produk;Biaya Pendaftaran HKI.Pendanaan RIIM Startup tidak dapat digunakan untuk:Honor/gaji untuk founder, co-founder, c-level executive;Belanja modal kecuali untuk komponen produk;Biaya berlangganan seperti listrik, air, telepon, pulsa, internet, aplikasi meeting online ;Belanja sewa seperti kendaraan operasional, ruang rapat, gedung pertemuan, sewa lahan;Biaya iklan;Biaya perjalanan luar negeri;Biaya jasa konsultan;Penggunaan lainnya yang tidak relevan dengan pencapaian luaran dari RIIM Startup.HAL-HAL YANG PERLU MENJADI PERHATIAN:Isian instansi pada biodata pengusul harus sama dengan nama perusahaan startup yang tercantum dalam proposal. Jika nama instansi tidak tersedia dalam sistem, silakan hubungi email: dana-risnov@brin.go.id.Lampiran proposal harus lengkap sesuai dengan sistematika yang ditentukan.Penetapan bidang fokus didasarkan pada masalah yang ingin diselesaikan oleh produk hasil riset yang diusulkan dalam proposal.Bidang fokus startup dapat diakses melalui laman https://s.brin.go.id/l/bidangfokustartup.Penyusunan anggaran mengacu pada juknis yang dapat dilihat pada tautan berikut: https://s.brin.go.id/l/JuknisRAB-RIIMStartup.

Open
Pengujian Produk Inovasi Pertanian
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 6
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

Pengujian Produk Inovasi Pertanian

Skema ProgramSkema Pengujian Produk Inovasi Pertanian yang selanjutnya disebut Skema PPIP adalah skema fasilitasi riset dan inovasi yang bertujuan mendorong percepatan hilirisasi hasil riset bidang pertanian, Perkebunan, peternakan, dan perikanan sebagai bagian dari Program Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju.Tujuan:Menghasilkan produk inovasi bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang teruji dan siap dimanfaatkan secara luas bagi masyarakat;Mendorong sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga litbang, perguruan tinggi, lembaga pengujian dan industri dalam kerangka pemanfaatan hasil riset; danMendorong percepatan hilirisasi hasil riset bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.Luaran:Dokumen data dan informasi hasil pengujian produk inovasi bidang pertanian, Perkebunan, peternakan, dan perikanan yang dikeluarkan oleh lembaga uji yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan regulator.Dokumen Kekayaan Intelektual yang dimanfaatkan.Produk inovasi bidang pertanian, Perkebunan, peternakan, dan perikanan yang teruji dan terstandarisasi serta siap untuk diproduksi dan dipasarkan.Objek Prioritasyang dapat difasilitasi merupakan hasil riset yang telah terbukti secara ilmiah yang meliputi namun tidak terbatas pada:varietas bibit unggul, seperti tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, dan tanaman pakan ternak;pakan ternak dan pakan ikan;pupuk;penanggulangan hama (pestisida, herbisida, dll);rumpun/galur ternak;obat dan vaksin hewan; danbenih/bibit ternak dan ikan. 

Open
Pengujian Produk Inovasi Pertanian
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 4
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

Pengujian Produk Inovasi Pertanian

Skema ProgramSkema Pengujian Produk Inovasi Pertanian yang selanjutnya disebut Skema PPIP adalah skema fasilitasi riset dan inovasi yang bertujuan mendorong percepatan hilirisasi hasil riset bidang pertanian, Perkebunan, peternakan, dan perikanan sebagai bagian dari Program Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju.Tujuan:Menghasilkan produk inovasi bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang teruji dan siap dimanfaatkan secara luas bagi masyarakat;Mendorong sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga litbang, perguruan tinggi, lembaga pengujian dan industri dalam kerangka pemanfaatan hasil riset; danMendorong percepatan hilirisasi hasil riset bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.Luaran:Dokumen data dan informasi hasil pengujian produk inovasi bidang pertanian, Perkebunan, peternakan, dan perikanan yang dikeluarkan oleh lembaga uji yang terakreditasi sesuai dengan ketentuan regulator.Dokumen Kekayaan Intelektual yang dimanfaatkan.Produk inovasi bidang pertanian, Perkebunan, peternakan, dan perikanan yang teruji dan terstandarisasi serta siap untuk diproduksi dan dipasarkan.Objek Prioritasyang dapat difasilitasi merupakan hasil riset yang telah terbukti secara ilmiah yang meliputi namun tidak terbatas pada:varietas bibit unggul, seperti tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, dan tanaman pakan ternak;pakan ternak dan pakan ikan;pupuk;penanggulangan hama (pestisida, herbisida, dll);rumpun/galur ternak;obat dan vaksin hewan; danbenih/bibit ternak dan ikan. 

Open
RIIM Kompetisi Eksternal BRIN
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 891
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

RIIM Kompetisi Eksternal BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan menyelenggarakan skema program pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi. Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi adalah pendanaan riset yang diberikan kepada institusi/lembaga riset untuk melaksanakan kegiatan pencarian novelty/kebaharuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut oleh pemangku kepentingan dengan tujuan mengimplementasikan hasil riset tersebut. Dalam pelaksanaan Program pendanaan RIIM Kompetisi diharapkan akan:meningkatkan jumlah riset untuk mendapatkan novelty atau kebaharuan teknologi dan hasil riset lainnya;meningkatkan jumlah invensi dari hasil riset yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk menghasilkan inovasi;meningkatkan kontribusi aktif pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun swasta dalam kegiatan riset; danmeningkatkan kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terkait riset yang mampu bersaing secara global.Fokus riset dan inovasi adalah riset dan inovasi terkait pangan termasuk kesehatan dan energi, serta dimungkinkan pula untuk tema-tema lainnya, seperti penerbangan, antariksa, hayati, lingkungan, elektronika dan informatika, manufaktur, nanoteknologi, material, kebumian dan maritim, tenaga nuklir, sosial dan humaniora, arkeologi, bahasa, sastra, tata kelola pemerintahan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.Kegiatan riset yang tidak dapat menerima pendanaan RIIM Kompetisi ini adalah riset ekspedisi, eksplorasi dan studi lapangan, riset klinis, uji pra klinik, uji klinik, uji validasi atau uji mutu, riset terkait sawit, proses manufaktur, riset aksi, survey,  riset kebijakan serta riset dengan tema-tema yang ditetapkan pada skema RIIM lainnya.Pendanaan RIIM dapat diakses oleh semua periset Warga Negara Indonesia (WNI) yang berasal dari Lembaga Riset, Perguruan Tinggi (PT), Badan Usaha, dan Organisasi Kemasyarakatan dengan mekanisme yang telah diatur. Pendanaan dapat digunakan untuk belanja bahan, perjalanan yang terkait langsung dengan riset dan honor tenaga lapangan.Program dibuka sepanjang tahun dengan seleksi secara periodik.Dokumen pendukung pelaksanaan kegiatan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) dapat diakses pada laman: https://s.brin.go.id/l/riimkompetisi

Open
Akuisisi dan Pengelolaan Pengetahuan Data Keanekaragaman Hayati, Arkeologi, dan Geologi
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 28

Akuisisi dan Pengelolaan Pengetahuan Data Keanekaragaman Hayati, Arkeologi, dan Geologi

Latar BelakangSebagai National Focal Point untuk Convention on Biological Diversity (CBD), BRIN juga memiliki peran strategis dalam merumuskan kebijakan nasional terkait keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya ilmiah lainnya. Untuk menjawab tantangan dan menjalankan mandat tersebut, program “Akuisisi dan Pengelolaan Pengetahuan Data Keanekaragaman Hayati, Arkeologi, dan Geologi” dirancang sebagai upaya strategis. Program ini bertujuan untuk mengakuisisi, mengekstraksi, dan menyajikan data koleksi ilmiah secara lebih mendalam dan terintegrasi. Dengan pendekatan berbasis big data dan teknologi mutakhir, program ini berupaya memastikan ketersediaan dan keterpakaian data bagi komunitas ilmiah, sektor industri, dan pembuat kebijakan.Salah satu komponen utama program ini adalah pengembangan Repositori Ilmiah Nasional (RIN), yang berfungsi sebagai platform utama penyimpanan dan penyediaan data koleksi ilmiah secara digital. Teknologi seperti sekuensing DNA, pencitraan 2D/3D, analisis biokimia, dan penanggalan radiometrik akan digunakan untuk memperkaya konten data koleksi yang dihasilkan.Selaras dengan arah kebijakan nasional, program ini mendukung visi Indonesia untuk menjadi pusat riset global berbasis kekayaan alam dan budaya. Dengan sistem data ilmiah yang terstruktur dan berbasis teknologi, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan posisi tawarnya dalam kolaborasi riset internasional, serta mampu memantau dan mengelola sumber daya secara non-invasif dan berkelanjutan.Dengan demikian, program ini tidak hanya memperkuat infrastruktur data ilmiah nasional, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui pendekatan akuisisi dan pengelolaan data yang lebih modern dan terpadu, Indonesia dapat mendorong inovasi berbasis kekayaan lokal, serta menjamin kelestarian sumber daya hayati, arkeologi, dan geologi bangsa.TujuanProgram “Akuisisi dan Pengelolaan Pengetahuan Data Keanekaragaman Hayati, Arkeologi, dan Geologi” bertujuan untuk:Melakukan akuisisi, ekstraksi, dan perangkuman informasi karakteristik sumber daya hayati, arkeologi, dan geologi berdasarkan koleksi ilmiah nasional;Menghasilkan big data koleksi ilmiah yang komprehensif, akurat, terbarui, dan tervalidasi dengan memanfaatkan teknologi modern;Menyusun sistem data koleksi ilmiah terpadu dan terstandar yang dapat diakses oleh berbagai pemangku kepentingan;Mendukung pengembangan Repositori Ilmiah Nasional (RIN) sebagai rujukan utama penyediaan data ilmiah untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi, inovasi, serta perumusan kebijakan berbasis sains.ManfaatMeningkatkan ketersediaan data ilmiah yang berkualitas melalui sistem dokumentasi koleksi yang lebih mendalam dan terintegrasi;Mendukung riset lintas bidang dan multidisiplin, termasuk dalam studi biodiversitas, geologi, konservasi, hingga bioinformatika;Mendorong pemanfaatan teknologi terkini seperti sekuensing DNA, digital imaging, dan spektrometri untuk memperkaya informasi koleksi;Memperkuat infrastruktur nasional bidang data ilmiah, sehingga meningkatkan daya saing dan kemandirian ilmu pengetahuan Indonesias;Mendukung transformasi digital pengelolaan koleksi ilmiah secara nasional untuk keberlanjutan data dan pengetahuan.Alur Kegiatan ProgramSecara teknis, alur kegiatan akusisi data hayati, arkeologi, dan geologi terdiri atas langkah-langkah berikut (sebagaimana ditampilkan pada Gambar di link ini https://drive.google.com/file/d/1FPbyMdRaq6PZhPCzC6WBxw3bcoLX4XWB/view?usp=sharing):Pengusulan dan Penyerahan Spesimen oleh Periset. Periset, dalam hal ini sebagai Depositor, mengusulkan spesimen koleksi melalui RIN. Usulan harus disertai dengan data awal spesimen serta dokumen pendukung lainnya. Kemudian juga melakukan penyerahan spesimen ke Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN. Penyerahan dapat melalui Wajib Serah Wajib Simpan (WSWS) atau skema lainnya;Verifikasi dan Validasi Spesimen. Usulan spesimen kemudian dikurasi dan dilakukan evaluasi kelayakan untuk analisis lebih lanjut. Pada tahap ini Depositor direkomendasikan untuk mengajukan pendanaan dan fasilitasi RIIM untuk analisis lanjutan dari spesimen calon koleksi/koleksi ilmiah yang diteliti;Pengajuan Pendanaan dan Fasilitasi RIIM. Spesimen yang telah melalui verifikasi dapat diajukan ke dalam skema pendanaan RIIM untuk difasilitasi analisis lanjut. Proses ini mencakup seleksi berdasarkan kelayakan ilmiah, kesiapan laboratorium, dan relevansi dengan sub-tema program. Kegiatan RIIM Akuisisi juga meliputi layanan analisis protein tunggal (Single Protein Analysis), Cryo-tomography dan pemrosesan data Cryo-EM untuk rekonstruksi dengan memanfaatkan fasilitas HPC BRIN hingga diperoleh struktur 3D protein;Pelaksanaan Analisis dan Pengujian di Laboratorium. Spesimen calon koleksi/koleksi ilmiah dianalisis menggunakan metode sesuai sub-tema: sekuensing DNA, pencitraan struktur 3D, radiometri, biokimia, dan komposisi material. Seluruh proses mengacu pada SOP laboratorium BRIN dan standar mutu yang berlaku;Input dan Integrasi Data ke Repositori Ilmiah Nasional (RIN). Hasil data yang telah terverifikasi dikurasi dan dimasukkan ke sistem RIN untuk dapat diakses oleh publik maupun pemangku kepentingan tertentu dengan pengaturan akses berbasis kebijakan data terbuka;Pemanfaatan Data untuk Analisis Lanjut. Data yang telah terunggah ke RIN dapat dimanfaatkan oleh periset, institusi, dan mitra lain untuk keperluan riset lanjutan, konservasi, edukasi, pemodelan kebijakan, atau inovasi teknologi berbasis sumber daya alam.Alur Kerja Open Call ProposalLaunching dan Sosialisasi programMengisi formulir di https://pendanaan-risnov.brin.go.idsumbit proposal sesuai dengan template, template dapat diakses pada link :verifikasi administrasi dan seleksipenetapan surat keputusanpengajuan uji/ karakterisasi di laboratoriumpelaksanaan uji/ karakterisasi di laboratoriumInput data ilmiah hasil uji/ karakterisasi di laboratoriumMonev dan publikasi ilmiah Ruang Lingkup KegiatanKegiatan ini menyediakan skema pendanaan untuk analisis lanjutan spesimen calon koleksi/koleksi ilmiah. Setiap pendekatan analisis disesuaikan dengan jenis spesimen, tujuan ilmiah, dan kesiapan fasilitas laboratorium. Data hasil analisis akan dikurasi dan diunggah ke RIN dengan mempertimbangkan interoperabilitas dan standar dokumentasi koleksi. Adapun jenis analisis yang dapat difasilitasi adalah sebagai berikut:1. Karakterisasi Data DNASpesimen calon koleksi atau koleksi hayati diwajibkan memiliki data molekuler berupa DNA. Karakterisasi DNA dilakukan melalui proses sekuensing, dengan metode yang disesuaikan berdasarkan jenis spesimen koleksi. Beberapa metode dan layanan sekuensing yang tersedia di BRIN dan dapat difasilitasi untuk memenuhi kebutuhan data minimum koleksi ilmiah meliputi:a) Sanger Sequencing, digunakan untuk mendapatkan informasi genetik dari fragmen DNA yang pendek. Metode ini akurat dan cepat, serta cocok untuk spesimen mikroorganisme, hewan, dan tumbuhan.b) Whole Genom Sequencing, digunakan untuk memperoleh informasi menyeluruh dari seluruh genom organisme. Dapat diaplikasikan pada spesimen mikroorganisme, hewan, tumbuhan, dan juga sel tunggal (single-cell).c) Amplicon Sequencing, Digunakan untuk mengkarakterisasi DNA pada fragmen target tertentu (targeted gene regions), seperti gen barcode. Cocok untuk studi komunitas mikroba, identifikasi taksonomi, dan karakterisasi spesimen lingkungan atau asosiasi dengan inang. 2. Karakterisasi Struktur dan Morfologi dengan Digitalisasi ImagingAnalisis ini berfokus pada karakterisasi fisik dan anatomi spesimen, baik makroskopik maupun mikroskopik. Aktivitas ini mencakup juga digitalisasi dan dokumentasi visual struktur artefak, batuan, manuskrip, serta jaringan biologis. Karakterisasi struktur morfologi dapat difasilitasi untuk bahan kimia karakterisasi dan penggunaan alat dokumentasi berupa mikroskop yang dilengkapi dengan software penangkap gambar.Untuk koleksi manuskrip, digitalisasi dilakukan berdasarkan jenis bahan, menggunakan teknik fotografi standar tinggi dengan kamera DSLR satu digit, sistem pencahayaan, tripod, alas khusus, alat pengukur warna, dan alat ukur dimensi manuskrip. Hasil digitalisasi digunakan untuk kajian kodikologi (fisik manuskrip), paleografi (gaya tulisan), serta rekonstruksi bentuk dan struktur.Koleksi batuan dan fosil juga dianalisis secara morfologis melalui imaging 2D/3D serta mikroskopi elektron untuk struktur dalam dan luar. Pendekatan teknologi yang difasilitasi yaitu Micro-CT dan Cryo-EM. 3. Karakterisasi Komposisi Kimia dan MineralSub-tema ini mencakup karakterisasi unsur, senyawa kimia, dan komposisi material dari koleksi geodiversitas, artefak, maupun manuskrip. Tujuannya adalah memahami sifat biokimia, kandungan mineral, serta proses pembentukan batuan dan artefak. Kegiatan meliputi:• Analisis petrografi dan mineralogi melalui sayatan tipis batuan• Analisis paleontologi (mikroskopis dan makroskopis) untuk mengkaji lingkungan pengendapan dan paleoklimat• Identifikasi unsur kimia dan logam dari sampel batuan• Kajian kandungan kimia manuskrip dan bahan penulisannya Pendekatan dilakukan dengan berbagai metode alat antara lain:• XRF, X-Ray Fluoresence untuk mengetahui kandungan unsur utama dan unsur jejak yang terkandung dalam batuan• XRD (X-Ray Diffraction)  untuk mengidentifikasi komposisi mineral pada batuan.• ICP-OES (Inductively Coupled Plasma – Optical Emission Spectrometry) untuk mendeteksi elemen kimia dan kadar logam multi-unsur.• ICP-MS (Inductively Couple Plasma- Mass Spectrometry untuk menguji kadar unsur jejak , unsur tanah jarang dan isotop unsur stabil dan tak stabil• AAS (Atomic Absortion Spectrometer) untuk mengetahui kandungan unsur logam dalam sampel batuan. 4. Penanggalan Radiometrik dan PeriodisasiAnalisis ini bertujuan menentukan usia relatif dan absolut dari koleksi geologi, arkeologi, dan manuskrip. Untuk manuskrip, penanggalan dilakukan melalui analisis bahan dan teks, baik secara filologis maupun menggunakan metode laboratorium. Penentuan waktu ini berimplikasi pada kajian historis dan konteks budaya.Koleksi batuan dan artefak dianalisis menggunakan teknik penanggalan radiometrik untuk menentukan usia formasi geologi dan objek arkeologis. Pendekatan teknologi menggunakan Radiometri 14C.

Open
Pusat Kolaborasi Riset Internasional
Pendaftaran: 11 Oct 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 16
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

Pusat Kolaborasi Riset Internasional

Pusat Kolaborasi Riset Internasional adalah skema yang memfasilitasi, mendukung, dan mendorong kolaborasi riset antar negara dan lintas disiplin ilmu antara periset dalam dan luar negeri. Target luaran tahunan PKR meliputi capaian indikator academic excellence, product/services, dan social and economic benefit, dan external funding.Keberlanjutan pendanaan setiap tahunnya akan didasari hasil evaluasi capaian kinerja pada tiap tahun tersebut. fasilitasi PKR dapat digunakan untuk:Fasilitas Penguatan Pusat Kolaborasi Riset Internasionalpenyelenggaraan scientific meeting 1-2 kali/ tahun, perijinan peneliti asing, wajib serah wajib simpan, rekognisi Pusat Kolaborasi Riset Internasional;Mobilitas Periset Skema Mobilitasperjalanan luar negeri untuk join research visit, Research Assistant, Postdoc, Visiting Researchers, Program Pascasarjana berbasis Riset (Degree by Research);Fasilitas Infrastruktur Fasilitas Infrastrukturlokasi kantor Pusat Kolaborasi Riset Internasional, fasilitas Elsa Poin (hanya diberikan sekali dalam satu periode program fasilitasi untuk periset S3 selain Badan Riset dan Inovasi Nasional), dan belanja modal.Fasilitas Operasional Pusat Kolaborasi Riset Internasional dengan anggaran Organisasi Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional Fasilitas Operasional Pusat Kolaborasi Riset Internasionalperjalanan dinas dalam negeri, belanja operasional lainnya, dan biaya bahan penelitian; danFasilitas Operasional Pusat Kolaborasi Riset Internasional oleh Sekretariat Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional Fasilitas Operasional Pusat Kolaborasi Riset Internasionalpersonel administrasi, personel keuangan, dan personel humas.  

Open
Call for Proposal (CFP) Ruang Uji Pemikiran Alternatif (RUPA) Future Society
Pendaftaran: 01 Oct 2026 - 15 Oct 2026
Proposal Masuk: 24
Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora

Call for Proposal (CFP) Ruang Uji Pemikiran Alternatif (RUPA) Future Society

Call for ProposalPRIS - RUPA Future SocietyOrganisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang para periset untuk berkolaborasi dalam Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS) Ruang Uji Pemikiran Alternatif (RUPA) Future Society. Tentang RUPA Future SocietyRUPA Future Society mengembangkan pendekatan interdisipliner untuk memahami perubahan masyarakat Indonesia menuju 2045 dengan mengintegrasikan big data, ilmu sosial dan humaniora, Citizen Social Science (CSS), serta strategic foresight. Pendekatan ini tidak hanya mengidentifikasi pola, tren dan sinyal perubahan, tetapi juga memahami perubahan tersebut melalui pengalaman masyarakat serta konteks sosial, budaya, historis, kelembagaan, dan politik.Kerangka kajian RUPA Future Society mencakup identifikasi isu dan drivers of change, integrasi dan analisis data multidimensional, keterlibatan masyarakat dan knowledge co-production, identifikasi critical uncertainties, pengembangan skenario dan future trajectories, hingga validasi serta penyusunan Future Society Monitoring Framework. Pendekatan ini diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan mengenai masa depan yang berbasis evidensi sekaligus berorientasi pada manusia (human-centered evidence-based futures) serta mendukung pembangunan yang lebih adaptif, inklusif, dan responsif terhadap berbagai kemungkinan masa depan. Lokasi KajianKegiatan penelitian dilaksanakan melalui penelitian lapangan di 10 provinsi, dengan pengolahan dan analisis data di BRIN, Jakarta. Pemilihan provinsi dilakukan secara purposive untuk merepresentasikan keragaman kondisi, tekanan, dan dinamika sosial-demografi sebagai konteks untuk menguji kerangka foresight. Pemilihan lokus tidak dimaksudkan untuk mencapai keterwakilan statistik nasional, tetapi untuk menangkap variasi drivers of change, tekanan, kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang dapat membentuk berbagai kemungkinan Future Society Indonesia menuju 2045.Provinsi lokasi kajian:AcehLampungJawa TimurDaerah Istimewa Yogyakarta (DIY)BaliNusa Tenggara Timur (NTT)Kalimantan TimurSulawesi SelatanSulawesi TengahMalukuTema dan Subtema RisetRUPA Future Society mencakup 4 tema riset dan 13 subtema sebagai berikut:No.Tema RisetSub-Tema1Transisi Demografi1.1 Keluarga Menua dan Ekonomi Perawatan1.2 Mobilitas Penduduk dan Transformasi Keluarga1.3 Pembentukan Keluarga dan Fertilitas2Kualitas Penduduk untuk Menghadapi Future Society Indonesia 20452.1 Transisi Gizi, Perubahan Gaya Hidup, dan Kesehatan Digital dalam Menghadapi Triple Burden of Malnutrition2.2 Pembelajaran Sepanjang Hayat (Lifelong Learning) dan Kesiapan Kapabilitas Penduduk untuk Future Society2.3 Kesiapan Penduduk Menghadapi Transformasi Dunia Kerja Masa Depan2.4 Resiliensi Sosial dan Sistem Perlindungan Adaptif dalam Menghadapi Future Society3Penduduk, Lingkungan, dan Risiko Masa Depan3.1 Dinamika Penduduk dan Transformasi Ruang Perkotaan-Perdesaan3.2 Konsumsi, Sumber Daya, dan Keberlanjutan Lingkungan3.3 Risiko Bencana, Kerentanan dan Resiliensi Penduduk4Demokrasi Masa Depan4.1 Partisipasi politik masyarakat, perempuan, pemuda, dan kelompok rentan yang bermakna4.2 Pemanfaatan platform dan alat digital untuk meningkatkan peran dan partisipasi publik (civic tech) dan masa depan demokrasi4.3 Politik identitas dan masa depan demokrasiKetiga belas subtema tersebut menjadi ruang eksplorasi untuk mengidentifikasi perubahan, memahami interaksi antar faktor, serta mengeksplorasi berbagai kemungkinan lintasan masa depan masyarakat Indonesia. 

Open
Riset Ilmiah Kelautan
Pendaftaran: 29 Sep 2026 - 11 Oct 2026
Proposal Masuk: 31

Riset Ilmiah Kelautan

CALL FOR PPROPOSALINDONESIA MISSION 2026 : MARINE SCIENCE LANDSCAPE OF ALOR AND ITS ADJACENT INDIAN OCEAN (Tracing extreme upwelling events, deepwater biodiversity, and ecosystem connectivity in the Pantar strait) BACKGROUNDOceanX is successfully deployed three marine scientific research in Indonesian waters, during past three years. In collaboration with Indonesian researchers coordinated by the National Research and Innovation Agency (BRIN), OceanX successfully support scientists to explore the ocean and to bring it back to the world through captivating media. Uniting leading media, science, and philanthropy partners, OceanX utilizes nextgen technology, fearless science, compelling storytelling, and immersive experiences to educate, inspire, and connect the world with the ocean and build a global community deeply engaged with understanding, enjoying, and protecting our oceans.The recommended program is an integrated physiochemical oceanography and biodiversity investigation that traces cold-water propagation from the southern Pantar Strait and adjacent Savu Sea into Mulut Kumbang Strait. The program would combine CTD and ADCP surveys, multibeam bathymetry, water chemistry, depth-stratified eDNA sampling, and direct deep-sea observation using sub-sea assets. It would be complemented by focused megafauna surveys within the broader Pantar Strait around Pura island and a possible coastal seagrass dugong workstream near Mali Beach in Northeast Alor. Similar methods will be deployed in the Indian Ocean south of Savu Basin to reveal the oceanographic connection as well as the effect of bathymetric features to the deep water biodiversity using various methods including eDNA alongside direct observation. REGIONAL SCIENCE MARINE-LANDSCAPEThe Sahul Shelf is a shallow marine region located north of Australia that extends westward to Indonesia, encompassing waters such as the Arafura Sea and the Timor Sea. This region is significantly influenced by the Indonesian Throughflow (ITF)—a crucial current flowing from the Pacific Ocean to the Indian Ocean through the Indonesian archipelago - which regulates global heat distribution and affects water circulation patterns in the Arafura and Timor Seas (Schneider, N., 1998; Sprintal et al., 2000). Furthermore, oceanographic dynamics on the Sahul Shelf are influenced by global phenomena such as El Niño and La Niña, as well as seasonal variations and the movement of the monsoon, which affect surface currents and sea temperatures in the region. Upwelling—a phenomenon characterized by cold, nutrient-rich seawater rising from the depths to the surface—commonly occurs in parts of the Sahul Shelf, such as the Timor Sea, significantly impacting biological productivity in the area. In addition, the Sahul Shelf is known for strong tides in shallower waters, which have a significant impact on sediment dynamics and ecosystems, including coral reefs and mangrove habitats.Two proposed location areas of interest, first focus is the adjacent Indian Ocean south of Savu Basin, and the second is Alor Strait, Pantar Straits and surrounding waters.Figure 1. Two proposed location areas. 1) Indian Ocean South of Savu Basin; 2) Alor and Surrounding Waters EXPEDITION PLANArea Focus 1: Indian Ocean of Savu BasinThe Indian Ocean south of the Savu Basin, is the primary exit gate of Indonesian Throughflow (ITF) from Pacific Ocean to Indian Ocean trough the semi-enclosed Savu Basin and small straits connecting the Banda Sea to the Savu Basin. This regian is a strategic region where marine physical, chemical, and biological dynamics converge. Physically, the ITF carries warm, relatively fresh water from the Pacific to the Indian Ocean, reinforcing thermocline stratification and influencing large-scale currents such as the South Equatorial Current. Chemically, this transport reduces the salinity of the surface layer, distributes nutrients across basins, and plays a role in the partial ventilation of the oxygen-minimum zone in the Indian Ocean. Biologically, the interaction between the current and monsoon winds triggers upwelling that increases primary productivity, supports plankton abundance, and enriches pelagic biodiversity—which is crucial for tropical fisheries. Thus, this region is not only a pathway for water mass exchange but also an ecological and chemical hub that determines regional and global oceanic balance. However, this location is almost unmapped and unexplored. A. Physical and chemical oceanographyFigure 5 displays a regional oceanographic map showing the climatological ocean currents for November (2023–2025) across four different depths in the Indonesian Seas (specifically around the Lesser Sunda Islands, Savu Sea, and Timor region) derived from Copernicus network (www.copernicus.eu). At the Surface and Upper Ocean Intensification (0.5m – 50m), the ITF exit transport is highly surface-intensified during November. High-velocity vectors (red/orange) show water gushing southward through the straits. This flow quickly bends westward and southwestward upon entering the open ocean. This reinforces the South Equatorial Current (SEC) in the Indian Ocean. The month of November represents a monsoonal transition phase. Surface winds drive strong local geostrophic responses here. Whereas, at Rapid Thermocline Decoupling (100m – 200m), the current magnitude drops drastically at 100 meters depth. At 200 meters, the flow is nearly stagnant (dark blue). This indicates strong vertical shear or baroclinic mode dynamics. The Deep Pacific water entry is restricted at these depths. Islands like Sumba, Rote, and Timor act as physical barriers and act as Topographic Steering. They constrict and accelerate the escaping water masses. This creates the localized jet visible in the 0.5 m panel. Figure 5. Images of ocean currents at 4 different depth: a) 0.5m; b) 50 m; c) 100 m and d)200 m (www.copernicus.eu). The ITF at this exit point to the Indian Ocean carries warm, relatively fresh water from the western Pacific to the Indian Ocean. South of the Savu Basin, this flow merges with the westward-moving South Equatorial Current (SEC). Meanwhile, the SEC’s path is influenced by seasonal and interannual winds, with Rossby waves modulating the current’s trajectory. This determines whether the ITF spreads westward toward Africa or southward through the Leeuwin Current off Australia. The ITF enhances the thermocline, amplifying temperature and density differences in the water column, thereby influencing vertical circulation and heat storage.The salinity of the ITF water mass is relatively lower than that of the Indian Ocean, so the mixing process will reduce salinity in the upper layers of the Indian Ocean. In terms of nutrients, changes in water mass stratification affect the distribution of nutrients (nitrate, phosphate, silicate). The ITF can transport nutrients from the western Pacific, but strong stratification limits their supply to the surface. On the other hand, variations in circulation affect dissolved oxygen in the intermediate layer. This region is associated with the Indian Ocean Oxygen Minimum Zone (OMZ), so ITF transport plays a role in partial ventilation.B. Bio-geochemical cycle in the Indian Ocean south of SavuBiogeochemical cycles in the southern Savu Basin, at the entrance to the Indonesian Throughflow (ITF), are shaped by a unique interaction between physical circulation, nutrient dynamics, and biological productivity. The ITF transports warm, relatively fresh Pacific water into the Indian Ocean, thereby altering the carbon and nutrient budgets in the region. Physically, this inflow enhances stratification and modulates vertical mixing, which in turn regulates how nutrients such as nitrate, phosphate, and silicate are supplied to the euphotic zone. Chemically, the ITF influences oxygen distribution in the upper and middle layers, contributing to the ventilation of the Indian Ocean’s oxygen-minimum zone while redistributing dissolved inorganic carbon. Biologically, seasonal upwelling and monsoon winds boost primary production, triggering plankton blooms that drive the cycles of organic matter and trace elements. The decomposition of organic particles sinking to the depths releases nutrients back into the water column, closing the biogeochemical cycle. Essentially, this region functions as a dynamic gateway where inputs from the Pacific Ocean reshape nutrient pathways, carbon fluxes, and ecosystem productivity in the Indian Ocean, with far-reaching consequences in both basins and extending into the global climate system.C. Biodiversity and Hadal EcosystemIn Savu Basin interaction between ITF and local current and wind may trigger upwelling, which increase the nutrient content in the surface. Change in salinity and temperature of the ITF affects the distribution of plankton, which forms the basis of the marine food chain. The ITF serves as a migration route for larvae and marine life between the Pacific and Indian Oceans, enriching biodiversity in the tropics. Variations in currents and productivity affect the stocks of large pelagic fish (such as tuna), making this region economically and ecologically important.Just south of the Savu Basin, the marine environment undergoes a striking and dramatic change. As the shallow straits give way to the open Eastern Indian Ocean, the seafloor drops sharply toward the Java Trench (also known as the Sunda Trench), which reaches extreme depths exceeding 7,000 meters. This is marked the deepest part of the entire Indian Ocean (depth > 7,000 meters) and hence a true hadal environment. The connection between the upper-ocean biodiversity fueled by the Indonesian Throughflow (ITF) and this extreme, deep-sea hadal ecosystem creates a highly unique vertical ecological engine.While baleen whales and dolphins stick to the upper photic zones and migratory corridors of the Savu Sea, deep-diving megafauna like sperm whales actively bridge these deep ocean zones. They dive thousands of meters down along the slopes of the trench to hunt large deep-sea squids, creating a direct predatory link between the rich surface layers and the bathyal/abyssal boundaries of the hadal zoneD. Geology of the transition zone between subduction and collisionSouth of the Savu Basin, the Indian Ocean records a critical tectonic transition where the Indo‑Australian Plate shifts from oceanic subduction beneath the Banda Arc to direct collision with the Australian continental margin. This process is geologically important because it produces intense seismicity, volcanism, and uplift, while also building complex accretionary prisms that incorporate oceanic and continental sediments. The collision drives the emergence of islands like Timor and Savu, reshaping the forearc and providing a natural laboratory for understanding how subduction zones evolve into continent–arc collisions. In essence, this region highlights the dynamic interplay of plate convergence, crustal deformation, and magmatism that defines the tectonic architecture of eastern Indonesia. Bathymetric data, sub bottom profiler and direct observation using ROV (where depth applicable) is importance to understand the geological process of this transition area.  Area Focus 2: Alor and Surrounding WatersA. Oceanographic and Bathymetric SettingThe Pantar Strait connects the Flores Sea to the north with the Savu Sea to the south (Figure 1). narrow passages, steep volcanic slopes, deep depressions, vigorous tides,   monsoon forcing, and interaction with the Indonesian Throughflow create strong spatial and temporal variability. Public bathymetric coverage remains incomplete, increasing the scientific value of targeted mapping and the operational importance of local knowledge.Figure 2. Regional setting with successive inlet zoom. Selat Pantar MPA circled in Panel 2.A deep southern basin has been reported at approximately 1,060 m and is a leading candidate for storage or transit of the EUE cold-water mass.A bowl-like depression south of Pura Island reaches approximately 800m depth; waters southwest of Ternate Island reach approximately 650 m.Steep bathymetry east of Pura Island may form a channel that focuses water toward Alor Kecil.Current velocities and associated dive risk vary strongly with season, tide, and local slope; modeled commercial-dive safety declines at multiple steep-slope sites and during spring tide (Prasetyo et al., 2024). Figure 3. (Left) Bottom Topography Map of Pantar Strait Observed by MBES for (a) the Whole MBES Track, (b) Southern Part of Pantar Strait, and (c) Middle Part of Pantar Strait. (Right) circles in (a) denote the detection of four submarine ridges at the southern part of Pura Island, while the black circles in (c) are the five basins (i.e., Basins A, B, C, D, and E) along the channel that connects the Mulut Kumbang Strait to the deepest basin at the southern part of Pantar Strait. B. Extreme upwelling events at Alor KecilWirasatriya et al. (2023) documented an unusual EUE in Mulut Kumbang Strait in which near-surface temperature fell by approximately 10°C within an hour, reaching about 12°C. The cooling was accompanied by a salinity increase from approximately 30 to 34-36, indicating the arrival of colder, saltier deep water. Events recur roughly twice daily for one to several days, are associated with strong flood tides, and have been observed from August through November. New-moon spring tides, followed by a lag of roughly one to four days, appear to provide a useful forecasting signal.The leading mechanism is tidal sloshing: a northward flood current transports deep, cold water through a bathymetric channel toward Mulut Kumbang Strait; the ebb tide and background circulation subsequently return the water southward. The existing evidence supports a deep southern-basin source, but it does not fully resolve whether the water originates within the Pantar Strait, is renewed from the Savu Sea, or reflects exchange between both systems. C. Biological signals and deepwater biodiversitySurface eDNA collected before, during, and after EUE conditions detected 323 fish taxa and included several deep-associated myctophids. Astuti et al. (2025) interpreted these detections as evidence that cold water may originate at or below approximately 1,000 m with possible origins pointing to the Savu sea – outside of the Pantar Strait entirely. The results establish a compelling biological signal, but surface eDNA alone cannot determine organism depth, direction of DNA transport, residence time, or whether detections represent living organisms transported toward the surface. Direct observations and depth-stratified sampling are therefore essential. D. Megafauna and nearshore habitatsAlor lies within a wider cetacean movement region shaped by deep channels and seasonal productivity. Dolphins have been observed feeding on fish rendered lethargic or unconscious during EUEs. The Alor Marine Protected Area also supports coral reefs, mangroves, seagrass, dugongs, sharks, rays, turtles, and migratory whales. Near Mali Beach, seagrass meadows and recurring dugong observations create a complementary coastal research opportunity with strong community and stewardship dimensions. Manta rays are an occasional visitor to Pantar Strait. Historically, their numbers were large than those observed today but due to the widespread use of gill netting, manta ray populations and sightings have become increasingly uncommon. Figure 4. Feeding behavior being driven by extreme upwelling. from Wirasatriya et al., 2026 E. MPA'sThere are marine and coastal protected areas throughout the region, including completely surrounding Komodo Island and the western half of Alor Island. Komodo, Alor, and Timor-Leste highlighted with a star, protected areas shown in teal; slightly shaded areas are within the Indonesian EEZ (Figure 4). Protected areas from World Database of Protected Areas (WDPA, https://www.protectedplanet.net/en/thematic-areas/wdpa?tab=WDPA)and no further investigation has been done as to level of protection imposed or general accessibility. Further, The area south Alor was indicated as a priority area for conservation in maps that circulated during general SoJi discussions.Figure 5. Marine Protected Areas (teal) and EEZ (yellow shaded). Tabel 1. Knowledge gapKnowledge gapDecision-driving questionCold-water originIs the principal source Basin E/southern Pantar Strait, the Savu Sea, or a connected sequence of reservoirs?Propagation pathwayWhich bathymetric channels and tide phases control the movement, vertical displacement, and retreat of the cold-water mass? What areas are unmapped in high resolution that would add to our understanding of source region?Water-mass identityWhat temperature, salinity, oxygen, nutrient, carbonate, and optical signatures distinguish the source water?Deep biodiversityWhich fishes, invertebrates, microbes, and gelatinous organisms occupy the deep southern basin and connecting slopes?Biological transportWhich organisms and larvae are transported by EUEs toward the surface?Food-web responseHow do plankton, fishes, dolphins, and other predators respond during and immediately after a cold pulse? RESEARCH PROGRAM1. GoalDetermine the origin, physical pathways, and ecological consequences of Alor's extreme upwelling by integrating basin-scale oceanography with deepwater biodiversity observation and molecular detection.Determine the origin, physical pathways, and ecological consequences of Indian Ocean South of Savu Basin as the major gateway of ITF to the Indian Ocean.2. ObjectivesResolve the EUE source water and quantify exchange between the Savu Sea, southern Pantar Strait basins, and Mulut Kumbang Strait;Map fine-scale bathymetry and identify the channels, sills, and slopes that control northward cold-water propagation;Measure event evolution: before, during, and after a forecast EUE using ship-based, time-series observations;Characterize deepwater vertebrate and invertebrate diversity using depth-stratified eDNA paired with ROV, camera, and acoustic observations both;Quantify changes in surface and midwater communities and examine predator responses, including dolphin feeding behavior;Develop a predictive model that demonstrates the mechanism of cold-water movement from the southern Pantar Strait to the Mulu Kumbang strait. STUDY DESIGN AND METHODS1. Spatial DesignNoStationLocationPurpose1Savu Sea ReferenceOutside southern Pantar Strait Characterize candidate source water before it enters the strait. Conduct water column CTD sampling at deepest points in Savu Sea towards Pantar Strait2Southern Basin/Basin EDeep southern Pantar Strait Profile the leading local source reservoir and deep biodiversity with CTD and eDNA sampling. Dive the depression and observe biodiversity in the submerged ancient river system3Pura South ChannelEast of Pura Island Resolve focused northward transport along steep bathymetry4Ternate SouthwestSouthwest of Ternate IslandProvide a deep comparison site and lateral transect control5Mulut Kumbang SouthSouthern mouth of the narrow straitCapture the incoming cold-water pulse before surface expression. 2. Integrated Work PackageThe integrated work package applies for Location 1 and Location 2.NoWork PackageCore Methods1WP 1: Seafloor and water-column mappingMultibeam bathymetry, sub-bottom context where feasible, shipboard ADCP, CTD2WP2: Water-mass characterizationTemperature, salinity, oxygen, fluorescence, turbidity, nutrients, chlorophyll, carbonate chemistry, and suspended particles.3WP3: Time-series observationMoored temperature/salinity/pressure sensors and current meters across the suspected pathway; rapid-response surface loggers at Alor Kecil.4WP4: Molecular biodiversityReplicated eDNA at surface, midwater, near-bottom, and reference depths; field blanks, extraction controls, technical replicates, and curated reference workflows.5WP5: Direct biological observationROV hydroacoustics, plankton imaging/nets, and annotated video6WP6: Megafauna response Standardized visual effort, passive acoustics, photo-identification, behavioral observations, and linkage to physical conditions. 7WP7: Modeling and synthesis Tide-resolving hydrodynamic model, particle/eDNA transport scenarios, and an event forecast product. RESEARCH VESSELOCEANXPLORERThe OceanXplorer measures 87.1 m long and 21.4 m wide and accommodates research and media activities for a maximum of 72 crew members. OceanXplorer is powered by four Caterpillar 3516B engines delivering a total power output of 1900 kW at 1,800 rpm. It has support vessels (a Metal Shark boat, two Zodiac Milpro Mk 6 HD inflatable boats, and Maritime Partner MP-741 Springer fast rescue craft) and the H125 Airbus resident helicopter. Figure 6. OceanXplorer Sonar Array and EquipmentIts sonar array, also known as the gondola, features two multibeam systems, the Kongsberg EM712 and EM304, capable of mapping to 3,600 m and 6,000 m respectively. This cutting-edge acoustic array enables high-resolution mapping of the seabed bathymetry. Working along other sensors, including those that visualize the top layers of seafloor substrate, currents, and biomass within the water column, these technologies provide scientists with all the data they need to deeply understand an entire ocean ecosystem from surface to the seafloor. The vessel is equipped with CTD, built-in collection systems, and scanners, as well as other equipment such as a 3D photogrammetry rig, and a hydrophone array. The vessel also features scuba diving facilities to equip up to 12 divers, dive cylinders, a recompression chamber, emergency oxygen gear, various dive scooters, and other required stuff. Deep Sea VehicleThe vessel features two manned Triton submersibles with the capacity to dive to more than 1000 m deep water for up to eight hours, Argus Mariner XL remotely operated vehicle (ROV) and Remus 6000 autonomous underwater vehicle (AUV) with the capability to explore up to 6,000m underwater. A 40t man-rated A-frame crane was installed to launch submersibles, towed sonar arrays, and other heavy equipment.Descending into the twilight zone, the ship’s two Triton submersibles are equipped with an array of science and media equipment. Neptune is configured to maximize science with a retractable tray for mounting scientific devices. Nadir doubles as a movie marine studio, broadcasting its discoveries to the surface in real time for audiences around the world.Figure 7. Deep-Sea VehicleWet and Dry LabsFour wet and dry labs are used for various purposes, such as microscopy, aquarium tanks, genetic sequencing, biofluorescent imaging, and visualization of samples from the ship’s various sensors.  Figure 8 Dry Labs CALL FOR PROPOSAL TIMELINE                   Activity               Date/PeriodCall AnnouncementSeptember 30 – October 11 2026Administrative ReviewOctober 11 – 12, 2026 Substantive ReviewOctober 12 – 18, 2026Final ResultsOctober 19, 2026WorkshopOctober 20, 2026ExpeditionNovember 12 - 28, 2026 

Closed
Riset Tematik Berbasis Rumah Program
Pendaftaran: 01 Sep 2026 - 09 Sep 2026
Proposal Masuk: 1079
Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi

Riset Tematik Berbasis Rumah Program

Program Riset Tematik berbasis Rumah Program Tahun 2027 merupakan skema pendanaan riset dan inovasi yang diarahkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan riset secara tematik, terarah, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional. Program ini memfasilitasi riset yang memiliki relevansi strategis terhadap Rumah Program BRIN, dengan mendorong keterpaduan antara kepakaran, sumber daya, dan potensi luaran riset untuk menghasilkan pengetahuan, teknologi, model, maupun purwarupa yang berkontribusi terhadap penyelesaian permasalahan prioritas dan penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.Kegiatan riset yang diusulkan adalah kegiatan yang belum pernah diusulkan pada pendanaan Rumah Program atau skema pendanaan lainnya pada tahun sebelumnya.Informasi mengenai materi ketentuan program dapat diakses melalui tautan berikut.https://s.brin.go.id/l/RisetTematikberbasisRumahProgram