Eksplorasi skema RIIM dan pendanaan lainnya
Rumah Program Budaya Berkelanjutan (Rincian Output – Kekayaan Intelektual Hasil Riset Dan Inovasi Budaya Unggul untuk Lingkungan Berkelanjutan)Kegiatan riset dalam rumah program ini difokuskan pada pengungkapan dan pemetaan, pemajuan kebudayaan, serta pengembangan potensi economy heritage berbasis budaya unggul yang terkait dengan aspek ekologis, sebagaimana tercermin dalam bidang arkeologi, bahasa, sastra, manuskrip, tradisi lisan, dan khazanah keagamaan. Kegiatan riset diarahkan pada wilayah rawan bencana dan kawasan industri yang rentan terhadap risiko lingkungan dan ancaman terhadap keberlanjutan tinggalan warisan budaya, sebagai dasar perumusan strategi pelestarian, pengelolaan lingkungan berkelanjutan, dan penguatan ekonomi berbasis warisan budaya yang kontekstual dan berkelanjutan. Rincian OutputPada tahun 2026, rumah program ini ditargetkan dapat menghasilkan keluaran (rincian output) berupa 2 kekayaan intelektual sebagai berikut.Kekayaan Intelektual terkait Penamaan Prasasti (Paleografi)Kekayaan Intelektual terkait Penyusunan Protokol Karakterisasi Data Arkeologi.Proposal yang diajukan diharapkan terkait dengan klaster-klaster riset diatas dan berkontribusi terhadap pembuatan rancangan model maupun kekayaan intelektual. Preferensi penilaian akan diberikan pada proposal yang sesuai dengan klaster, target model dan target kekayaan intelektual yang akan menjadi luaran dari kegiatan ini. Metode RisetPelaksanaan kegiatan riset dalam rumah program ini dilakukan melalui metode pengumpulan data lapangan dan studi laboratorium. Pengumpulan data lapangan dilaksanakan pada wilayah terdampak bencana, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan dan wilayah lain yang dibuktikan dengan argumentasi sebagai daerah yang pernah mengalami bencana dalam skala yang luas. Selain itu pengumpulan data lapangan dilaksanakan pada wilayah kawasan industri ekstraktif, termasuk pertambangan, perkebunan dan kehutanan, dengan preferensi wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Wilayah lainnya akan dipertimbangkan apabila memberikan argumentasi yang kuat terkait urgensi dilakukan riset di wilayah yang diajukan. Sedangkan untuk kegiatan riset koleksi atau studi laboratorium dilaksanakan di KST Soekarno (Cibinong) dan/atau KKB RP Soejono (Pasar Minggu).Berkaitan dengan wilayah terdampak bencana, diharapkan hasil riset dapat memberikan gambaran terkait status warisan budaya pada saat bencana terjadi, berbagai upaya yang dilakukan untuk penyelamatan warisan budaya serta mitigasi yang dapat dilakukan kedepannya. Sedangkan riset di wilayah industri ekstraktif untuk mendapatkan gambaran bagaimana pengaruh langsung kegiatan industri terkait warisan budaya, termasuk dampak penggunaan lahan yang sebelumnya menjadi situs warisan budaya, hilangnya objek diduga cagar budaya dan cagar budaya, warisan budaya tak benda, pengaruh migrasi penduduk terhadap penggunaan, pemertahanan bahasa, khazanah sastra dan warisan keagamaan. Riset diharapkan dapat memperlihatkan berbagai upaya yang dilakukan oleh komunitas untuk mempertahankan warisan budaya, termasuk bagaimana upaya-upaya komunitas ada mempertahankan pengetahuan lokalnya dalam konteks masyarakat yang semakin plural.Kegiatan riset rumah program Budaya Berkelanjutan terdiri atas 3 skema yaitu:perjalanan dinas biasa dengan penugasan dinas luar kota maksimum 14 hari.detasering dengan penugasan dinas luar kota minimum 21 hari.studi laboratorium dengan fokus pada kegiatan analisis sampel di laboratorium.Dalam pelaksanaannya, kegiatan riset arkeologi dibatasi pada metode survei dan test pit (penggalian percobaan) sebagai bentuk pengumpulan data lapangan yang diperkenankan. Berkaitan dengan kebijakan homebase penugasan (HBP) eksternal, khususnya agar riset mempunyai dampak bagi daerah-daerah yang berdekatan dengan HBP, maka preferensi lokus kegiatan lapangan dilakukan dalam wilayah yang relatif berdekatan dengan HBP dari tim periset.Untuk informasi selengkapnya, dapat dilihat Panduan Call for Joint Collaboration
Organisasi Riset lmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN mengundang periset dan stakeholder untuk berkolaborasi dalam Rumah Program Tahun 2026 yang merupakan program Prioritas Nasional (PN) melalui Call for Research Collaboration (CFRC) Tahun 2026. Program pada Tahun 2026 terdiri dari 2 (dua) Rumah Program dan 36 topik riset yaitu: Rumah Program Hasil Riset dan Inovasi tentang Ke-Indonesiaan (RP 1) yang terdiri dari 19 topik riset; danRumah Program Hasil Riset dan Inovasi tentang Dinamika Kontemporer (RP 2) yang terdiri dari 17 topik riset.Melalui Call for Research Collaboration (CFRC) Rumah Program Tahun 2026, diharapkan dapat menjadi wadah kolaborasi riset lintas disiplin ilmu dan lintas institusi yang dapat memperkuat kapasitas riset, menghasilkan jejaring pengetahuan yang lebih luas, menjawab isu-isu global dan nasional, serta menjadi motor penggerak transformasi sosial, penguatan kebijakan, dan pembangunan berkelanjutan berbasis riset dan inovasi.Rumah Program (RP) 1: Hasil Riset dan Inovasi tentang Ke-IndonesiaanRiset bidang ilmu sosial dan humaniora yang mendukung aspek continuity dari bangsa Indonesia, yakni apa yang perlu tetap ada, dipelihara, dan menjadi pijakan bagi keberadaan bangsa ini di Tahun 2045, yaitu “kebangsaan” itu sendiri, identitas dan jati diri sebagai bangsa, serta berbagai hal yang terkait dengan ’Ke-Indonesiaan’.NoTopik Riset RP 1 - Hasil Riset dan Inovasi tentang Ke-Indonesiaan1.1Pelembagaan Institusi Politik di Tingkat Nasional dan Lokal Menuju Konsolidasi Demokrasi1.2Kesetaraan dan Inklusi Sosial di Tengah Arus Politik Identitas dan Regresi Demokrasi1.3Interaksi Desa–Kota, Kebudayaan Ruang, dan Sistem Sosial-Ekologi Indonesia1.4Keluarga, Siklus Kehidupan, dan Ketahanan Sosial Indonesia1.5Vaksin dalam Perspektif Sosial Humaniora1.6Diaspora dan Kewarganegaraan1.7Kolonialitas Kuasa di Asia-Pasifik: Relasi Negara dan Etnis Minoritas1.8PenguatanPesantren Dalam Pencapaian SDGs: Ekoteologi, Tata Kelola, Multikulturalisme, dan Ketahanan Sosial1.9Penguatan Edukasi, Sertifikasi, dan Ekosistem Halal1.10Agama Dalam DinamikaModerasi, Ekstrimisme, dan Terorisme1.11PemaknaanUlang dan Kontestasi Ruang Sipil di Era Post-Truth1.12Konstitusionalitas dan ReformasiRegulasi atas Pangan, Energi, dan Air1.13Penguatan Identitas Bangsa dalam Sistem Pendidikan Indonesia1.14Kualitas Pendidikan dan Ketimpangan Hasil Belajar di Wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)1.15DinamikaPerguruan Tinggi Indonesia1.16Tata Kelola Makanan Bergizi Gratis (MBG)1.17Pengelolaan Keberagaman Budaya untuk Penguatan Persatuan Nasional dan Pembangunan Inklusif1.18Budaya Energi Berkelanjutan untuk Ketahanan dan Kemandirian Nasional1.19Kajian Papua: Generasi Milenial dan Generasi ZRumah Program 2: Hasil Riset dan Inovasi tentang Dinamika KontemporerRiset bidang ilmu sosial dan humaniora yang mengkaji berbagai perubahan masyarakat yang harus direspon dengan cepat dan tepat.NoTopik Riset RP 2 - Hasil Riset dan Inovasi tentang Dinamika Kontemporer2.1Kemitraan Strategis Indonesia dalam Merespon Krisis Global2.2Demokrasi Tata Kelola Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan2.3Tata Kelola Transformatif Ibu Kota Negara dalam Perspektif Sosial Politik dan Budaya2.4Mobilitas Penduduk, Integrasi Sosial, dan Migrasi Kontemporer2.5Ketimpangan Sosial, Transformasi Demografi, dan Masa Depan Pekerjaan2.6Konektivitas Infrastruktur Cina2.7Politik Ekologi dan Energi di Asia, Afrika. dan Eropa2.8Sumber Daya Pangan dan Budaya Makan di Asia2.9Penguatan Tata Kelola Penyelenggaraan Ibadah Haji2.10Dinamika Minoritas Keagamaan di Indonesia Kontemporer2.11Ketahanan Pangan dalamPerspektif Hukum KekayaanIntelektual (HKI)2.12Penegakan Hukum Pidana dan Perlindungan Gender, HAM, dan KeadilanRestoratif2.13Climate Justice Nexus: Transisi Energi Berkeadilan dan Tata Kelola Air Berkelanjutan Rekonstruksi Hubungan Lingkungan dan Masyarakat2.14Transformasi Pendidikan Berbasis Etnopedagogi, Keberlanjutan, Karakter, dan Inklusi Digital2.15Adaptasi dan Resiliensi Sosial Budaya dan Lingkungan untuk Ketahanan Nasional Berkelanjutan2.16Minoritas, Representasi, dan Inklusi osialuntuk Pembangunan Berkeadilan2.17Teknologi Baru dan Mobilitas Sosial untukTransformasi Sosial, Budaya, dan EkonomiLink Website Seleksi Proposal: https://s.brin.go.id/l/ORIPSH_CFRCRumahProgram2026Dokumen-dokumen peraturan dan yang terkait dapat diakses pada tautan https://s.brin.go.id/l/ORIPSH_DokumenCFRC_RP2026
Organisasi Riset lmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN mengundang periset dan stakeholder untuk berkolaborasi dalam Rumah Program Tahun 2026 yang merupakan program Prioritas Nasional (PN) melalui Call for Research Collaboration (CFRC) Tahun 2026. Program pada Tahun 2026 terdiri dari 2 (dua) Rumah Program dan 36 topik riset yaitu: Rumah Program Hasil Riset dan Inovasi tentang Ke-Indonesiaan (RP 1) yang terdiri dari 19 topik riset; danRumah Program Hasil Riset dan Inovasi tentang Dinamika Kontemporer (RP 2) yang terdiri dari 17 topik riset.Melalui Call for Research Collaboration (CFRC) Rumah Program Tahun 2026, diharapkan dapat menjadi wadah kolaborasi riset lintas disiplin ilmu dan lintas institusi yang dapat memperkuat kapasitas riset, menghasilkan jejaring pengetahuan yang lebih luas, menjawab isu-isu global dan nasional, serta menjadi motor penggerak transformasi sosial, penguatan kebijakan, dan pembangunan berkelanjutan berbasis riset dan inovasi.Rumah Program (RP) 1: Hasil Riset dan Inovasi tentang Ke-IndonesiaanRiset bidang ilmu sosial dan humaniora yang mendukung aspek continuity dari bangsa Indonesia, yakni apa yang perlu tetap ada, dipelihara, dan menjadi pijakan bagi keberadaan bangsa ini di Tahun 2045, yaitu “kebangsaan” itu sendiri, identitas dan jati diri sebagai bangsa, serta berbagai hal yang terkait dengan ’Ke-Indonesiaan’.NoTopik Riset RP 1 - Hasil Riset dan Inovasi tentang Ke-Indonesiaan1.1Pelembagaan Institusi Politik di Tingkat Nasional dan Lokal Menuju Konsolidasi Demokrasi1.2Kesetaraan dan Inklusi Sosial di Tengah Arus Politik Identitas dan Regresi Demokrasi1.3Interaksi Desa–Kota, Kebudayaan Ruang, dan Sistem Sosial-Ekologi Indonesia1.4Keluarga, Siklus Kehidupan, dan Ketahanan Sosial Indonesia1.5Vaksin dalam Perspektif Sosial Humaniora1.6Diaspora dan Kewarganegaraan1.7Kolonialitas Kuasa di Asia-Pasifik: Relasi Negara dan Etnis Minoritas1.8PenguatanPesantren Dalam Pencapaian SDGs: Ekoteologi, Tata Kelola, Multikulturalisme, dan Ketahanan Sosial1.9Penguatan Edukasi, Sertifikasi, dan Ekosistem Halal1.10Agama Dalam DinamikaModerasi, Ekstrimisme, dan Terorisme1.11PemaknaanUlang dan Kontestasi Ruang Sipil di Era Post-Truth1.12Konstitusionalitas dan ReformasiRegulasi atas Pangan, Energi, dan Air1.13Penguatan Identitas Bangsa dalam Sistem Pendidikan Indonesia1.14Kualitas Pendidikan dan Ketimpangan Hasil Belajar di Wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)1.15DinamikaPerguruan Tinggi Indonesia1.16Tata Kelola Makanan Bergizi Gratis (MBG)1.17Pengelolaan Keberagaman Budaya untuk Penguatan Persatuan Nasional dan Pembangunan Inklusif1.18Budaya Energi Berkelanjutan untuk Ketahanan dan Kemandirian Nasional1.19Kajian Papua: Generasi Milenial dan Generasi ZRumah Program 2: Hasil Riset dan Inovasi tentang Dinamika KontemporerRiset bidang ilmu sosial dan humaniora yang mengkaji berbagai perubahan masyarakat yang harus direspon dengan cepat dan tepat.NoTopik Riset RP 2 - Hasil Riset dan Inovasi tentang Dinamika Kontemporer2.1Kemitraan Strategis Indonesia dalam Merespon Krisis Global2.2Demokrasi Tata Kelola Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan2.3Tata Kelola Transformatif Ibu Kota Negara dalam Perspektif Sosial Politik dan Budaya2.4Mobilitas Penduduk, Integrasi Sosial, dan Migrasi Kontemporer2.5Ketimpangan Sosial, Transformasi Demografi, dan Masa Depan Pekerjaan2.6Konektivitas Infrastruktur Cina2.7Politik Ekologi dan Energi di Asia, Afrika. dan Eropa2.8Sumber Daya Pangan dan Budaya Makan di Asia2.9Penguatan Tata Kelola Penyelenggaraan Ibadah Haji2.10Dinamika Minoritas Keagamaan di Indonesia Kontemporer2.11Ketahanan Pangan dalamPerspektif Hukum KekayaanIntelektual (HKI)2.12Penegakan Hukum Pidana dan Perlindungan Gender, HAM, dan KeadilanRestoratif2.13Climate Justice Nexus: Transisi Energi Berkeadilan dan Tata Kelola Air Berkelanjutan Rekonstruksi Hubungan Lingkungan dan Masyarakat2.14Transformasi Pendidikan Berbasis Etnopedagogi, Keberlanjutan, Karakter, dan Inklusi Digital2.15Adaptasi dan Resiliensi Sosial Budaya dan Lingkungan untuk Ketahanan Nasional Berkelanjutan2.16Minoritas, Representasi, dan Inklusi osialuntuk Pembangunan Berkeadilan2.17Teknologi Baru dan Mobilitas Sosial untukTransformasi Sosial, Budaya, dan EkonomiLink Website Seleksi Proposal: https://s.brin.go.id/l/ORIPSH_CFRCRumahProgram2026Dokumen-dokumen peraturan dan yang terkait dapat diakses pada tautan https://s.brin.go.id/l/ORIPSH_DokumenCFRC_RP2026
Rumah Program Hasil Inovasi Teknologi Nuklir difokuskan pada kegiatan riset dasar dan terapan untuk mengembangkan kompetensi dan menguasai teknologi kunci di bidang ketenaganukliran; dan invensi dan inovasi teknologi nuklir yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat serta berkontribusi dalam menyelesaikan isu strategis nasional khususnya yang terkait dengan kemandirian dan daya saing di bidang energi, medis dan industri.Adapun tematik kegiatan riset di bidang tenaga nuklir pada Rumah Program Hasil Inovasi Teknologi Nuklir dibagi menjadi 3, yaitu:1. Riset dan Inovasi Teknologi Nuklir untuk Medis dan IndustriKegiatan riset terkait sistem dan komponen akselerator; rekayasa instrumentasi dan fasilitas nuklir; pemanfaatan sumber radiasi pengion dan berkas nuklir; dan radiosintesis; terutama untuk aplikasi di bidang medis dan industri, termasuk pengembangan sistem dan teknologi deteksi radiasi, serta proses dekontaminasi dan dekomisioning untuk memberikan perlindungan dan menjamin keselamatan masyarakat dari ancaman bahaya radiasi2. Riset dan Inovasi Teknologi Nuklir untuk EnergiKegiatan riset terkait struktur, sistem, dan komponen reaktor nuklir, daur bahan nuklir dan limbah radioaktif, serta teknologi keselamatan reaktor nuklir, terutama untuk menunjang kemandirian nasional di bidang energi rendah karbon3. Riset dan Inovasi Teknologi Nuklir untuk Radioisotop dan RadiofarmakaKegiatan riset terkait teknologi produksi radioisotop dan aplikasinya antara lain sebagai radiotracer di bidang industri, pertanian dan lingkungan; dan kegiatan riset terkait teknologi produksi radiofarmaka dan aplikasinya terutama untuk diagnosis/terapi penyakit kanker
Rumah Program Hasil Inovasi Teknologi Nuklir difokuskan pada kegiatan riset dasar dan terapan untuk mengembangkan kompetensi dan menguasai teknologi kunci di bidang ketenaganukliran; dan invensi dan inovasi teknologi nuklir yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat serta berkontribusi dalam menyelesaikan isu strategis nasional khususnya yang terkait dengan kemandirian dan daya saing di bidang energi, medis dan industri.Adapun tematik kegiatan riset di bidang tenaga nuklir pada Rumah Program Hasil Inovasi Teknologi Nuklir dibagi menjadi 3, yaitu:1. Riset dan Inovasi Teknologi Nuklir untuk Medis dan IndustriKegiatan riset terkait sistem dan komponen akselerator; rekayasa instrumentasi dan fasilitas nuklir; pemanfaatan sumber radiasi pengion dan berkas nuklir; dan radiosintesis; terutama untuk aplikasi di bidang medis dan industri, termasuk pengembangan sistem dan teknologi deteksi radiasi, serta proses dekontaminasi dan dekomisioning untuk memberikan perlindungan dan menjamin keselamatan masyarakat dari ancaman bahaya radiasi2. Riset dan Inovasi Teknologi Nuklir untuk EnergiKegiatan riset terkait struktur, sistem, dan komponen reaktor nuklir, daur bahan nuklir dan limbah radioaktif, serta teknologi keselamatan reaktor nuklir, terutama untuk menunjang kemandirian nasional di bidang energi rendah karbon3. Riset dan Inovasi Teknologi Nuklir untuk Radioisotop dan RadiofarmakaKegiatan riset terkait teknologi produksi radioisotop dan aplikasinya antara lain sebagai radiotracer di bidang industri, pertanian dan lingkungan; dan kegiatan riset terkait teknologi produksi radiofarmaka dan aplikasinya terutama untuk diagnosis/terapi penyakit kanker
Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (OR-PA) BRIN mengundang SDM Iptek untuk berkontribusi dalam Rumah Program Teknologi Penerbangan dan Antariksa di bawah pengelolaan OR-PA Tahun Anggaran 2026. Adapun ruang lingkup riset dan fokus riset nya masing-masing adalah sebagai berikut: A. AntariksaPeran aktif Indonesia dalam kegiatan antariksa sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada upaya global dalam menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Indonesia, sebagai negara anggota United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS) sejak tahun 1975, dapat berkontribusi secara aktif pada mendukung upaya global menjaga keberlangsungan kegiatan di luar angkasa, seperti mendukung pedoman "21 Guidelines for the Long-Term Sustainability of Outer Space Activities", kegiatan keantariksaan untuk tujuan damai, juga untuk mendukung kemajuan Indonesia melalui kemandirian dan perlindungan kepentingan strategis Indonesia dalam kegiatan keantariksaan global, serta memperkuat pembangunan kapasitas SDM Iptek Indonesia di bidang sains Antariksa.Dengan memperkuat kemandirian, berpartisipasi aktif dalam Penyelenggaraan Keantariksaan, baik melalui tata kelola PBB, seperti memitigasi risiko dari antariksa melalui implementasi panduannya, maupun kegiatan lainnya, Indonesia berperan sebagai aktor yang bertanggung jawab dalam memastikan ruang angkasa tetap menjadi lingkungan yang aman, damai, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.Untuk memperkuat ekosistem risetdan memperluas jejaring kolaborasi, open call for joint collaboration ini diluncurkan mencakup dua tema besar, yaitu Space Situational Awareness dan Astrofisika. Skema ini menyediakan ruang bagi para periset untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dasar, tetapi juga memberi ruang pada peningkatan kesiap-terapan teknologi (technology readiness), dan penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan penyelenggaraan keantariksaan maupun program prioritas nasional.Tujuan: Berkontribusi pada penambahan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, pemecahan masalah, dan pemahaman fenomena di bidang Antariksa.Memanfaatkan aset riset di bidang Antariksa yang tersedia di BRIN.Menghasilkan purwarupa, kekayaan intelektual, dan karya tulis ilmiah, di bidang Antariksa.Fokus Riset:1. Space Situational Awareness (SSA)Space Situational Awareness (SSA) adalah Riset yang ditujukan untuk mempelajari dan membangun kemampuan untuk mengetahui, memahami, dan memprediksi segala sesuatu yang terjadi di luar angkasa, terutama di sekitar orbit Bumi. Ada tiga unsur dominan dalam studi ini, yaitu:Pelacakan dan pemetaan potensi benda buatan di sekitar lingkungan orbit Bumi. Riset ini terdiri dari beberapa kegiatan seperti: pengembangan pengamatan benda buatan mempergunakan teknologi optik dan radar, serta pengembangan aplikasi untuk memetakan keberadaan benda buatan di orbit sekitar Bumi;Cuaca Antariksa merupakan riset yang paling banyak dilakukan karena studi ini berupaya untuk memahami proses fisis yang terjadi mulai dari kejadian Matahari, sampai dengan interaksi di ruang antar planet, magnetosfer, ionosfer, atmosfer, bahkan sampai di litosfer. Hal ini diperlukan untuk memahami dinamika yang berkait dengan pemanfaatan teknologi tinggi yang memanfaatkan sumber daya antariksa;Identifikasi kebencanaan antariksa. Dinamika lingkungan antariksa dapat menimbulkan dampak pada kebencanaan, seperti potensi asteroid yang bisa menabrak Bumi, atau sampah dari wahana antariksa yang tidak berfungsi bisa jatuh ke lingkungan Bumi. Hal ini menjadi salah satu kegiatan yang perlu dilakukan kajian mendalam dan berkelanjutan.Riset dalam tema SSA ini berpotensi menciptakan hasil riset dengan TRL (Technology Readines Level 1-7).Adapun riset SSA ini mencakup: FR.SSA.1. Antariksa dan Kecerdasan BuatanIBerbagai fenomena antariksa, khususnya di sekitar orbit Bumi, terjadi akibat dinamika cuaca antariksa yang dipengaruhi oleh aktivitas Matahari dan interaksinya dengan magnetosfer-ionosfer-atmosfer Bumi, serta interaksi akibat gravitasi Bumi dengan asteroid atau objek buatan manusia. Kompleksitas interaksi antara berbagai variabel tersebut menyebabkan sulitnya pembuatan model fisis secara analitik yang akurat. Untuk meningkatkan kemampuan prediksi fenomena antariksa yang berdampak ke Bumi, integrasi antara keberlimpahan data pengamatan antariksa dan kecerdasan buatan sangat diperlukan. Fokus riset yang diharapkan adalah peningkatan kemampuan prediksi dalam dinamika orbit dan cuaca antariksa. Implementasi model machine learning atau artificial intelligence pada fenomena di Matahari dan di lingkungan antariksa sekitar Bumi memungkinkan pembuatan sistem prediksi aktivitas Matahari, badai geomagnet, serta gangguan di ionosfer yang dapat berpengaruh terhadap komunikasi, navigasi, dan teknologi berbasis antariksa lainnya. Selain itu, implementasi kecerdasan buatan juga dapat digunakan untuk mendeteksi objek buatan di orbit Bumi berdasarkan hasil pengamatan, serta membuat model prediksi lintasan orbit dari asteroid dan sampah antariksa yang berpotensi jatuh ke Bumi.FR.SSA.2. Dinamika Ionosfer dan aplikasinyaIonosfer sebagai bagian dari atmosfer bumi memiliki peran penting terhadap aplikasi teknologi berbasis satelit maupun teknologi yang ada di permukaan bumi. Ionosfer merupakan medium perambatan gelombang radio antara satelit dan stasiun bumi maupun sebaliknya, serta medium perambatan gelombang radio sistem komunikasi terestrial yang bekerja pada rentang spektrum frekuensi VLF-LF--HF-VHF—VHF-UHF. Pemahaman dinamika ionosfer yang meliputi mekanisme fisis yang terjadi serta dampaknya terhadap aplikasi sistem navigasi berbasis GNSS, Satelit Komunikasi lainnya dan sistem komunikasi radio HF sangat diperlukan sebagai salah satu komponen dari Space Situational Awareness.FR.SSA.3. Interaksi Bumi - MatahariInteraksi Bumi–Matahari didominasi oleh keluaran energi Matahari berupa radiasi elektromagnetik dan angin matahari. Radiasi mengatur keseimbangan energi Bumi dan memicu dinamika ionosfer dan atmosfer. Sedangkan plasma angin matahari yang membawa medan magnet berkopel dengan magnetosfer Bumi, menghasilkan transfer energi melalui proses rekoneksi magnetik. Mekanisme ini memicu arus cincin, pembentukan sabuk radiasi, badai geomagnet, gangguan ionosfer dan dinamika lingkungan antariksa. Pemahaman karakteristik variabilitas Matahari dan respons sistem magnetosfer–ionosfer menjadi kunci dalam pemodelan respon antariksa bumi terhadap variabilitas aktivitas matahari.FR.SSA.4. Interaksi Magnetosfer - Ionosfer - dan TermosferSistem Magnetosfer–Ionosfer–Termosfer (MIT) merupakan rantai kopling plasma–atmosfer yang mengatur transfer momentum, energi, dan partikel dari angin matahari ke atmosfer atas Bumi. Variasi medan magnet dan medan listrik magnetosfer memicu arus Birkeland, konveksi ionosfer, serta pemanasan Joule dan ion–netral di termosfer. Proses terkopel ini mengubah densitas elektron, dinamika angin termosfer, dan komposisi atmosfer, yang secara langsung memengaruhi kondisi cuaca antariksa, propagasi gelombang radio, dan drag satelit di LEO.FR.SSA.5. Interaksi Mesosfer - TermosferInteraksi antara mesosfer dan termosfer merupakan aspek penting dalam dinamika atmosfer atas, terutama pada ketinggian sekitar 50–120 km. Pada lapisan transisi ini, proses-proses energi, momentum, dan komposisi saling memengaruhi melalui mekanisme gelombang atmosfer, pemanasan radiasi, serta interaksi ion-netral. Gelombang gravitasi yang merambat dari troposfer dan stratosfer mengalami amplifikasi di mesosfer dan teredam di termosfer, menghasilkan transfer momentum yang mengatur pola sirkulasi global. Sementara itu, aktivitas geomagnetik dan variasi radiasi Matahari di termosfer memodulasi densitas, temperatur, dan dinamika ionosfer, yang efeknya dapat berpropagasi ke mesosfer. Pemahaman hubungan dua lapisan ini penting untuk memodelkan cuaca ruang angkasa (space weather), memprediksi kondisi atmosfer atas untuk misi satelit orbit rendah, serta memvalidasi model atmosfer global.FR.SSA.6 Kebencanaan Antariksa - Atmosfer AtasKajian kebencanaan difokuskan pada potensi bencana tumbukan akibat orbit asteroid yang berpapasan dengan orbit bumi atau jatuhnya sampah antariksa ke bumi. Analisis orbit asteroid dapat dilakukan berdasarkan data observasional atau katalog objek dekat bumi (Near Earth Objects). Kajian juga untuk menganalisis potensi dampak tumbukan asteroid berupa gelombang kejut di atmosfer, potensi pembentukan kawah tumbukan di darat, atau potensi gelombang tinggi di laut, termasuk tsunami, bila jatuh di laut.FR.SSA.7. Lingkungan Orbit satelitKebencanaan antariksa pada atmosfer atas berkaitan dengan gangguan lingkungan geospace—termosfer, ionosfer, dan magnetosfer—yang dipicu variabilitas cuaca antariksa. Peningkatan aktivitas Matahari dapat menghasilkan badai geomagnetik, pemanasan termosfer, dan fluktuasi densitas atmosfer yang memengaruhi aerodynamic drag, stabilitas orbit satelit LEO, serta akurasi orbit determination. Di ionosfer, proses ionisasi dan rekombinasi yang tidak stabil menimbulkan scintillation, TEC anomaly, dan signal fading yang mengganggu sistem komunikasi dan navigasi berbasis GNSS. Selain itu, partikel energetik berpotensi menyebabkan single-event upset (SEU) dan degradasi komponen elektronik satelit. Kondisi ini menuntut pemantauan space weather yang presisi serta model atmosfer atas yang adaptif untuk mitigasi risiko operasional ruang angkasa.FR.SSA.8. Teknologi Instrumentasi Pengamatan AntariksaTeknologi instrumentasi pengamatan antariksa mencakup perancangan sensor optik dan elektromagnetik yang mampu beroperasi dalam kondisi vakum, radiasi tinggi, serta keterbatasan daya dan massa platform satelit. Instrumen utama meliputi kamera multispektral/hiperspektral, radiometer, spektrometer, SAR, serta sensor in-situ untuk pengukuran plasma, partikel, dan medan magnet. Perkembangan miniaturisasi elektronik, stabilisasi optik, kalibrasi onboard, dan pemrosesan data real-time meningkatkan resolusi, sensitivitas, serta akurasi observasi. Teknologi ini menjadi komponen kritis dalam misi sains dan pemantauan Bumi, mendukung akuisisi data presisi tinggi untuk analisis atmosfer, geospasial, dan astrofisika.2. AstrofisikaRiset di bidang Astrofisika adalah riset fundamental untuk memahami proses fisika yang terjadi di alam semesta. Karena proses fundamentalnya sangat rumit, diperlukan kajian yang mendalam dan multi-disiplin.Adapun riset ini mencakup: FR.AST.1. Astrofisika LanjutAstrofisika lanjut mengkaji fenomena kosmik ekstrem dengan memadukan relativitas umum, mekanika kuantum, dan fisika plasma. Bidang ini memodelkan dinamika fluida relativistik, akresi pada ruang-waktu melengkung, instabilitas MHD, serta proses radiasi berenergi tinggi. Observasi multi-messenger dan simulasi numerik berskala besar digunakan untuk mengekstraksi parameter fisik sistem seperti lubang hitam, bintang neutron, supernova, dan struktur kosmik.FR.AST.2. Astronomi LingkunganAstronomi Lingkungan merupakan disiplin yang mengkaji interaksi antara kondisi lingkungan Bumi dan kegiatan astronomi, termasuk bagaimana polusi cahaya, polusi radio, aerosol atmosfer, serta variabilitas iklim memengaruhi akurasi pengamatan optik maupun radio. Selain itu, bidang ini menilai dampak ekologis aktivitas keantariksaan, seperti emisi peluncuran roket, peningkatan jumlah satelit orbit rendah, dan akumulasi debris orbital yang berpotensi mengganggu integritas sistem observasi dan keberlanjutan lingkungan ruang angkasa. Kajian ini menjadi dasar dalam perancangan mitigasi teknis, penentuan lokasi observatorium, serta pengembangan kebijakan tata kelola ruang angkasa yang berkelanjutan.FR.AST.3. Dinamika Tata SuryaDinamika Tata Surya mengkaji evolusi orbit benda langit melalui penyelesaian sistem persamaan gerak N-benda yang nonlinier, dengan gravitasi Newton sebagai dominan dan koreksi relativistik pada medan dekat Matahari. Analisisnya mencakup perturbasi gravitasi, resonansi, dan chaos Hamiltonian, yang diselesaikan menggunakan integrator numerik presisi tinggi (mis. symplectic integrators). Pemodelan ini menjadi dasar dalam prediksi efemeris, studi stabilitas jangka panjang, serta perhitungan dan optimasi lintasan wahana antariksa dalam lingkungan multiperturbasi. B. Teknologi PenerbanganPengembangan teknologi kedirgantaraan nasional membutuhkan dukungan riset strategis, terukur, dan berkelanjutan untuk memperkuat daya saing negara dan kemandirian teknologi. Indonesi memang telah memiliki basis pengembangan pesawat komuter melalui program N219 dan beberapa pesawat udara nirawak (UAS, Unmanned Aircraft System). Namun di sisi lain, berbagai kapasitas penguasaan teknologi harus ditingkatkan terutama yang menyangkut teknologi kritikal seperti komposit aerostruktur, Sistem Kendali Terbang (FCS, Flight Control System), sistem komunikasi datalink, sistem navigasi, dan sistem keamanannya.Untuk memperkuat ekosistem risetdan memperluas jejaring kolaborasi, open call for joint collaboration ini diluncurkan mencakup tujuh fokus riset prioritas dalam bidang teknologi penerbangan. Skema ini menyediakan ruang bagi para periset untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu, peningkatan kesiap-terapan teknologi (technology readiness), dan penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri maupun program nasional.Tujuan: (1) Berkontribusi pada penambahan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, pemecahan masalah, dan pemahaman fenomena di bidang teknologi penerbangan; (2) Memanfaatkan aset riset teknologi penerbangan yang tersedia di BRIN, termasuk wahana terbang, laboratorium, fasilitas uji, dan sumber daya teknis lainnya; (3) Menghasilkan keluaran bernilai tinggi berupa karya tulis ilmiah, kekayaan intelektual, prototipe, atau modul teknologi yang dapat dihilirkan untuk mendukung kemandirian teknologi penerbangan nasional.Melalui mekanisme ini, penguatan integrasi antara kompetensi periset, infrastruktur, dan fasilitas riset dapat terlaksana sehingga peningkatan kapasitas riset nasional dapat terwujud dan menghasilkan berbagai inovatif yang bermanfaat untuk masyarakat dan juga kepentingan nasional.Fokus Riset:FR.P.1. Kinerja Aerodinamika Pesawat UdaraRiset kinerja aerodinamika bertujuan meningkatkan pemahaman dan kualitas performa wahana terbang, baik yang telah beroperasi maupun yang sedang dikembangkan. Kegiatan mencakup validasi desain, optimisasi performa, peningkatan kestabilan dan keselamatan terbang, serta peningkatan efisiensi aerodinamika.Ruang lingkup riset meliputi:Studi peningkatan performa aerodinamika pada platform N219, N219A, seri wahana LSU, Alap-alap, dan PUNA berkinerja tinggi;Eksperimen terowongan angin, simulasi numerik (CFD), dan metode hibrid untuk meningkatkan koefisien gaya, karakteristik stall, efisiensi lift-to-drag ratio, serta analisis interaksi aliran;Pengembangan konsep-konsep baru seperti high-lift device, winglet, vortex control, bio-inspired aerodynamics, dan optimisasi konfigurasi wahana;Usulan lain yang relevan dengan peningkatan performa aerodinamika pesawat udara.FR.P.2. AerostrukturBidang aerostruktur menekankan pengembangan struktur pesawat yang kuat, ringan, aman, dan tahan lama. Riset difokuskan pada peningkatan integritas struktural melalui teknologi material, proses manufaktur, serta metode analisis struktur modern.Ruang lingkup riset meliputi:Penyusunan composite allowable material database sebagai dasar desain struktural berbasis komposit;Studi sambungan komposit–komposit maupun komposit–logam yang mencakup karakterisasi, kekuatan sambungan, dan ketahanan terhadap beban dinamis;Pengembangan teknik manufaktur komposit, termasuk out-of-autoclave processing, automated fiber placement, dan metode aditif;Analisis dinamika struktur wahana, flutter, vibration analysis, serta pemodelan kegagalan struktural;Usulan lain terkait peningkatan kinerja aerostruktur dan teknologi material.FR.P.3. Sistem Kendali TerbangRiset Sistem Kendali Terbang difokuskan pada pengembangan kemampuan otonomi wahana, keandalan subsistem kontrol, serta arsitektur kendali yang adaptif dan aman. Teknologi FCS merupakan komponen kunci bagi penguasaan sistem pesawat udara nirawak.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan monolithic flight control computer (FCC) dengan integrasi sensor, aktuator, dan algoritma kendali;Pengembangan modular FCC yang memungkinkan fleksibilitas, redundancy, dan peningkatan tingkat keselamatan;Pengembangan flight control actuation system (FCAS), termasuk aktuator listrik, hidrolik, dan sistem kendali presisi tinggi;Identifikasi permasalahan kendali terbang serta pengembangan algoritma kendali baru, seperti robust control, adaptive control, fault-tolerant control, dan autonomous navigation;Usulan lain terkait sistem kendali terbang.FR.P.4. Sistem Data Link dan NavigasiBidang ini mencakup penelitian teknologi komunikasi dan navigasi yang menjamin aliran data yang stabil, akurat, dan real-time antara wahana dan stasiun kendali. Riset diarahkan untuk meningkatkan keandalan misi serta kemampuan otonomi wahana.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan antena komuniksi berperforma tinggi, termasuk antena terarah, MIMO, atau antena miniatur untuk wahana kecil;Riset encoding-decoding, kompresi data, dan protokol pengiriman data berlatensi rendah;Pengembangan sistem navigasi alternatif, integrasi multi-sensor, sensor fusion, dan peningkatan akurasi navigasi untuk misi jarak jauh;Usulan lain terkait sistem datalink, komunikasi, dan navigasi wahana.FR.P.5. Sistem dan Aplikasi DroneRiset ini menekankan pengembangan teknologi drone yang dapat diaplikasikan pada berbagai sektor, baik sipil maupun militer. Fokus diarahkan pada peningkatan kemampuan operasional dan kolaborasi sistem pendukung.Ruang lingkup riset meliputi:Sistem pemetaan presisi berbasis kamera, LIDAR, atau sensor lainnya;Sistem pertanian cerdas, termasuk pemantauan tanaman, penyemprotan otomatis, dan analitik berbasis AI;Sistem pengawasan dan pengintaian untuk keamanan, mitigasi bencana, dan manajemen wilayah;Integrasi drone ke dalam ekosistem digital, termasuk edge computing, jaringan swarm drone, dan cloud-based mission management;Usulan lain terkait pemanfaatan drone dan sistem aplikasinya.FR.P.6. Sistem Muatan (Payload System)Sistem muatan menjadi komponen inti dalam fungsionalitas UAS modern. Riset difokuskan pada pengembangan sensor beresolusi tinggi dan muatan misi yang mendukung kebutuhan pertahanan, kebencanaan, dan aplikasi lainnya.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan sensor payload seperti SAR, LIDAR, hyperspectral imaging, atau kamera resolusi tinggi;Pengembangan mission payload untuk operasi militer, pemetaan bencana, pemantauan lingkungan, dan tugas-tugas khusus lainnya;Integrasi payload dengan wahana, termasuk sistem daya, komunikasi, dan kontrol misi;Usulan lain terkait pengembangan sistem muatan.FR.P.7. Aeronautika BerkelanjutanRiset aeronautika berkelanjutan bertujuan mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas penerbangan serta mendorong pengembangan teknologi hijau dalam dunia kedirgantaraan.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan engine control unit (ECU) untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dan keselamatan operasi mesin;Studi propeller parametric untuk meningkatkan efisiensi propulsi;Pengembangan sistem propulsi alternatif seperti hibrida, listrik, hydrogen-based propulsion, dan teknologi rendah emisi lainnya;Riset green aviation, sustainable aviation fuel (SAF), serta analisis dampak lingkungan penerbangan;Usulan lain terkait teknologi aeronautika berkelanjutan. C. Teknologi RoketTujuan: Menghasilkan kekayaan intelektual, model, purwarupa, dan publikasi ilmiah pada penguasaan teknologi kunci terkait teknologi roket.Fokus Riset:FR.R.1. Peningkatan kualitas propelan komposit (Impuls spesifik, karakteristik mekanik, pre-treatment bahan baku, aging)Peningkatan kualitas propelan komposit difokuskan pada optimasi parameter performa dan reliabilitas sistem propulsi padat. Upaya teknis meliputi peningkatan impuls spesifik melalui modifikasi komposisi oksidator–binder dan pengaturan fraksi padatan; penguatan karakteristik mekanik propelan melalui optimasi jaringan polimer, plasticizer, dan kontrol struktur mikro; serta penyempurnaan pretreatment bahan baku seperti pengeringan, pengendalian ukuran partikel, dan peningkatan kemurnian oksidator. Integrasi ketiga aspek tersebut bertujuan menghasilkan propelan dengan performa pembakaran lebih efisien, stabilitas tinggi, serta ketahanan mekanik yang memenuhi standar operasional sistem roket.FR.R.2. Sistem igniter, ignition transient, dan erosive burning untuk propelan kompositSistem igniter pada propelan komposit dirancang untuk menghasilkan fluks panas dan tekanan awal yang cukup untuk mencapai kondisi ignition threshold pada permukaan propelan. Setelah penyalaan dipicu, motor memasuki fase ignition transient, yaitu periode transien hingga tercapainya steady-state burning rate, yang ditandai oleh stabilisasi tekanan ruang bakar dan distribusi nyala. Dalam kondisi aliran internal berkecepatan tinggi, propelan komposit juga dapat mengalami erosive burning, yakni peningkatan laju bakar akibat gradien tekanan dan gaya geser aliran gas, yang berdampak pada perubahan performa dan margin keselamatan motor roket. Pemahaman ketiga aspek ini diperlukan untuk memastikan desain sistem propulsi padat yang stabil, terkendali, dan sesuai spesifikasi balistik.FR.R.3. Pengembangan struktur ringan untuk komponen roket berbasis komposit atau logam (radio transparent nosecone, sirip, tabung motor roket, nozzle, sistem join untuk material komposit)Pengembangan struktur ringan berbasis komposit dan logam bertujuan meningkatkan rasio kekuatan-berat pada komponen roket, sehingga mendukung efisiensi propulsi dan stabilitas aerodinamik. Fokus pengembangan meliputi radio transparent nosecone, sirip, tabung motor roket, nozzle, serta sistem joining komposit. Optimalisasi dilakukan melalui pemilihan material berperforma tinggi, rekayasa desain berbasis analisis numerik (FEM/CFD), serta proses manufaktur presisi seperti filament winding, lay-up, dan metal forming. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan komponen berdensitas rendah namun memiliki kekuatan struktural, ketahanan termal, dan kompatibilitas elektromagnetik sesuai persyaratan misi.FR.R.4. Pengembangan sistem avionik untuk roket (IMU, Radio telemetry untuk transmisi data, GPS receiver untuk tracking roket)Pengembangan sistem avionik roket difokuskan pada integrasi Inertial Measurement Unit (IMU), modul radio telemetry, dan GPS receiver untuk meningkatkan akurasi pemantauan serta keselamatan penerbangan. IMU digunakan untuk mengukur percepatan linier, kecepatan sudut, dan orientasi roket secara real-time. Radio telemetry berperan dalam transmisi data penerbangan—termasuk ketinggian, kondisi dinamika, dan status sistem—ke ground station. GPS receiver menyediakan informasi posisi dan kecepatan roket secara absolut sepanjang lintasan terbang. Integrasi ketiga komponen ini memungkinkan akuisisi data yang lebih presisi, mempermudah analisis pascapenerbangan, serta mendukung pengembangan sistem kendali roket pada tahap berikutnya.FR.R.5. Pengembangan motor roket padat case bondedPengembangan motor roket padat case-bonded difokuskan pada perancangan grain propelan yang dicetak dan terikat langsung pada dinding casing untuk memastikan integritas struktural, stabilitas balistik, dan efisiensi ruang bakar. Sistem ini menuntut kontrol ketat pada karakterisasi material propelan, kompatibilitas liner–casing, proses curing, serta analisis termostruktural selama operasi. Upaya pengembangan diarahkan pada peningkatan performa dorong, konsistensi manufaktur, dan keandalan motor melalui rangkaian uji statis dan evaluasi nondestruktifFR.R.6. Pengembangan sistem kendali roketPengembangan sistem kendali roket difokuskan pada perancangan algoritma kontrol, integrasi sensor inersial, serta pemodelan dinamika terbang untuk memastikan stabilitas dan ketepatan lintasan. Upaya ini mencakup pengembangan perangkat lunak kendali, sistem aktuasi, serta pengujian terintegrasi hardware-in-the-loop guna meningkatkan keandalan dan performa roket pada berbagai kondisi misiFR.R.7. Thruster, Thrust Vectoring, & controllable rocket propulsion systemPengendalian gaya dorong merupakan elemen kritis dalam desain sistem propulsi roket modern. Thruster digunakan sebagai aktuator pendorong berukuran kecil untuk kendali sikap dan manuver orbit dengan memanfaatkan impuls spesifik tinggi dan respons cepat. Teknologi thrust vectoring memungkinkan pengubahan arah gaya dorong utama melalui defleksi nozzle, gimballing, atau injeksi fluida sehingga meningkatkan kendali lintasan pada berbagai fase penerbangan. Integrasi kedua konsep tersebut membentuk controllable rocket propulsion system, yakni sistem propulsi yang mampu menghasilkan besar dan arah dorong yang presisi guna mendukung stabilitas, manuverabilitas, dan akurasi misi penerbangan maupun operasi antariksa.FR.R.8. Riset-riset lainnya terkait dengan teknologi roket dan Bandar AntariksaOrganisasi Riset Penerbangan dan Antariksa melaksanakan berbagai riset untuk memperkuat kemampuan nasional di bidang teknologi roket dan pengembangan Bandar Antariksa. Kegiatan penelitian difokuskan pada peningkatan kinerja sistem propulsi, struktur, dan kendali roket, serta pengembangan konsep, desain, dan kesiapan operasional bandar antariksa. Upaya ini mendukung kemandirian peluncuran dan pembangunan ekosistem keantariksaan Indonesia. D. Teknologi SatelitTujuan: menghasilkan publikasi ilmiah, kekayaan intelektual, model dan purwarupa pada penguasaan teknologi kunci serta teknik pengoperasian terkait bidang teknologi satelit.Fokus Riset:FR.S.1. Pengembangan Komponen Bus satelit orbit rendah BumiPengembangan komponen bus satelit LEO difokuskan pada perancangan subsistem struktural, elektrik, dan kendali yang mampu beroperasi pada lingkungan orbit dengan fluktuasi termal tinggi, radiasi moderat, serta drag atmosfer residu. Bus mencakup EPS, OBC, ADCS, TTC, struktur, dan sistem termal yang harus dioptimalkan untuk massa rendah, efisiensi daya tinggi, serta reliabilitas jangka panjang. Pemanfaatan komponen berstandar ruang, arsitektur modular, dan integrasi antarsubsistem dengan protokol komunikasi terstandardisasi menjadi kunci untuk meningkatkan performa dan kemandirian teknologi satelit LEO.FR.S.2. Pengembangan muatan multi misi satelit LEO/GEOPengembangan muatan multi misi untuk satelit LEO/GEO mengharuskan desain arsitektur muatan yang modular dan dapat dikonfigurasi ulang, mencakup subsistem RF/optik, pemrosesan digital onboard, serta manajemen daya dan termal yang adaptif terhadap kondisi orbit.Muatan multi misi menggabungkan fungsi penginderaan, komunikasi, dan pemrosesan data dalam satu platform melalui penggunaan software-defined payload, komponen toleran radiasi, dan digital channelization. Pada LEO fokusnya adalah akuisisi data ber-throughput tinggi dan stabilitas pointing, sedangkan pada GEO menitikberatkan pada ketersediaan link dan fleksibilitas alokasi spektrum.Pendekatan ini meningkatkan efisiensi massa, daya, dan bandwidth serta memungkinkan respons operasional yang dinamis lintas aplikasi.
Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (OR-PA) BRIN mengundang SDM Iptek untuk berkontribusi dalam Rumah Program Teknologi Penerbangan dan Antariksa di bawah pengelolaan OR-PA Tahun Anggaran 2026. Adapun ruang lingkup riset dan fokus riset nya masing-masing adalah sebagai berikut: A. AntariksaPeran aktif Indonesia dalam kegiatan antariksa sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada upaya global dalam menjaga keberlanjutan ruang angkasa. Indonesia, sebagai negara anggota United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS) sejak tahun 1975, dapat berkontribusi secara aktif pada mendukung upaya global menjaga keberlangsungan kegiatan di luar angkasa, seperti mendukung pedoman "21 Guidelines for the Long-Term Sustainability of Outer Space Activities", kegiatan keantariksaan untuk tujuan damai, juga untuk mendukung kemajuan Indonesia melalui kemandirian dan perlindungan kepentingan strategis Indonesia dalam kegiatan keantariksaan global, serta memperkuat pembangunan kapasitas SDM Iptek Indonesia di bidang sains Antariksa.Dengan memperkuat kemandirian, berpartisipasi aktif dalam Penyelenggaraan Keantariksaan, baik melalui tata kelola PBB, seperti memitigasi risiko dari antariksa melalui implementasi panduannya, maupun kegiatan lainnya, Indonesia berperan sebagai aktor yang bertanggung jawab dalam memastikan ruang angkasa tetap menjadi lingkungan yang aman, damai, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.Untuk memperkuat ekosistem risetdan memperluas jejaring kolaborasi, open call for joint collaboration ini diluncurkan mencakup dua tema besar, yaitu Space Situational Awareness dan Astrofisika. Skema ini menyediakan ruang bagi para periset untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dasar, tetapi juga memberi ruang pada peningkatan kesiap-terapan teknologi (technology readiness), dan penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan penyelenggaraan keantariksaan maupun program prioritas nasional.Tujuan: Berkontribusi pada penambahan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, pemecahan masalah, dan pemahaman fenomena di bidang Antariksa.Memanfaatkan aset riset di bidang Antariksa yang tersedia di BRIN.Menghasilkan purwarupa, kekayaan intelektual, dan karya tulis ilmiah, di bidang Antariksa.Fokus Riset:1. Space Situational Awareness (SSA)Space Situational Awareness (SSA) adalah Riset yang ditujukan untuk mempelajari dan membangun kemampuan untuk mengetahui, memahami, dan memprediksi segala sesuatu yang terjadi di luar angkasa, terutama di sekitar orbit Bumi. Ada tiga unsur dominan dalam studi ini, yaitu:Pelacakan dan pemetaan potensi benda buatan di sekitar lingkungan orbit Bumi. Riset ini terdiri dari beberapa kegiatan seperti: pengembangan pengamatan benda buatan mempergunakan teknologi optik dan radar, serta pengembangan aplikasi untuk memetakan keberadaan benda buatan di orbit sekitar Bumi;Cuaca Antariksa merupakan riset yang paling banyak dilakukan karena studi ini berupaya untuk memahami proses fisis yang terjadi mulai dari kejadian Matahari, sampai dengan interaksi di ruang antar planet, magnetosfer, ionosfer, atmosfer, bahkan sampai di litosfer. Hal ini diperlukan untuk memahami dinamika yang berkait dengan pemanfaatan teknologi tinggi yang memanfaatkan sumber daya antariksa;Identifikasi kebencanaan antariksa. Dinamika lingkungan antariksa dapat menimbulkan dampak pada kebencanaan, seperti potensi asteroid yang bisa menabrak Bumi, atau sampah dari wahana antariksa yang tidak berfungsi bisa jatuh ke lingkungan Bumi. Hal ini menjadi salah satu kegiatan yang perlu dilakukan kajian mendalam dan berkelanjutan.Riset dalam tema SSA ini berpotensi menciptakan hasil riset dengan TRL (Technology Readines Level 1-7).Adapun riset SSA ini mencakup: FR.SSA.1. Antariksa dan Kecerdasan BuatanIBerbagai fenomena antariksa, khususnya di sekitar orbit Bumi, terjadi akibat dinamika cuaca antariksa yang dipengaruhi oleh aktivitas Matahari dan interaksinya dengan magnetosfer-ionosfer-atmosfer Bumi, serta interaksi akibat gravitasi Bumi dengan asteroid atau objek buatan manusia. Kompleksitas interaksi antara berbagai variabel tersebut menyebabkan sulitnya pembuatan model fisis secara analitik yang akurat. Untuk meningkatkan kemampuan prediksi fenomena antariksa yang berdampak ke Bumi, integrasi antara keberlimpahan data pengamatan antariksa dan kecerdasan buatan sangat diperlukan. Fokus riset yang diharapkan adalah peningkatan kemampuan prediksi dalam dinamika orbit dan cuaca antariksa. Implementasi model machine learning atau artificial intelligence pada fenomena di Matahari dan di lingkungan antariksa sekitar Bumi memungkinkan pembuatan sistem prediksi aktivitas Matahari, badai geomagnet, serta gangguan di ionosfer yang dapat berpengaruh terhadap komunikasi, navigasi, dan teknologi berbasis antariksa lainnya. Selain itu, implementasi kecerdasan buatan juga dapat digunakan untuk mendeteksi objek buatan di orbit Bumi berdasarkan hasil pengamatan, serta membuat model prediksi lintasan orbit dari asteroid dan sampah antariksa yang berpotensi jatuh ke Bumi.FR.SSA.2. Dinamika Ionosfer dan aplikasinyaIonosfer sebagai bagian dari atmosfer bumi memiliki peran penting terhadap aplikasi teknologi berbasis satelit maupun teknologi yang ada di permukaan bumi. Ionosfer merupakan medium perambatan gelombang radio antara satelit dan stasiun bumi maupun sebaliknya, serta medium perambatan gelombang radio sistem komunikasi terestrial yang bekerja pada rentang spektrum frekuensi VLF-LF--HF-VHF—VHF-UHF. Pemahaman dinamika ionosfer yang meliputi mekanisme fisis yang terjadi serta dampaknya terhadap aplikasi sistem navigasi berbasis GNSS, Satelit Komunikasi lainnya dan sistem komunikasi radio HF sangat diperlukan sebagai salah satu komponen dari Space Situational Awareness.FR.SSA.3. Interaksi Bumi - MatahariInteraksi Bumi–Matahari didominasi oleh keluaran energi Matahari berupa radiasi elektromagnetik dan angin matahari. Radiasi mengatur keseimbangan energi Bumi dan memicu dinamika ionosfer dan atmosfer. Sedangkan plasma angin matahari yang membawa medan magnet berkopel dengan magnetosfer Bumi, menghasilkan transfer energi melalui proses rekoneksi magnetik. Mekanisme ini memicu arus cincin, pembentukan sabuk radiasi, badai geomagnet, gangguan ionosfer dan dinamika lingkungan antariksa. Pemahaman karakteristik variabilitas Matahari dan respons sistem magnetosfer–ionosfer menjadi kunci dalam pemodelan respon antariksa bumi terhadap variabilitas aktivitas matahari.FR.SSA.4. Interaksi Magnetosfer - Ionosfer - dan TermosferSistem Magnetosfer–Ionosfer–Termosfer (MIT) merupakan rantai kopling plasma–atmosfer yang mengatur transfer momentum, energi, dan partikel dari angin matahari ke atmosfer atas Bumi. Variasi medan magnet dan medan listrik magnetosfer memicu arus Birkeland, konveksi ionosfer, serta pemanasan Joule dan ion–netral di termosfer. Proses terkopel ini mengubah densitas elektron, dinamika angin termosfer, dan komposisi atmosfer, yang secara langsung memengaruhi kondisi cuaca antariksa, propagasi gelombang radio, dan drag satelit di LEO.FR.SSA.5. Interaksi Mesosfer - TermosferInteraksi antara mesosfer dan termosfer merupakan aspek penting dalam dinamika atmosfer atas, terutama pada ketinggian sekitar 50–120 km. Pada lapisan transisi ini, proses-proses energi, momentum, dan komposisi saling memengaruhi melalui mekanisme gelombang atmosfer, pemanasan radiasi, serta interaksi ion-netral. Gelombang gravitasi yang merambat dari troposfer dan stratosfer mengalami amplifikasi di mesosfer dan teredam di termosfer, menghasilkan transfer momentum yang mengatur pola sirkulasi global. Sementara itu, aktivitas geomagnetik dan variasi radiasi Matahari di termosfer memodulasi densitas, temperatur, dan dinamika ionosfer, yang efeknya dapat berpropagasi ke mesosfer. Pemahaman hubungan dua lapisan ini penting untuk memodelkan cuaca ruang angkasa (space weather), memprediksi kondisi atmosfer atas untuk misi satelit orbit rendah, serta memvalidasi model atmosfer global.FR.SSA.6 Kebencanaan Antariksa - Atmosfer AtasKajian kebencanaan difokuskan pada potensi bencana tumbukan akibat orbit asteroid yang berpapasan dengan orbit bumi atau jatuhnya sampah antariksa ke bumi. Analisis orbit asteroid dapat dilakukan berdasarkan data observasional atau katalog objek dekat bumi (Near Earth Objects). Kajian juga untuk menganalisis potensi dampak tumbukan asteroid berupa gelombang kejut di atmosfer, potensi pembentukan kawah tumbukan di darat, atau potensi gelombang tinggi di laut, termasuk tsunami, bila jatuh di laut.FR.SSA.7. Lingkungan Orbit satelitKebencanaan antariksa pada atmosfer atas berkaitan dengan gangguan lingkungan geospace—termosfer, ionosfer, dan magnetosfer—yang dipicu variabilitas cuaca antariksa. Peningkatan aktivitas Matahari dapat menghasilkan badai geomagnetik, pemanasan termosfer, dan fluktuasi densitas atmosfer yang memengaruhi aerodynamic drag, stabilitas orbit satelit LEO, serta akurasi orbit determination. Di ionosfer, proses ionisasi dan rekombinasi yang tidak stabil menimbulkan scintillation, TEC anomaly, dan signal fading yang mengganggu sistem komunikasi dan navigasi berbasis GNSS. Selain itu, partikel energetik berpotensi menyebabkan single-event upset (SEU) dan degradasi komponen elektronik satelit. Kondisi ini menuntut pemantauan space weather yang presisi serta model atmosfer atas yang adaptif untuk mitigasi risiko operasional ruang angkasa.FR.SSA.8. Teknologi Instrumentasi Pengamatan AntariksaTeknologi instrumentasi pengamatan antariksa mencakup perancangan sensor optik dan elektromagnetik yang mampu beroperasi dalam kondisi vakum, radiasi tinggi, serta keterbatasan daya dan massa platform satelit. Instrumen utama meliputi kamera multispektral/hiperspektral, radiometer, spektrometer, SAR, serta sensor in-situ untuk pengukuran plasma, partikel, dan medan magnet. Perkembangan miniaturisasi elektronik, stabilisasi optik, kalibrasi onboard, dan pemrosesan data real-time meningkatkan resolusi, sensitivitas, serta akurasi observasi. Teknologi ini menjadi komponen kritis dalam misi sains dan pemantauan Bumi, mendukung akuisisi data presisi tinggi untuk analisis atmosfer, geospasial, dan astrofisika.2. AstrofisikaRiset di bidang Astrofisika adalah riset fundamental untuk memahami proses fisika yang terjadi di alam semesta. Karena proses fundamentalnya sangat rumit, diperlukan kajian yang mendalam dan multi-disiplin.Adapun riset ini mencakup: FR.AST.1. Astrofisika LanjutAstrofisika lanjut mengkaji fenomena kosmik ekstrem dengan memadukan relativitas umum, mekanika kuantum, dan fisika plasma. Bidang ini memodelkan dinamika fluida relativistik, akresi pada ruang-waktu melengkung, instabilitas MHD, serta proses radiasi berenergi tinggi. Observasi multi-messenger dan simulasi numerik berskala besar digunakan untuk mengekstraksi parameter fisik sistem seperti lubang hitam, bintang neutron, supernova, dan struktur kosmik.FR.AST.2. Astronomi LingkunganAstronomi Lingkungan merupakan disiplin yang mengkaji interaksi antara kondisi lingkungan Bumi dan kegiatan astronomi, termasuk bagaimana polusi cahaya, polusi radio, aerosol atmosfer, serta variabilitas iklim memengaruhi akurasi pengamatan optik maupun radio. Selain itu, bidang ini menilai dampak ekologis aktivitas keantariksaan, seperti emisi peluncuran roket, peningkatan jumlah satelit orbit rendah, dan akumulasi debris orbital yang berpotensi mengganggu integritas sistem observasi dan keberlanjutan lingkungan ruang angkasa. Kajian ini menjadi dasar dalam perancangan mitigasi teknis, penentuan lokasi observatorium, serta pengembangan kebijakan tata kelola ruang angkasa yang berkelanjutan.FR.AST.3. Dinamika Tata SuryaDinamika Tata Surya mengkaji evolusi orbit benda langit melalui penyelesaian sistem persamaan gerak N-benda yang nonlinier, dengan gravitasi Newton sebagai dominan dan koreksi relativistik pada medan dekat Matahari. Analisisnya mencakup perturbasi gravitasi, resonansi, dan chaos Hamiltonian, yang diselesaikan menggunakan integrator numerik presisi tinggi (mis. symplectic integrators). Pemodelan ini menjadi dasar dalam prediksi efemeris, studi stabilitas jangka panjang, serta perhitungan dan optimasi lintasan wahana antariksa dalam lingkungan multiperturbasi. B. Teknologi PenerbanganPengembangan teknologi kedirgantaraan nasional membutuhkan dukungan riset strategis, terukur, dan berkelanjutan untuk memperkuat daya saing negara dan kemandirian teknologi. Indonesi memang telah memiliki basis pengembangan pesawat komuter melalui program N219 dan beberapa pesawat udara nirawak (UAS, Unmanned Aircraft System). Namun di sisi lain, berbagai kapasitas penguasaan teknologi harus ditingkatkan terutama yang menyangkut teknologi kritikal seperti komposit aerostruktur, Sistem Kendali Terbang (FCS, Flight Control System), sistem komunikasi datalink, sistem navigasi, dan sistem keamanannya.Untuk memperkuat ekosistem risetdan memperluas jejaring kolaborasi, open call for joint collaboration ini diluncurkan mencakup tujuh fokus riset prioritas dalam bidang teknologi penerbangan. Skema ini menyediakan ruang bagi para periset untuk berkontribusi pada pengembangan ilmu, peningkatan kesiap-terapan teknologi (technology readiness), dan penciptaan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri maupun program nasional.Tujuan: (1) Berkontribusi pada penambahan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, pemecahan masalah, dan pemahaman fenomena di bidang teknologi penerbangan; (2) Memanfaatkan aset riset teknologi penerbangan yang tersedia di BRIN, termasuk wahana terbang, laboratorium, fasilitas uji, dan sumber daya teknis lainnya; (3) Menghasilkan keluaran bernilai tinggi berupa karya tulis ilmiah, kekayaan intelektual, prototipe, atau modul teknologi yang dapat dihilirkan untuk mendukung kemandirian teknologi penerbangan nasional.Melalui mekanisme ini, penguatan integrasi antara kompetensi periset, infrastruktur, dan fasilitas riset dapat terlaksana sehingga peningkatan kapasitas riset nasional dapat terwujud dan menghasilkan berbagai inovatif yang bermanfaat untuk masyarakat dan juga kepentingan nasional.Fokus Riset:FR.P.1. Kinerja Aerodinamika Pesawat UdaraRiset kinerja aerodinamika bertujuan meningkatkan pemahaman dan kualitas performa wahana terbang, baik yang telah beroperasi maupun yang sedang dikembangkan. Kegiatan mencakup validasi desain, optimisasi performa, peningkatan kestabilan dan keselamatan terbang, serta peningkatan efisiensi aerodinamika.Ruang lingkup riset meliputi:Studi peningkatan performa aerodinamika pada platform N219, N219A, seri wahana LSU, Alap-alap, dan PUNA berkinerja tinggi;Eksperimen terowongan angin, simulasi numerik (CFD), dan metode hibrid untuk meningkatkan koefisien gaya, karakteristik stall, efisiensi lift-to-drag ratio, serta analisis interaksi aliran;Pengembangan konsep-konsep baru seperti high-lift device, winglet, vortex control, bio-inspired aerodynamics, dan optimisasi konfigurasi wahana;Usulan lain yang relevan dengan peningkatan performa aerodinamika pesawat udara.FR.P.2. AerostrukturBidang aerostruktur menekankan pengembangan struktur pesawat yang kuat, ringan, aman, dan tahan lama. Riset difokuskan pada peningkatan integritas struktural melalui teknologi material, proses manufaktur, serta metode analisis struktur modern.Ruang lingkup riset meliputi:Penyusunan composite allowable material database sebagai dasar desain struktural berbasis komposit;Studi sambungan komposit–komposit maupun komposit–logam yang mencakup karakterisasi, kekuatan sambungan, dan ketahanan terhadap beban dinamis;Pengembangan teknik manufaktur komposit, termasuk out-of-autoclave processing, automated fiber placement, dan metode aditif;Analisis dinamika struktur wahana, flutter, vibration analysis, serta pemodelan kegagalan struktural;Usulan lain terkait peningkatan kinerja aerostruktur dan teknologi material.FR.P.3. Sistem Kendali TerbangRiset Sistem Kendali Terbang difokuskan pada pengembangan kemampuan otonomi wahana, keandalan subsistem kontrol, serta arsitektur kendali yang adaptif dan aman. Teknologi FCS merupakan komponen kunci bagi penguasaan sistem pesawat udara nirawak.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan monolithic flight control computer (FCC) dengan integrasi sensor, aktuator, dan algoritma kendali;Pengembangan modular FCC yang memungkinkan fleksibilitas, redundancy, dan peningkatan tingkat keselamatan;Pengembangan flight control actuation system (FCAS), termasuk aktuator listrik, hidrolik, dan sistem kendali presisi tinggi;Identifikasi permasalahan kendali terbang serta pengembangan algoritma kendali baru, seperti robust control, adaptive control, fault-tolerant control, dan autonomous navigation;Usulan lain terkait sistem kendali terbang.FR.P.4. Sistem Data Link dan NavigasiBidang ini mencakup penelitian teknologi komunikasi dan navigasi yang menjamin aliran data yang stabil, akurat, dan real-time antara wahana dan stasiun kendali. Riset diarahkan untuk meningkatkan keandalan misi serta kemampuan otonomi wahana.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan antena komuniksi berperforma tinggi, termasuk antena terarah, MIMO, atau antena miniatur untuk wahana kecil;Riset encoding-decoding, kompresi data, dan protokol pengiriman data berlatensi rendah;Pengembangan sistem navigasi alternatif, integrasi multi-sensor, sensor fusion, dan peningkatan akurasi navigasi untuk misi jarak jauh;Usulan lain terkait sistem datalink, komunikasi, dan navigasi wahana.FR.P.5. Sistem dan Aplikasi DroneRiset ini menekankan pengembangan teknologi drone yang dapat diaplikasikan pada berbagai sektor, baik sipil maupun militer. Fokus diarahkan pada peningkatan kemampuan operasional dan kolaborasi sistem pendukung.Ruang lingkup riset meliputi:Sistem pemetaan presisi berbasis kamera, LIDAR, atau sensor lainnya;Sistem pertanian cerdas, termasuk pemantauan tanaman, penyemprotan otomatis, dan analitik berbasis AI;Sistem pengawasan dan pengintaian untuk keamanan, mitigasi bencana, dan manajemen wilayah;Integrasi drone ke dalam ekosistem digital, termasuk edge computing, jaringan swarm drone, dan cloud-based mission management;Usulan lain terkait pemanfaatan drone dan sistem aplikasinya.FR.P.6. Sistem Muatan (Payload System)Sistem muatan menjadi komponen inti dalam fungsionalitas UAS modern. Riset difokuskan pada pengembangan sensor beresolusi tinggi dan muatan misi yang mendukung kebutuhan pertahanan, kebencanaan, dan aplikasi lainnya.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan sensor payload seperti SAR, LIDAR, hyperspectral imaging, atau kamera resolusi tinggi;Pengembangan mission payload untuk operasi militer, pemetaan bencana, pemantauan lingkungan, dan tugas-tugas khusus lainnya;Integrasi payload dengan wahana, termasuk sistem daya, komunikasi, dan kontrol misi;Usulan lain terkait pengembangan sistem muatan.FR.P.7. Aeronautika BerkelanjutanRiset aeronautika berkelanjutan bertujuan mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas penerbangan serta mendorong pengembangan teknologi hijau dalam dunia kedirgantaraan.Ruang lingkup riset meliputi:Pengembangan engine control unit (ECU) untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dan keselamatan operasi mesin;Studi propeller parametric untuk meningkatkan efisiensi propulsi;Pengembangan sistem propulsi alternatif seperti hibrida, listrik, hydrogen-based propulsion, dan teknologi rendah emisi lainnya;Riset green aviation, sustainable aviation fuel (SAF), serta analisis dampak lingkungan penerbangan;Usulan lain terkait teknologi aeronautika berkelanjutan. C. Teknologi RoketTujuan: Menghasilkan kekayaan intelektual, model, purwarupa, dan publikasi ilmiah pada penguasaan teknologi kunci terkait teknologi roket.Fokus Riset:FR.R.1. Peningkatan kualitas propelan komposit (Impuls spesifik, karakteristik mekanik, pre-treatment bahan baku, aging)Peningkatan kualitas propelan komposit difokuskan pada optimasi parameter performa dan reliabilitas sistem propulsi padat. Upaya teknis meliputi peningkatan impuls spesifik melalui modifikasi komposisi oksidator–binder dan pengaturan fraksi padatan; penguatan karakteristik mekanik propelan melalui optimasi jaringan polimer, plasticizer, dan kontrol struktur mikro; serta penyempurnaan pretreatment bahan baku seperti pengeringan, pengendalian ukuran partikel, dan peningkatan kemurnian oksidator. Integrasi ketiga aspek tersebut bertujuan menghasilkan propelan dengan performa pembakaran lebih efisien, stabilitas tinggi, serta ketahanan mekanik yang memenuhi standar operasional sistem roket.FR.R.2. Sistem igniter, ignition transient, dan erosive burning untuk propelan kompositSistem igniter pada propelan komposit dirancang untuk menghasilkan fluks panas dan tekanan awal yang cukup untuk mencapai kondisi ignition threshold pada permukaan propelan. Setelah penyalaan dipicu, motor memasuki fase ignition transient, yaitu periode transien hingga tercapainya steady-state burning rate, yang ditandai oleh stabilisasi tekanan ruang bakar dan distribusi nyala. Dalam kondisi aliran internal berkecepatan tinggi, propelan komposit juga dapat mengalami erosive burning, yakni peningkatan laju bakar akibat gradien tekanan dan gaya geser aliran gas, yang berdampak pada perubahan performa dan margin keselamatan motor roket. Pemahaman ketiga aspek ini diperlukan untuk memastikan desain sistem propulsi padat yang stabil, terkendali, dan sesuai spesifikasi balistik.FR.R.3. Pengembangan struktur ringan untuk komponen roket berbasis komposit atau logam (radio transparent nosecone, sirip, tabung motor roket, nozzle, sistem join untuk material komposit)Pengembangan struktur ringan berbasis komposit dan logam bertujuan meningkatkan rasio kekuatan-berat pada komponen roket, sehingga mendukung efisiensi propulsi dan stabilitas aerodinamik. Fokus pengembangan meliputi radio transparent nosecone, sirip, tabung motor roket, nozzle, serta sistem joining komposit. Optimalisasi dilakukan melalui pemilihan material berperforma tinggi, rekayasa desain berbasis analisis numerik (FEM/CFD), serta proses manufaktur presisi seperti filament winding, lay-up, dan metal forming. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan komponen berdensitas rendah namun memiliki kekuatan struktural, ketahanan termal, dan kompatibilitas elektromagnetik sesuai persyaratan misi.FR.R.4. Pengembangan sistem avionik untuk roket (IMU, Radio telemetry untuk transmisi data, GPS receiver untuk tracking roket)Pengembangan sistem avionik roket difokuskan pada integrasi Inertial Measurement Unit (IMU), modul radio telemetry, dan GPS receiver untuk meningkatkan akurasi pemantauan serta keselamatan penerbangan. IMU digunakan untuk mengukur percepatan linier, kecepatan sudut, dan orientasi roket secara real-time. Radio telemetry berperan dalam transmisi data penerbangan—termasuk ketinggian, kondisi dinamika, dan status sistem—ke ground station. GPS receiver menyediakan informasi posisi dan kecepatan roket secara absolut sepanjang lintasan terbang. Integrasi ketiga komponen ini memungkinkan akuisisi data yang lebih presisi, mempermudah analisis pascapenerbangan, serta mendukung pengembangan sistem kendali roket pada tahap berikutnya.FR.R.5. Pengembangan motor roket padat case bondedPengembangan motor roket padat case-bonded difokuskan pada perancangan grain propelan yang dicetak dan terikat langsung pada dinding casing untuk memastikan integritas struktural, stabilitas balistik, dan efisiensi ruang bakar. Sistem ini menuntut kontrol ketat pada karakterisasi material propelan, kompatibilitas liner–casing, proses curing, serta analisis termostruktural selama operasi. Upaya pengembangan diarahkan pada peningkatan performa dorong, konsistensi manufaktur, dan keandalan motor melalui rangkaian uji statis dan evaluasi nondestruktifFR.R.6. Pengembangan sistem kendali roketPengembangan sistem kendali roket difokuskan pada perancangan algoritma kontrol, integrasi sensor inersial, serta pemodelan dinamika terbang untuk memastikan stabilitas dan ketepatan lintasan. Upaya ini mencakup pengembangan perangkat lunak kendali, sistem aktuasi, serta pengujian terintegrasi hardware-in-the-loop guna meningkatkan keandalan dan performa roket pada berbagai kondisi misiFR.R.7. Thruster, Thrust Vectoring, & controllable rocket propulsion systemPengendalian gaya dorong merupakan elemen kritis dalam desain sistem propulsi roket modern. Thruster digunakan sebagai aktuator pendorong berukuran kecil untuk kendali sikap dan manuver orbit dengan memanfaatkan impuls spesifik tinggi dan respons cepat. Teknologi thrust vectoring memungkinkan pengubahan arah gaya dorong utama melalui defleksi nozzle, gimballing, atau injeksi fluida sehingga meningkatkan kendali lintasan pada berbagai fase penerbangan. Integrasi kedua konsep tersebut membentuk controllable rocket propulsion system, yakni sistem propulsi yang mampu menghasilkan besar dan arah dorong yang presisi guna mendukung stabilitas, manuverabilitas, dan akurasi misi penerbangan maupun operasi antariksa.FR.R.8. Riset-riset lainnya terkait dengan teknologi roket dan Bandar AntariksaOrganisasi Riset Penerbangan dan Antariksa melaksanakan berbagai riset untuk memperkuat kemampuan nasional di bidang teknologi roket dan pengembangan Bandar Antariksa. Kegiatan penelitian difokuskan pada peningkatan kinerja sistem propulsi, struktur, dan kendali roket, serta pengembangan konsep, desain, dan kesiapan operasional bandar antariksa. Upaya ini mendukung kemandirian peluncuran dan pembangunan ekosistem keantariksaan Indonesia. D. Teknologi SatelitTujuan: menghasilkan publikasi ilmiah, kekayaan intelektual, model dan purwarupa pada penguasaan teknologi kunci serta teknik pengoperasian terkait bidang teknologi satelit.Fokus Riset:FR.S.1. Pengembangan Komponen Bus satelit orbit rendah BumiPengembangan komponen bus satelit LEO difokuskan pada perancangan subsistem struktural, elektrik, dan kendali yang mampu beroperasi pada lingkungan orbit dengan fluktuasi termal tinggi, radiasi moderat, serta drag atmosfer residu. Bus mencakup EPS, OBC, ADCS, TTC, struktur, dan sistem termal yang harus dioptimalkan untuk massa rendah, efisiensi daya tinggi, serta reliabilitas jangka panjang. Pemanfaatan komponen berstandar ruang, arsitektur modular, dan integrasi antarsubsistem dengan protokol komunikasi terstandardisasi menjadi kunci untuk meningkatkan performa dan kemandirian teknologi satelit LEO.FR.S.2. Pengembangan muatan multi misi satelit LEO/GEOPengembangan muatan multi misi untuk satelit LEO/GEO mengharuskan desain arsitektur muatan yang modular dan dapat dikonfigurasi ulang, mencakup subsistem RF/optik, pemrosesan digital onboard, serta manajemen daya dan termal yang adaptif terhadap kondisi orbit.Muatan multi misi menggabungkan fungsi penginderaan, komunikasi, dan pemrosesan data dalam satu platform melalui penggunaan software-defined payload, komponen toleran radiasi, dan digital channelization. Pada LEO fokusnya adalah akuisisi data ber-throughput tinggi dan stabilitas pointing, sedangkan pada GEO menitikberatkan pada ketersediaan link dan fleksibilitas alokasi spektrum.Pendekatan ini meningkatkan efisiensi massa, daya, dan bandwidth serta memungkinkan respons operasional yang dinamis lintas aplikasi.
Selama beberapa tahun terakhir, material dan desain ringan telah menarik banyak perhatian karena keunggulan utamanya dalam sejumlah kesulitan rekayasa yang telah meningkatkan tuntutan dalam hal keselamatan, lingkungan, persaingan, dan biaya. Sistem hibrida merupakan strategi sukses yang bertujuan untuk memanfaatkan fungsi spesifik dan sifat unik dari berbagai material dalam konstruksi ringan sekaligus meningkatkan efisiensi setiap material. Komposit polimer yang diperkuat serat (FRP) telah menarik banyak perhatian akhir-akhir ini di antara berbagai material ringan, seperti paduan aluminium, paduan magnesium, dan bentuk komposit lainnya, karena rasio modulus/kekuatan-terhadap-beratnya yang sangat tinggi dan fleksibilitas desain yang luar biasa [38-41]. Kebutuhan energi di sektor kedirgantaraan dan penerbangan cukup tinggi, sehingga penting untuk menggunakan paduan ringan untuk menurunkan berat keseluruhan pesawat guna meningkatkan penghematan biaya. Berat pesawat memengaruhi biaya pergerakannya, dengan bahan bakar menyumbang sekitar 30% dari total pengeluaran. Oleh karena itu, keuntungan prospektif dari adopsi material struktural ringan jelas mengingat jumlah lalu lintas penerbangan global telah berlipat ganda setiap 15 tahun sejak 1977 dan kecenderungan ini tampaknya akan terus meningkat di masa mendatang [42-44]. Material berpori ringan tersedia dalam berbagai konstituen yang sering dikategorikan sebagai material logam, nonlogam, oksida, dan polimer. Karena harganya yang terjangkau, struktur templatnya, kemampuan penyesuaiannya, dan biodegradabilitasnya, polimer alami termasuk pati, selulosa, natrium alginat, dan lainnya lebih disukai untuk membuat material berpori yang lebih ringan [45,46]. Material ringan serbaguna memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kinerja dan keramahan lingkungan dari keseluruhan sistem konstruksi. Untuk memenuhi spesifikasi setiap tujuan atau perangkat, material ringan sering dianggap sebagai material yang memanfaatkan polimer sebagai matriks induk atau/dan komposit yang dilengkapi dengan aditif. Elastomer, termoplastik, dan termoset merupakan jenis bahan polimer yang dapat disesuaikan untuk tujuan tertentu berkat karakteristik fisikokimianya yang beragam. Selain itu, dalam arti luas, material ringan juga dapat terdiri dari material anorganik berdensitas tinggi yang dapat digunakan secara hemat dalam sistem ringan untuk melakukan tugas-tugas khusus seperti pembersihan mandiri atau pengawasan kesehatan struktural tanpa memengaruhi sifat ringan struktur utama [47-50]. Meningkatnya tuntutan untuk peningkatan efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi gas rumah kaca telah mendorong produsen untuk membangun kendaraan ringan. Selain itu, kendaraan yang lebih ringan dapat berfungsi lebih baik ketika didaur ulang dan/atau dikendarai (misalnya, dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik, karakteristik pengereman, dan keselamatan tabrakan). Material ringan di sektor otomotif dapat dikategorikan secara luas menjadi empat kelompok sebagai pengganti potensial untuk struktur teknik tradisional (seperti baja dan besi cor), termasuk paduan ringan (seperti paduan Al, Mg, dan Ti), keluarga HSS (seperti HSS dan AHSS tradisional), komposit (CFRP, GFRP, NFRP), dan material canggih lainnya [51-53].Komponen dan struktur yang lebih ringan untuk beberapa aplikasi industri dapat diproduksi menggunakan metode yang hemat biaya berkat penggunaan logam ringan (aluminium, magnesium, dan titanium) dan teknik pengecoran yang mutakhir. Untuk meminimalkan penggunaan energi dan dampak karbon, paduan ringan Al, Mg, dan Ti semakin banyak digunakan di sektor industri dan transportasi. Dalam 20 tahun terakhir, paduan cor dan teknik untuk aplikasi Al, Mg, dan Ti yang lebih ringan telah berkembang secara signifikan. Penutup elektronik Mg berdinding tipis, komponen mesin Ti, dan pengecoran bodi mobil Al berukuran sangat besar hanyalah beberapa contoh [54,55]. Karena memiliki kepadatan yang rendah (sekitar dua pertiga dari aluminium) dan kekuatan yang sangat baik, paduan magnesium telah menarik banyak minat dari sektor kendaraan kereta api akhir-akhir ini. Paduan magnesium saat ini 1,3-1,5 kali lebih mahal daripada paduan aluminium pada titik harga bahan baku [56]. Liao dan tim merancang paduan ringan baruTix (AlCrNb)100-x (x = 45-80) untuk aplikasi kendaraan transportasi. Paduan yang dikembangkan memiliki kekuatan luluh kompresi yang sangat baik, sekitar 1500 MPa, kekuatan patah kompresi yang lebih tinggi, sekitar 1800 MPa, dan peningkatan plastisitas kompresi lebih dari 30% pada suhu ruang, yang semuanya dapat menampilkan karakteristik mekanis yang diinginkan [57]. Baru-baru ini, sebuah karya menarik melaporkan pemanfaatan paduan berbasis magnesium seperti AZ31, AZ61, AZ80, dan paduan MgeLi untuk pembuatan profil kedirgantaraan berdinding tipis. Hal ini bertujuan untuk membuat berbagai macam bentuk penampang rumit yang penting bagi sektor penerbangan untuk produk ekstrusi ringan guna menghemat energi, biaya, dll. Dengan mengurangi berat pesawat, kemampuan untuk menunjukkan material dan parameter pemrosesan yang optimal telah ditunjukkan [58]. Shao dkk. mengembangkan serangkaian sistem paduan entropi Al-Mg, dan pemeriksaan mendalam dilakukan untuk memperkenalkan material inovatif. Masing-masing paduan ditemukan memiliki densitas rendah antara 2,64 dan 2,75 g/cm³, yang lebih rendah densitasnya dibandingkan paduan titanium pada umumnya (4,5 g/cm³). Paduan entropi tinggi ringan yang dikembangkan memiliki kuat tekan tinggi lebih dari 500 MPa pada suhu ruang [59].Komposit sedang dipertimbangkan dalam industri transportasi untuk menciptakan kendaraan yang lebih ringan, lebih aman, dan lebih hemat bahan bakar. Telah terbukti bahwa komposit polimer yang diperkuat serat, khususnya plastik yang diperkuat serat karbon (CFRP), dapat mengintegrasikan semua sifat ini secara lebih efektif daripada jenis komposit lainnya. Penggunaannya yang luas dalam komponen pesawat, yang mencakup hampir 50% dari massa struktural pesawat terbang terbaru, menjadi buktinya. Material tersebut memanfaatkan matriks polimer yang fleksibel serta kekakuan spesifik dan kekuatan serat mikro/nano kontinu yang sangat baik, yang keduanya sangat ringan [61]. Komposit ringan yang disebut busa sintaksis mencakup partikel berongga yang tersebar di seluruh matriks. Material yang lebih ringan ini sering digunakan dalam aplikasi yang beratnya menjadi masalah, seperti kapal laut, konstruksi pesawat terbang, dan isolasi termal pipa. Busa polimer yang diperkuat logam telah menunjukkan perlindungan interferensi elektromagnetik yang tinggi pada kepadatan yang cukup rendah [62]. Untuk membuat komponen ringan untuk pesawat terbang seperti panel pintu dan kemudi, komposit yang diperkuat serat alami telah menjadi sangat populer. Karena karakteristik termal, mekanis, dan biodegradabilitasnya yang luar biasa, komposit berbasis nanopartikel (NBC) yang terbuat dari matriks polimer yang diperkuat serat alami banyak digunakan di berbagai industri. Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 3, NBC banyak digunakan dalam industri kedirgantaraan, otomotif, pengemasan, militer, konstruksi, angkatan laut, olahraga, kedokteran, dan blok bangunan untuk mencapai kemampuan yang luar biasa [63].Penggunaan basalt sebagai material coating baja/besi tahan karat untuk aplikasi di industri pertahanan merupakan topik yang menarik dan inovatif. Basalt, yang merupakan batuan vulkanik alami, semakin dikenal sebagai material yang kuat, tahan korosi, tahan panas, dan relatif ekonomis (Vivek et al, 2024). Material ini dapat digunakan untuk melapisi baja atau besi agar memiliki sifat yang lebih baik dalam menghadapi lingkungan ekstrem, seperti korosi, suhu tinggi, dan paparan kimia. Berikut adalah gambaran lebih detail tentang pengembangan basalt sebagai material coating untuk baja/besi dalam pembuatan alat pertahanan (Chen et al, 2024).Bidang fotonika dan fisika kuantum memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan nanoteknologi dan material untuk aplikasi pertahanan, keamanan, dan satelit. Fotonika memungkinkan terciptanya sistem komunikasi yang cepat dan aman, sensor berkinerja tinggi, serta teknologi stealth. Sementara itu, fisika kuantum membuka peluang untuk komunikasi yang tidak dapat disadap, sensor presisi tinggi, dan komputasi yang revolusioner. Sinergi antara kedua bidang ini akan terus mendorong inovasi teknologi yang mendukung kebutuhan strategis nasional di era modern.Dengan melihat perkembangan riset dan inovasi pada bidang nanoteknologi dan material yang sedemikian pesatnya, khususnya pada aplikasi pertahanan, keamanan, dan satelit maka perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut khususnya untuk menjaga kedaulatan nasional.Klaster ini melingkupi tema sebagai berikut:Komposit Ringan dan Kuat untuk Aplikasi AlutsistaTeknologi Material untuk Optimasi Bahan Bakar dan Sistem EnergiMaterial dan Penginderaan KuantumMaterial Cat Anti-Deteksi Radar dan Self-HealingPenumbuhan Kristal Tunggal dan Lapisan TipisPeralatan untuk Deposisi atau Karakterisasi MaterialRiset Metodologi Menggunakan Alat-alat Besar BRIN
Selama beberapa tahun terakhir, material dan desain ringan telah menarik banyak perhatian karena keunggulan utamanya dalam sejumlah kesulitan rekayasa yang telah meningkatkan tuntutan dalam hal keselamatan, lingkungan, persaingan, dan biaya. Sistem hibrida merupakan strategi sukses yang bertujuan untuk memanfaatkan fungsi spesifik dan sifat unik dari berbagai material dalam konstruksi ringan sekaligus meningkatkan efisiensi setiap material. Komposit polimer yang diperkuat serat (FRP) telah menarik banyak perhatian akhir-akhir ini di antara berbagai material ringan, seperti paduan aluminium, paduan magnesium, dan bentuk komposit lainnya, karena rasio modulus/kekuatan-terhadap-beratnya yang sangat tinggi dan fleksibilitas desain yang luar biasa [38-41]. Kebutuhan energi di sektor kedirgantaraan dan penerbangan cukup tinggi, sehingga penting untuk menggunakan paduan ringan untuk menurunkan berat keseluruhan pesawat guna meningkatkan penghematan biaya. Berat pesawat memengaruhi biaya pergerakannya, dengan bahan bakar menyumbang sekitar 30% dari total pengeluaran. Oleh karena itu, keuntungan prospektif dari adopsi material struktural ringan jelas mengingat jumlah lalu lintas penerbangan global telah berlipat ganda setiap 15 tahun sejak 1977 dan kecenderungan ini tampaknya akan terus meningkat di masa mendatang [42-44]. Material berpori ringan tersedia dalam berbagai konstituen yang sering dikategorikan sebagai material logam, nonlogam, oksida, dan polimer. Karena harganya yang terjangkau, struktur templatnya, kemampuan penyesuaiannya, dan biodegradabilitasnya, polimer alami termasuk pati, selulosa, natrium alginat, dan lainnya lebih disukai untuk membuat material berpori yang lebih ringan [45,46]. Material ringan serbaguna memiliki potensi untuk secara signifikan meningkatkan kinerja dan keramahan lingkungan dari keseluruhan sistem konstruksi. Untuk memenuhi spesifikasi setiap tujuan atau perangkat, material ringan sering dianggap sebagai material yang memanfaatkan polimer sebagai matriks induk atau/dan komposit yang dilengkapi dengan aditif. Elastomer, termoplastik, dan termoset merupakan jenis bahan polimer yang dapat disesuaikan untuk tujuan tertentu berkat karakteristik fisikokimianya yang beragam. Selain itu, dalam arti luas, material ringan juga dapat terdiri dari material anorganik berdensitas tinggi yang dapat digunakan secara hemat dalam sistem ringan untuk melakukan tugas-tugas khusus seperti pembersihan mandiri atau pengawasan kesehatan struktural tanpa memengaruhi sifat ringan struktur utama [47-50]. Meningkatnya tuntutan untuk peningkatan efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi gas rumah kaca telah mendorong produsen untuk membangun kendaraan ringan. Selain itu, kendaraan yang lebih ringan dapat berfungsi lebih baik ketika didaur ulang dan/atau dikendarai (misalnya, dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik, karakteristik pengereman, dan keselamatan tabrakan). Material ringan di sektor otomotif dapat dikategorikan secara luas menjadi empat kelompok sebagai pengganti potensial untuk struktur teknik tradisional (seperti baja dan besi cor), termasuk paduan ringan (seperti paduan Al, Mg, dan Ti), keluarga HSS (seperti HSS dan AHSS tradisional), komposit (CFRP, GFRP, NFRP), dan material canggih lainnya [51-53].Komponen dan struktur yang lebih ringan untuk beberapa aplikasi industri dapat diproduksi menggunakan metode yang hemat biaya berkat penggunaan logam ringan (aluminium, magnesium, dan titanium) dan teknik pengecoran yang mutakhir. Untuk meminimalkan penggunaan energi dan dampak karbon, paduan ringan Al, Mg, dan Ti semakin banyak digunakan di sektor industri dan transportasi. Dalam 20 tahun terakhir, paduan cor dan teknik untuk aplikasi Al, Mg, dan Ti yang lebih ringan telah berkembang secara signifikan. Penutup elektronik Mg berdinding tipis, komponen mesin Ti, dan pengecoran bodi mobil Al berukuran sangat besar hanyalah beberapa contoh [54,55]. Karena memiliki kepadatan yang rendah (sekitar dua pertiga dari aluminium) dan kekuatan yang sangat baik, paduan magnesium telah menarik banyak minat dari sektor kendaraan kereta api akhir-akhir ini. Paduan magnesium saat ini 1,3-1,5 kali lebih mahal daripada paduan aluminium pada titik harga bahan baku [56]. Liao dan tim merancang paduan ringan baruTix (AlCrNb)100-x (x = 45-80) untuk aplikasi kendaraan transportasi. Paduan yang dikembangkan memiliki kekuatan luluh kompresi yang sangat baik, sekitar 1500 MPa, kekuatan patah kompresi yang lebih tinggi, sekitar 1800 MPa, dan peningkatan plastisitas kompresi lebih dari 30% pada suhu ruang, yang semuanya dapat menampilkan karakteristik mekanis yang diinginkan [57]. Baru-baru ini, sebuah karya menarik melaporkan pemanfaatan paduan berbasis magnesium seperti AZ31, AZ61, AZ80, dan paduan MgeLi untuk pembuatan profil kedirgantaraan berdinding tipis. Hal ini bertujuan untuk membuat berbagai macam bentuk penampang rumit yang penting bagi sektor penerbangan untuk produk ekstrusi ringan guna menghemat energi, biaya, dll. Dengan mengurangi berat pesawat, kemampuan untuk menunjukkan material dan parameter pemrosesan yang optimal telah ditunjukkan [58]. Shao dkk. mengembangkan serangkaian sistem paduan entropi Al-Mg, dan pemeriksaan mendalam dilakukan untuk memperkenalkan material inovatif. Masing-masing paduan ditemukan memiliki densitas rendah antara 2,64 dan 2,75 g/cm³, yang lebih rendah densitasnya dibandingkan paduan titanium pada umumnya (4,5 g/cm³). Paduan entropi tinggi ringan yang dikembangkan memiliki kuat tekan tinggi lebih dari 500 MPa pada suhu ruang [59].Komposit sedang dipertimbangkan dalam industri transportasi untuk menciptakan kendaraan yang lebih ringan, lebih aman, dan lebih hemat bahan bakar. Telah terbukti bahwa komposit polimer yang diperkuat serat, khususnya plastik yang diperkuat serat karbon (CFRP), dapat mengintegrasikan semua sifat ini secara lebih efektif daripada jenis komposit lainnya. Penggunaannya yang luas dalam komponen pesawat, yang mencakup hampir 50% dari massa struktural pesawat terbang terbaru, menjadi buktinya. Material tersebut memanfaatkan matriks polimer yang fleksibel serta kekakuan spesifik dan kekuatan serat mikro/nano kontinu yang sangat baik, yang keduanya sangat ringan [61]. Komposit ringan yang disebut busa sintaksis mencakup partikel berongga yang tersebar di seluruh matriks. Material yang lebih ringan ini sering digunakan dalam aplikasi yang beratnya menjadi masalah, seperti kapal laut, konstruksi pesawat terbang, dan isolasi termal pipa. Busa polimer yang diperkuat logam telah menunjukkan perlindungan interferensi elektromagnetik yang tinggi pada kepadatan yang cukup rendah [62]. Untuk membuat komponen ringan untuk pesawat terbang seperti panel pintu dan kemudi, komposit yang diperkuat serat alami telah menjadi sangat populer. Karena karakteristik termal, mekanis, dan biodegradabilitasnya yang luar biasa, komposit berbasis nanopartikel (NBC) yang terbuat dari matriks polimer yang diperkuat serat alami banyak digunakan di berbagai industri. Seperti yang diilustrasikan pada Gambar 3, NBC banyak digunakan dalam industri kedirgantaraan, otomotif, pengemasan, militer, konstruksi, angkatan laut, olahraga, kedokteran, dan blok bangunan untuk mencapai kemampuan yang luar biasa [63].Penggunaan basalt sebagai material coating baja/besi tahan karat untuk aplikasi di industri pertahanan merupakan topik yang menarik dan inovatif. Basalt, yang merupakan batuan vulkanik alami, semakin dikenal sebagai material yang kuat, tahan korosi, tahan panas, dan relatif ekonomis (Vivek et al, 2024). Material ini dapat digunakan untuk melapisi baja atau besi agar memiliki sifat yang lebih baik dalam menghadapi lingkungan ekstrem, seperti korosi, suhu tinggi, dan paparan kimia. Berikut adalah gambaran lebih detail tentang pengembangan basalt sebagai material coating untuk baja/besi dalam pembuatan alat pertahanan (Chen et al, 2024).Bidang fotonika dan fisika kuantum memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan nanoteknologi dan material untuk aplikasi pertahanan, keamanan, dan satelit. Fotonika memungkinkan terciptanya sistem komunikasi yang cepat dan aman, sensor berkinerja tinggi, serta teknologi stealth. Sementara itu, fisika kuantum membuka peluang untuk komunikasi yang tidak dapat disadap, sensor presisi tinggi, dan komputasi yang revolusioner. Sinergi antara kedua bidang ini akan terus mendorong inovasi teknologi yang mendukung kebutuhan strategis nasional di era modern.Dengan melihat perkembangan riset dan inovasi pada bidang nanoteknologi dan material yang sedemikian pesatnya, khususnya pada aplikasi pertahanan, keamanan, dan satelit maka perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut khususnya untuk menjaga kedaulatan nasional.Klaster ini melingkupi tema sebagai berikut:Komposit Ringan dan Kuat untuk Aplikasi AlutsistaTeknologi Material untuk Optimasi Bahan Bakar dan Sistem EnergiMaterial dan Penginderaan KuantumMaterial Cat Anti-Deteksi Radar dan Self-HealingPenumbuhan Kristal Tunggal dan Lapisan TipisPeralatan untuk Deposisi atau Karakterisasi MaterialRiset Metodologi Menggunakan Alat-alat Besar BRIN
Penerapan ekonomi hijau merupakan salah satu cara agar pembangunan Indonesia dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan mengedepankan sisi lingkungan. Salah satu program yang mendukung sekaligus perlu menerapkan ekonomi hijau adalah program hilirisasi sumber daya alam tidak terbarukan. Program ini utamanya adalah pemanfaatan mineral untuk diambil unsur-unsur logam dan non logamnya. Unsur-unsur tersebut harus diolah dengan memperhatikan aspek pengurangan emisi gas, menggunakan energi yang rendah karbon serta pengelolaan lingkungan yang baik. Saat ini pemerintah telah mengklasifikasikan 22 jenis mineral sebagai mineral strategis dan 47 jenis mineral sebagai mineral kritis. Beberapa mineral kritis dan strategis yang penting diantaranya adalah Al, Fe, Au, Ti, Li, Sc, Sr, Co, Sn, Ni, Cu, Mn, Si, Mg, B dan Logam Tanah Jarang (LTJ). Mineral- mineral ini memiliki peran sentral dalam pembangunan infrastruktur hijau di Indonesia. Sebagai contoh baja dan aluminium merupakan bahan utama konstruksi yang memungkinkan pengembangan bangunan ramah lingkungan dan infrastruktur yang tahan lama. Logam lain seperti nikel, tembaga, mangan, seng dan silikon sangat diperlukan dalam pengembangan energi terbarukan dan teknologi modern, termasuk baterai kendaraan listrik dan panel surya. Indonesia memiliki cadangan mineral yang jika dikelola dengan bijak dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan menjadikan negara sebagai pemain utama dalam industri logam.Sektor utama untuk pemenuhan logam, non logam dan batubara adalah sektor tambang. Aktivitas pada sektor ini terdiri dari aktivitas pencarian mineral dan batubara, pengolahan dan pemurnian serta pengelolaan akibat-akibat yang ditimbulkan dari aktivitas tersenutAktivitas pengolahan dan pemurnian mineral dan batubara biasanya membutuhkan energi yang besar serta bahan tambahan berupa bahan kimia, reduktor (material mengandung karbon) dan fluks. Kebutuhan energi dan reduktor dipasok dari material alam berbasis karbon utamanya batubara. Namun demikian, penggunaan batubara dapat meningkatkan pelepasan emisi yang berakibat pada peningkatan efek gas rumah kaca. Untuk itu diperlukan perbaikan proses pengolahan batubara sehingga pemenuhan energi dan reduktor dapat diiringi dengan pelepasan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang minimal. Selain itu batubara juga merupakan komoditas yang dapat digunakan untuk menghasilkan material karbon untuk bahan baku industri hilir seperti untuk alat penyimpan energi.Aktivitas penambangan harus didukung dengan sistem monitoring untuk memastikan kegiatan operasional tambang berjalan sesuai dengan regulasi dan standar lingkungan yang berlaku. Monitoring yang efektif memungkinkan deteksi dini potensi masalah seperti pencemaran, kerusakan lingkungan, atau penurunan keselamatan kerja. Hal ini membantu mencegah dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Dengan adanya monitoring sistem yang baik, sektor pertambangan dapat beroperasi secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.Selain produk utama, aktivitas penambangan yang diikuti dengan pengolahan dan pemurnian akan menghasilkan bahan yang tidak lagi digunakan yang dikenal sebagai Sisa Hasil Pengolahan (SHP). SHP ini harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan ancaman bagi lingkungan. Pemanfaatan SHP merupakan salah satu cara untuk meminimalkan ancaman lingkungan dan mengurangi lahan serta biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaannya. SHP dapat dimanfaatkan baik sebagai bahan baku sebuah produk atau diolah untuk mendapatkan logam dan non logam sisa yang terkandung di dalamnya.Salah satu aktivitas yang perlu dikembangkan adalah daur ulang logam dari barang-barang bekas. Proses daur ulang membutuhkan energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan memproduksi logam dari bahan mentah, sehingga dapat mengurangi emisi GRK dan konsumsi energi mengurangi tekanan pada lingkungan akibat kegiatan tambang serta dapat mengatasi tantangan terkait kelangkaan beberapa jenis logam. Dengan mendorong urban mining dan daur ulang logam, Indonesia dapat menciptakan industri yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus memperkuat kemandirian dalam pasokan bahan baku logam yang strategis.Klaster ini melingkupi tema sebagai berikut:Pengolahan dan Pemurnian Mineral Kritis-Strategis.Karbon dan BatubaraUrban Mining dan Daur Ulang Produk Samping Hasil Pengolahan Tambang/Mineral
Penerapan ekonomi hijau merupakan salah satu cara agar pembangunan Indonesia dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan mengedepankan sisi lingkungan. Salah satu program yang mendukung sekaligus perlu menerapkan ekonomi hijau adalah program hilirisasi sumber daya alam tidak terbarukan. Program ini utamanya adalah pemanfaatan mineral untuk diambil unsur-unsur logam dan non logamnya. Unsur-unsur tersebut harus diolah dengan memperhatikan aspek pengurangan emisi gas, menggunakan energi yang rendah karbon serta pengelolaan lingkungan yang baik. Saat ini pemerintah telah mengklasifikasikan 22 jenis mineral sebagai mineral strategis dan 47 jenis mineral sebagai mineral kritis. Beberapa mineral kritis dan strategis yang penting diantaranya adalah Al, Fe, Au, Ti, Li, Sc, Sr, Co, Sn, Ni, Cu, Mn, Si, Mg, B dan Logam Tanah Jarang (LTJ). Mineral- mineral ini memiliki peran sentral dalam pembangunan infrastruktur hijau di Indonesia. Sebagai contoh baja dan aluminium merupakan bahan utama konstruksi yang memungkinkan pengembangan bangunan ramah lingkungan dan infrastruktur yang tahan lama. Logam lain seperti nikel, tembaga, mangan, seng dan silikon sangat diperlukan dalam pengembangan energi terbarukan dan teknologi modern, termasuk baterai kendaraan listrik dan panel surya. Indonesia memiliki cadangan mineral yang jika dikelola dengan bijak dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan menjadikan negara sebagai pemain utama dalam industri logam.Sektor utama untuk pemenuhan logam, non logam dan batubara adalah sektor tambang. Aktivitas pada sektor ini terdiri dari aktivitas pencarian mineral dan batubara, pengolahan dan pemurnian serta pengelolaan akibat-akibat yang ditimbulkan dari aktivitas tersenutAktivitas pengolahan dan pemurnian mineral dan batubara biasanya membutuhkan energi yang besar serta bahan tambahan berupa bahan kimia, reduktor (material mengandung karbon) dan fluks. Kebutuhan energi dan reduktor dipasok dari material alam berbasis karbon utamanya batubara. Namun demikian, penggunaan batubara dapat meningkatkan pelepasan emisi yang berakibat pada peningkatan efek gas rumah kaca. Untuk itu diperlukan perbaikan proses pengolahan batubara sehingga pemenuhan energi dan reduktor dapat diiringi dengan pelepasan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang minimal. Selain itu batubara juga merupakan komoditas yang dapat digunakan untuk menghasilkan material karbon untuk bahan baku industri hilir seperti untuk alat penyimpan energi.Aktivitas penambangan harus didukung dengan sistem monitoring untuk memastikan kegiatan operasional tambang berjalan sesuai dengan regulasi dan standar lingkungan yang berlaku. Monitoring yang efektif memungkinkan deteksi dini potensi masalah seperti pencemaran, kerusakan lingkungan, atau penurunan keselamatan kerja. Hal ini membantu mencegah dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Dengan adanya monitoring sistem yang baik, sektor pertambangan dapat beroperasi secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.Selain produk utama, aktivitas penambangan yang diikuti dengan pengolahan dan pemurnian akan menghasilkan bahan yang tidak lagi digunakan yang dikenal sebagai Sisa Hasil Pengolahan (SHP). SHP ini harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan ancaman bagi lingkungan. Pemanfaatan SHP merupakan salah satu cara untuk meminimalkan ancaman lingkungan dan mengurangi lahan serta biaya yang dibutuhkan untuk pengelolaannya. SHP dapat dimanfaatkan baik sebagai bahan baku sebuah produk atau diolah untuk mendapatkan logam dan non logam sisa yang terkandung di dalamnya.Salah satu aktivitas yang perlu dikembangkan adalah daur ulang logam dari barang-barang bekas. Proses daur ulang membutuhkan energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan memproduksi logam dari bahan mentah, sehingga dapat mengurangi emisi GRK dan konsumsi energi mengurangi tekanan pada lingkungan akibat kegiatan tambang serta dapat mengatasi tantangan terkait kelangkaan beberapa jenis logam. Dengan mendorong urban mining dan daur ulang logam, Indonesia dapat menciptakan industri yang lebih efisien dan ramah lingkungan, sekaligus memperkuat kemandirian dalam pasokan bahan baku logam yang strategis.Klaster ini melingkupi tema sebagai berikut:Pengolahan dan Pemurnian Mineral Kritis-Strategis.Karbon dan BatubaraUrban Mining dan Daur Ulang Produk Samping Hasil Pengolahan Tambang/Mineral
Perkembangan teknologi global menuntut ketersediaan material maju (advanced materials) yang memiliki kinerja unggul, fungsionalitas tinggi, serta stabilitas yang memadai untuk aplikasi di sektor kesehatan dan energi dan lingkungan. Klaster kegiatan ini mencakup pengembangan, rekayasa, karakterisasi, dan integrasi berbagai material inovatif yang mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta mendukung ketersediaan energi bersih, efisien, dan berkelanjutan.Pada bidang kesehatan, material maju berupa nanoparatikel, paduan logam dll berperan dalam pengembangan sistem diagnostik presisi, perangkat medis cerdas, material biokompatibel untuk implan, biosensor, dan sistem penyampaian obat (drug delivery system). Inovasi pada bidang ini diarahkan untuk meningkatkan efektivitas terapi, mempercepat pemulihan pasien, dan menciptakan perangkat medis generasi baru yang aman dan berkinerja tinggi.Pada bidang energi, material maju menjadi fondasi pengembangan teknologi energi bersih dan efisien, seperti baterai generasi berikutnya, superkapasitor,fue cell, sel surya canggih, katalis energi bersih, hidrogen, dan material penyimpanan energi lainnya. Riset diarahkan untuk meningkatkan efisiensi konversi energi, densitas energi, stabilitas siklus, serta mendukung transisi menuju sistem energi rendah karbon.Sementara pada bidang lingkungan, material maju berperan dalam mitigasi polusi dan pengelolaan sumber daya melalui pengembangan material penyerap polutan, fotokatalis untuk degradasi limbah, membran pemurnian air dan udara, material adsorben CO₂, material biodegradable, serta teknologi ramah lingkungan yang mendukung circular economy. Pendekatan ini bertujuan mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, dan memperkuat keberlanjutan ekosistem.Riset dalam klaster ini diarahkan untuk menciptakan solusi lintas-disiplin yang mendukung transformasi teknologi, memperkuat kemandirian industri nasional, dan menjawab kebutuhan masa depan di bidang kesehatan, energi dan lingkungan. Pendekatan integratif yang melibatkan ilmu material, nanoteknologi, bioteknologi, kimia, fisika, dan rekayasa proses sangat diperlukan untuk menghasilkan terobosan yang berdampak luas, berkelanjutan, dan dapat diadopsi pada skala industri.Klaster ini melingkupi tema sebagai berikut:Paduan logam dan Teknologi Pelapisan PermukaanPerancah dan Drug DeliveryNano Partikel FungsionalMaterial Sensor dan DiagnostikBiocompatible MaterialLaser based materials and devicesMaterial untuk konversi dan penyimpan energi