Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berkaitan dengan pembuatan material kerangka kayu super ringan dengan teknik delignifikasi bertingkat. Bahan baku kayu yang digunakan adalah jenis kayu dengan densitas rendah (0,1 – 0,3 g/cm3), lebih khususnya kayu balsa (Ochroma sp.) dan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen). Material kerangka kayu super ringan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai prekursor aerogel kayu. Perlakuan delignifikasi bertingkat juga dapat membuat warna kayu menjadi lebih terang dengan diameter pori yang lebih kecil untuk masing-masing jenis kayu. Proses pembuatan material kerangka kayu sebagaimana dalam invensi ini terdiri atas, Delignifikasi pertama dengan campuran NaClO2 dan CH3COOH; Pencucian pertama dengan menggunakan air suling; Delignifikasi kedua dengan larutan NaOH; Pencucian kedua dengan menggunakan air suling; Pembekuan (prefreezing); dan Pengering-bekuan (freeze-dry). Produk material kerangka kayu super ringan yang dihasilkan dengan teknik delignifikasi bertingkat memiliki karakteristik kerapatan yang rendah berkisar 0,12-0,35 g/cm3, memiliki warna yang lebih terang dengan ΔELab berkisar 7,72-12,93, serta diameter pori lebih kecil berkisar kurang dari 19 mm2. Invensi material kerangka kayu super ringan dapat dijadikan solusi dalam kompleksitas proses pembuatan prekursor aerogel konvensional.
Invensi ini berkaitan dengan metode pembuatan selulosa karboksimetil (carboxymethyl cellulose, CMC) dari selulosa ampas tebu dengan pra perlakuan hidrolisis suhu 120°C selama 60 menit. Metode dimulai dengan proses pra perlakuan hidrolisis lalu pemasakan serat menggunakan metode Kraft suhu 170℃ menggunakan kadar alkali aktif dan sulfiditas (dinyatakan sebagai Na2O) sebesar 20%, tekanan 9 atm, selama 30 menit dan proses pemutihan menggunakan hydrogen peroksida yang dilanjutkan dengan klorinasi menggunakan klorin oksida untuk mendapatkan selulosa ampas tebu. Proses sintesis CMC diawali dengan alkalisasi menggunakan NaOH 20% dan isopropanol, dilanjutkan dengan proses karboksimetilasi atau eterifikasi menggunakan sodium monokloroasetat, penetralan menggunakan asam asetat glasial dan perendaman dengan etanol selama 24 jam. Produk yang dihasilkan memiliki derajat substitusi (DS) 0,6 Analisis FTIR menunjukkan adanya pita serapan gugus karboksilat pada 1579 cm⁻¹, sedangkan analisis termal menunjukkan ketahanan termal untuk kemudian terdegradasi pada suhu 225°C, dengan ukuran partikel sebesar 2 mikron.Carboxymethyl cellulose hasil invensi ini sangat potensial digunakan pada aplikasi kertas, tekstil dan detergen sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI) 06-3726-1995 dan tergolong CMC mutu II.
Invensi ini bertujuan untuk menyediakan suatu proses pembuatan papan komposit lamina bambu andong dengan perlakuan alkali dan hidrogen peroksida berperekat polivinil asetat yang terdiri dari tahapan-tahapan: menyiapkan bahan baku; memotong pangkal bambu andong, dimana pemotongan dilakukan sepanjang ± 50 cm untuk menghilangkan ruas batang bambu yang tidak beraturan; membuat bilah dari bambu andong tersebut; menyerut bagian atas dan bawah bilah bambu andong tersebut; mengeringkan, memotong, merendam, memutihkan, dan mengeringkan kembali bilah bambu andong tersebut; merekatkan enam bilah bambu andong tersebut ke arah lebar sehingga menghasilkan sebuah papan tipis; merekatkan sejumlah papan tipis, dimana merekatkan tiga lapis papan tipis ukuran 15 cm x 45 cm (panjang kali lebar) dengan perekat PVAc (polivinil asetat) dengan berat labur perekat 175 g/m2 permukaan; mengempa dingin; mengkondisikan pada suhu ruang selama setidaknya 2 pekan, hingga produk siap digunakan.
Invensi ini berkaitan dengan suatu proses pembuatan produk briket aromatik berbahan dasar arang tempurung kelapa, dengan penambahan gaharu pada komposisi arang tempurung kelapa 5,10,15, dan 20 bagian dari berat arang tempurung kelapa. Produk briket arang aromatik gaharu dibuat dalam skala pilot sedemikian hingga memiliki kadar air 3,17-3,98%; kadar abu 5,57-6,76%, kadar zat terbang 19,06-24,7%, dan karbon terikat 68,87-74,40%. Briket harum gaharu tersebut juga memiliki kuat tekan hingga 569 kg/cm2 dan nilai kalor 6518-6790 kkal/kg. Sementara itu, produk briket arang aromatik gaharu skala pabrik berbahan arang tempurung kelapa pada komposisi arang aktif tempurung kelapa 1 bagian dan gaharu 5 bagian dan arang aktif 1 bagian dari berat arang tempurung kelapa memiliki kadar air 5,71%; kadar abu 1,74%; zat terbang 16,28%, karbon terikat 76,27%, total sulfur 0,06%, serta nilai kalor 7.034 kkal/kg dengan self-heating test bernilai negatif.
Invensi ini adalah invensi yang berkaitan suatu metode pembuatan bijih biokomposit berbahan dasar pati termoplastik, tepung batang jagung dan PLA dengan ekstrusi proses kering 1X. Metode pembuatan biokomposit pada invensi ini dilakukan dengan proses mencampurkan pati termoplastik kering sebanyak 25-35% terhadap berat total, tepung batang jagung dengan berat 10-30% terhadap berat total, dan Poli asam laktat 65-35% terhadap berat total menggunakan alat pengaduk selama 5-10 menit. Melakukan proses ekstrusi menggunakan alat ekstruder sekrup ganda dengan 1x proses pada rentang suhu 140-175 oC, torsi ekstrusi 3,8-3,9 Nm sehingga menghasilkan bijih biokomposit. Berdasarkan invensi ini, diperoleh bijih biokomposit berwarna coklat dengan panjang 0,33 cm , diameter 0,36 cm dan mempunyai karakteristik kuat tarik berkisar 15,19 MPa dan dan melt flow indeks 7,86 g/10 menit, dan suhu leleh 165 oC.
Invensi ini berkaitan dengan suatu kertas kraft berbahan dasar pulp rumput gelagah (Saccharum spontaneum), khususnya kertas kraft tidak diputihkan yang dibuat tanpa penambahan bahan aditif. Kertas kraft menurut invensi ini memiliki karakteristik berupa daya serap air sebesar 188,64 gram/cm2 , kekuatan tarik sebesar 9,155 kN/m, daya regang sebesar 9,827 %, dan derajat kecerahan sebesar 21,68 %. Selain itu, kertas kraft menurut invensi ini memiliki bilangan kappa sebesar 16,59, yang berada dalam rentang optimal untuk delignifikasi tanpa menurunkan sifat mekanis kertas. Bilangan kappa yang rendah menunjukkan kandungan lignin yang lebih sedikit dalam pulp, yang berarti proses pemutihan (bleaching) akan membutuhkan bahan kimia yang lebih sedikit, menghasilkan pulp yang lebih bersih, serta lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Kertas kraft menurut invensi ini dapat digunakan sebagai bahan kemasan yang kuat dan tidak mudah rusak.
Invensi ini berkaitan dengan suatu kertas kraft berbahan dasar pulp rumput gelagah (Saccharum spontaneum), khususnya kertas kraft tidak diputihkan yang dibuat tanpa penambahan bahan aditif. Kertas kraft menurut invensi ini memiliki karakteristik berupa daya serap air sebesar 188,64 gram/cm2 , kekuatan tarik sebesar 9,155 kN/m, daya regang sebesar 9,827 %, dan derajat kecerahan sebesar 21,68 %. Selain itu, kertas kraft menurut invensi ini memiliki bilangan kappa sebesar 16,59, yang berada dalam rentang optimal untuk delignifikasi tanpa menurunkan sifat mekanis kertas. Bilangan kappa yang rendah menunjukkan kandungan lignin yang lebih sedikit dalam pulp, yang berarti proses pemutihan (bleaching) akan membutuhkan bahan kimia yang lebih sedikit, menghasilkan pulp yang lebih bersih, serta lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Kertas kraft menurut invensi ini dapat digunakan sebagai bahan kemasan yang kuat dan tidak mudah rusak.
Invensi ini berhubungan dengan suatu proses pembuatan benang pilin dari pemanfaatan limbah kulit rotan sebagai benang pilin. Proses pembuatan benang pilin sebagaimana dalam invensi ini terdiri atas mengumpulkan dan membersihkan kulit rotan, merendam kulit rotan selama 14 - 20 hari, membilas, mengeringkan, melakukan dekortikasi, menghilangkan impuritas serat, melakukan pengelantangan, melakukan pelunakan serat, mengeringkan, memisahkan serat (menggaru), dan memilin serat sehingga menghasilkan produk berupa benang pilin. Produk benang pilin ini memiliki karakteristik diameter serat sebesar 19,5 μm; rasio runkel sebesar 0,77; kadar air sebesar 7,73; felting power sebesar 98,91; fleksibilitas sebesar 0,57; dan kekakuan sebesar 0,22.
Invensi ini berhubungan dengan kit radiofarmaka nanokoloid human serum albumin (HSA) dalam bentuk serbuk kering beku, proses pembuatan kit melalui pengeringan beku, dan penggunaannya. Kit radiofarmaka menurut invensi ini dicirikan dengan komposisi yang mengandung human serum albumin; SnCl2.2H2O; natrium fosfat monobasa; natrium fosfat dibasa; glukosa; dan asam askorbat. Proses pembuatan kit menurut invensi ini dilakukan melalui tahapan melarutkan SnCl2.2H2O dalam HCl pekat dan air steril yang telah dijenuhkan dengan gas nitrogen; melarutkan glukosa (larutan B), asam askorbat (larutan C), dan penyangga fosfat (larutan D) dengan air yang telah dijenuhkan dengan gas nitrogen; mencampurkan larutan A,B,C,D dan HSA sampai homogen dan dialiri gas nitrogen; menambahkan air steril, memanaskan larutan dan menyaring larutan dan dispensing pada vial; mengatur suhu sistem pengering beku dan mengalirkan gas nitrogen ke dalam chamber freeze dryer;memasukkan vial-vial dalam chamber freeze dryer; mengatur tekanan chamber; mengalirkan gas nitrogen dalam chamber; melakukan pembekuan pertama; melakukan pembekuan kedua; melakukan pengeringan pertama; melakukan pengeringan kedua; menutup vial-vial dalam chamber(stoppering); dan memperoleh kit radiofarmaka nanokoloid HSA berbentuk kering beku. Kit radiofarmaka menurut invensi ini digunakan dalam pencitraan limfosintigrafi dengan penandaan menggunakan Teknesium-99m.
Pengukuran laju filtrasi glomerulus (LFG) merupakan metode terbaik dalam deteksi dini penyakit ginjal kronis (PGK). LFG dapat dievalusi melalui skintigrafi ginjal menggunakan radiofarmaka technetium-99m diethylenetriaminepentaacetic acid ([99mTc]Tc-DTPA). Invensi ini berkaitan dengan teknik formulasi dan proses pengeringan beku kit DTPA. Kit DTPA yang dihasilkan berupa padatan berwarna putih yang dikemas dalam vial vakum yang dikondisikan dengan gas nitrogen. Bahan yang terkandung di dalamnya adalah diethylenetriaminepentaacetic acid (DTPA) dan stannous chloride dihydrate (pereduksi). Kit tersebut diformulasikan dalam bentuk larutan melalui teknik aseptis di fasilitas ruang bersih (cleanroom) yang memenuhi standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Teknik formulasinya didesain sedemikian rupa untuk memastikan tidak adanya penurunan kualitas bahan selama formulasi. Larutan hasil formulasi dibeku-keringkan menggunakan alat pengeringan beku (freeze dryer) dengan desain kombinasi pengaturan parameter proses (suhu dan kevakuman) yang menghasilkan kinerja proses yang optimal. Kit ini telah memenuhi hasil uji kemurnian radiokimia yang dipersyaratkan, yaitu lebih dari 98% hingga satu tahun masa simpan. Selain itu, kit telah memenuhi syarat sterilitas dan batas endotoksin. Proses pembuatan kit pun telah divalidasi sehingga keajegan keamanan, efektivitas, dan kualitasnya telah terjamin.
Invensi ini berkaitan dengan senyawa bertanda Samarium-153 ethylendiamine tetramethylene phosphonic acid (EDTMP) dimana produknya digunakan pada tubuh manusia untuk tujuan diagnosis berdasarkan deteksi radiasi atau terapi dari efek fisik radiasi. Komposisi senyawa bertanda 153Sm-EDTMP pada invensi ini setidaknya terdiri dari samarium-153 dalam bentuk samarium (III) klorida (153SmCl3); ethylene diamine tetra methyl phosphonate (EDTMP); asam klorida; natrium hidroksida; dan air. Berdasarkan invensi ini, produk yang dihasilkan memiliki spesifikasi sebagai berikut: steril, bebas pirogen, pH larutan 7,0 – 8,5, kemurnian radiokimia lebih besar dari 95 %, kemurnian radionuklida lebih besar dari 99,8 %, konsentrasi radioaktif 50 mCi/mL lebih kurang 20 %.
Penegakan diagnosis kanker neuroblastoma masih sangat sulit dilakukan. Adanya senyawa bertanda 131I-MIBG yang bersifat target pada sel kanker neuroblastoma yang dapat digunakan sebagai agen terapi dan diagnostik Invensi ini berkaitan dengan proses preparasi, pemurnian dan pengujian senyawa bertanda 131I-MIBG. Proses pembuatan dari 131I-MIBG dilakukan dengan menggunakan penangas minyak pada suhu 160 oC selama 60 menit. Komposisi zat tambahan yang baru yaitu benzyl alcohol dan asam askorbat. Pemurnian 131I-MIBG dilakukan dengan menggunakan kolom resin penukar anion. Proses sterilisasi akhir menggunakan autoclave pada suhu 121 oC selama 30 menit. Selanjutnya metode pengujian yang dilakukan degan metode KLT kertas whatman 14 cm fase gerak n-butanol: asam asetat glasial: air (5:2:1). Kromatogram yang dihasilkan menunjukkan bahwa terjadi pemisahan antara Iodium-131 dalam bentuk ion (impurity) Rf 0,0 – 0,2 dan senyawa kompleks 131I-MIBG pada Rf 0,8-0,9.