Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berhubungan dengan bumbu pasta serbuk sumber protein dan proses pembuatannya yang dicirikan dengan proses pembusaan (foaming). Bumbu pasta serbuk pada invensi ini berbahan baku bumbu pasta basah dan serbuk daging sapi sedemikian hingga menghasilkan bumbu pasta serbuk yang memiliki kadar protein sebesar 16,72%. Komposisi bumbu pasta serbuk sumber protein terdiri dari konsentrat tomat sebanyak 31,42%, bawang bombai bubuk sebanyak 1,26%, bawang putih bubuk sebanyak 1,26%, garam sebanyak 1,89%, merica bubuk sebanyak 0,47%, oregano bubuk sebanyak 0,31%, xanthan gum 2% sebanyak 31,42%, magnesium karbonat sebanyak 0,25%, asam cuka sebanyak 0,31%, air sebanyak 31,42%; larutan CMC 3% sebanyak 0,30%, putih telur sebanyak 8,23%; serbuk daging sapi sebanyak 6,25%, dan gula pasir halus sebanyak 31,25%. Proses pembuatan bumbu pasta serbuk meliputi pembuatan bumbu pasta basah, pembuatan campuran bumbu pasta busa, pengeringan campuran bumbu pasta busa bahan B, pengkondisian bumbu pasta kering pada freezer selama 24 jam, penggilingan bumbu
Invensi ini berhubungan dengan proses pelarutan asam nonanoat dalam pelarut berbasis air. Lebih khusus, invensi ini berkaitan proses pelarutan asam nonanoat sebagai herbisida alami dalam pelarut berbasis air tanpa menggunakan surfaktan tambahan. Tahapan proses pelarutan terdiri dari pembuatan larutan NaCl pH dalam NaOH; pemanasan larutan pada suhu 50-60oC; penambahan asam nonanoat 0,5-3%; sonikasi larutan selama 30-60 menit; pengadukan larutan; pendinginan; dan dilanjutkan dengan penetralan larutan. Invensi ini memiliki keunggulan karena proses pelarutan asam nonanoat tidak memerlukan bahan kimia yang kompleks dan larutan ini dapat diaplikasikan langsung sebagai herbisida alami.
Invensi ini berhubungan dengan formula agen pembusa dan metode pengeringan busa pada fikosianin dari Spirulina sp. Proses pengeringan busa fikosianin menurut invensi ini meliputi proses ekstraksi fikosianin dari Spirulina sp. dan proses pengeringan busa pada fikosianin cair. Karakteristik serbuk fikosianin kering antara lain rendemen fikosianin 26,62- 38,96%, aktivitas air: 0,52-0,60; kadar air: 5,71-7,57%; water soluble index (WSI): 80,82-87,70%.
Invensi ini secara umum berhubungan dengan formulasi pupuk organik hayati cair khusus untuk tanaman kakao (Theobroma cacao). Lebih khusus lagi, invensi ini mengenai pupuk organik hayati cair berbasis potensi bakteri endofit sebagai biostimulan plus yang memiliki lebih dari satu potensi sebagai agen hayati berasal dari tanaman kakao (Theobroma cacao). Perwujudan pertama invensi ini adalah formulasi pupuk organik hayati cair berbasis mikroba endofitik potensi biostimulan plus berasal dari tanaman kakao. Invensi selanjutnya satu bakteri endofitik memiliki lebih dari satu potensi yaitu potensi bakteri penambat N, pelarut fosfat, penghasil hormon tumbuh IAA, penghasil enzim katalase dan protease. Perwujudan selanjutnya dari invensi ini adalah proses pembuatan pupuk organik hayati cair yang terdiri dari pembuatan ekstrak dedak, terasi udang, penambahan agar swalow, penambahan gula pasir, penambahan ekstrak daun kakao dan penambahan bakteri endofitik asal tanaman kakao.
Pupuk organik hayati cair berbasis konsorsium bakteri potensi sebagai agen biostimulan untuk tanaman bawang merah. Formulasi pupuk organik hayati cair berbasis konsorsium bakteri berasal dari tanaman bawang merah, kunyit, kakao dan mangium. Konsorsium bakteri selanjutnya terdiri dari bakteri endofitik dan bakteri rhizosfer memiliki potensi penghasil hormon tumbuh IAA dan potensi lainnya yaitu potensi bakteri penambat N, pelarut fosfat, penghasil enzim katalase dan protease dan lainnya. Perwujudan invensi ini adalah proses pembuatan formulasi pupuk organik hayati cair yang terdiri dari beberapa bahan lokal salah satunya limbah tahu yang mengandung nutrisi untuk digunakan dalam produksi biomassa konsorsium bakteri agen biostimulan alami. Bawang merah dan bawang putih merupakan salah satu tanaman prioritas nasional yang berpotensi dikembangkan di setiap daerah. Salah satu rendahnya produktivitas tanaman diduga disebabkan oleh penggunaan bahan kimia seperti pupuk, pestisida, insektisida dan herbisida secara berlebihan. Penggunaan bahan kimia dalam jangka waktu yang lama dan dosis yang tinggi akan merusak kualitas tanah dimana terjadi penurunan sifat biologi dan kimia tanah. Usaha peningkatan kualitas tanah dapat dilakukan dengan memanfaatkan pupuk organik hayati yang mengandung bakteri endofit dan bakteri rhizosfer potensi sebagai agen biostimulan penyubur tanaman, biokontrol hama dan penyakit serta perombak residu kimia. Penggunaan pupuk organik hayati dalam budidaya tanaman adalah upaya yang tepat untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman bawang merah sekaligus mempertahankan dan memperbaiki kualitas tanah. Pupuk organik hayati juga dapat menginduksi ketahanan tanaman bawang merah terhadap cekaman biotik dan abiotik. Untuk itu isolat bakteri endofit dan rhizosfer sebagai agen biostimulan untuk tanaman bawang merah penting karena kebutuhan dan kondisi yang diperlukan oleh setiap tanaman dan tiap lokasi tanam berbeda-beda. Oleh karena itu teknologi pengembangan bakteri endofit dan bakteri rhizosfer sebagai agen biostimulan alami yang spesifik untuk tanaman bawang merah yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia, mengurangi homon tumbuh kimia yang biasa ditambahkan sehingga kualitas tanah dan produktivitas tanaman bawang merah dapat ditingkatkan. Diharapkan terobosan teknologi dengan memanfaatkan potensi pupuk organik hayati agen biostimulan alami ini dapat menggantikan biostimulan kimia yang biasa ditambahkan dalam pupuk kimia. Pupuk organik hayati berbasis konsorsium bakteri agen biostimulan menjadi solusi dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia yang sering kali dilakukan over dosis sehingga mengakibatkan penurunan hasil produktivitas pertanian. Secara ekonomi harga pupuk kimia cenderung tinggi dan berdampak negatif terhadap lingkungan karena merusakan lingkungan sedagkan pupuk organik hayati berbasis bakteri agen biostimulan memiliki keunggulan ramah lingkungan dan berkelanjutan karena adanya interaksi bakteri potensi agen biostimulan dengan tanaman bawang merah. Produk pupuk hayati organik berbasis bakteri konsorsium potensi agen biostimulan ini dapat diwujudkan dalam bentuk paket-paket teknologi yang siap diaplikasikan pada masyarakat, berupa paket teknologi pengembangan sistem pertanian ramah lingkungan atau Good Agriculture Practice (GAP).
Invensi ini berkaitan dengan proses pembuatan mikrokapsul probiotik L. plantarum SU-LS36 dengan pati talas termodifikasi sebagai bahan enkapsulan, sedemikian hingga produk serbuk mikrokapasul probiotik L. plantarum SU-LS36 yang dihasilkan memiliki karakteristik berbentuk bulat, yield produksi sebesar 40,19%, efisiensi enkapsulasi sebesar 89,83%, tahan panas hingga suhu 70oC, tahan asam lambung pada pH 2, tahan hidrolisis enzim pencernaan, fast release pada cairan kolon dan umur simpan 6 minggu pada penyimpanan suhu ruang 27oC. Adapun tahapan pembuatannya yaitu: mengekstrak pati talas; memodifikasi pati talas dengan teknik autoclaving-cooling dua siklus; memproduksi sel probiotik L. plantarum SU-LS36; mencampur pati talas dengan sel probiotik L. plantarum SU-LS36 dengan rasio 1:1; menambahkan akuades steril, sedemikian hingga diperoleh bobot padatan terlarut sebesar 10% (b/v) terhadap campuran; dan melakukan pengeringan semprot.
Invensi ini berhubungan dengan suatu proses pembuatan pati farmasi, lebih khususnya lagi pati farmasi eksipien binder tablet obat berbahan dasar pati singkong yang diberikan perlakuan fisik dan produk yang dihasilkannya. Invensi ini bertujuan untuk melakukan modifikasi fisik pati singkong dengan proses ekstrusi menghasilkan pati farmasi yang memiliki karakteristik fungsional terutama derajat gelatinisasi yang sesuai untuk eksipien binder obat farmasi. Selain itu pembuatan pati farmasi berbahan pati singkong ini juga bertujuan untuk menyediakan pati farmasi dari bahan baku pati singkong dalam negeri. Modifikasi secara fisik yang dilakukan dengan metode ekstrusi menggunakan alat twin screw extruder memiliki keunggulan derajat gelatinisasi, sifat aliran, kompresibilitas, dan viskositas menjadi sangat baik.
Invensi ini bertujuan untuk mendeskripsikan DNA aptamer poliklonal sebagai reagen biosensor untuk deteksi secara bersamaan bakteri patogen mastitis S. aureus, S. agalactiae, dan E. coli dalam mendiagnosis mastitis subklinis. DNA aptamer poliklonal dari invensi ini yaitu ada tiga jenis dengan nama DNA aptamer poliklonal 1, DNA aptamer poliklonal 2, dan DNA aptamer poliklonal 3 dengan karakteristik yang berbeda. Ketiga DNA aptamer poliklonal mampu berikatan dengan ketiga bakteri target S. aureus, S. agalactiae, dan E. coli. DNA aptamer poliklonal 3 menunjukan nilai Cq qPCR kecil dan kapasitas pengikatan yang tinggi terhadap ketiga bakteri target sehingga bemanfaat sebagai reagen untuk deteksi dan diagnosis mastitis subklinis.
Tepung sebagai bahan dasar untuk industri, rumah tangga, penelitian dan lain-lain sangat dibutuhkan pada saat ini. Untuk itu diperlukan mesin penepung yang tepat untuk memproduksi tepung. Mesin penepung siklon menjadi salah satu mesin penepung modern. Mesin penepung siklon pada invensi ini terdiri dari, motor listrik, Hammer mill, Disk mill, Kipas pendorong, Saluran, Siklon dan Tempat penampungan. Hammer mill dan Disk mill dipakai bersama untuk mengurangi kinerja dari disk mill agar tidak cepat aus pada pisau penghancurnya. Selain itu adanya kipas pendorong berguna untuk mengurangi penumpukan tepung pada separator. Dengan mesin penepung siklon ini hasil dari proses penepungan bisa menghasilkan tepung yang sangat halus dan lembut sehingga memiliki kualitas tinggi.
Invensi ini berhubungan dengan suatu formula perekat non formalin berbasis campuran tanin dari kulit mangrove, tapioka, dan lateks untuk aplikasi kayu lapis ramah lingkungan. Metode pembuatan formula perekat dalam invensi ini terdiri dari tahapan menyiapkan bahan dasar ekstrak tanin dari kulit mangrove yang dicampur dengan tapioka dan lateks, dengan katalis NaOH 40%, serta bahan aditif. Pencampuran bahan-bahan tersebut dilakukan pada suhu 70 oC selama 1 jam, diaduk hingga homogen dengan pH akhir pencampuran antara 10 - 11. Kondisioning perekat dilakukan selama sedikitnya 3 jam sebelum perekat TKL digunakan. Untuk proses pembuatan produk kayu lapis pada suhu rendah perekat yang digunakan sebanyak 170-200 g/cm2 pada permukaan finir.
Suatu metode dan alat ukur volume bioflok pada cairan kolam ikan sampai nilai 40 ml/L dengan memanfaatkan cahaya tampak terutama laser merah dengan panjang gelombang sekitar 650 nm yang termodulasi. Teknik modulasi sinyal digunakan untuk mengatasi gangguan luar seperti sinar matahari dan lampu. Metode ini memanfaatkan sifat hamburan cahaya pada fluida berpartikel yaitu jika semakin banyak volume bioflok pada cairan sampel maka semakin banyak cahaya yang dihamburkan sehingga akan semakin sedikit sinyal cahaya tampak termodulasi yang akan ditangkap oleh penerima. Wadah padat yang tembus pandang dapat menampung cairan sampel dari kolam ikan. Invensi ini terdiri dari Pemancar sinar cahaya tampak termodulasi; Wadah penyimpan cairan sampel dari kolam ikan; Penerima cahaya tampak termodulasi; Perangkat lunak; Unit penampil data. Metode ini menggunakan perangkat lunak untuk menggerakkan sinyal cahaya tampak pada frekuensi tertentu dari pemancar kemudian menangkap dan menyaring sinyal pada penerima. Perangkat lunak ini juga dapat menyetel agar hasil pengukuran volume bioflok antara alat dan kalibrator dibuat mirip.
Invensi ini berkaitan dengan suatu formula dan proses pembuatan teh celup ganoderma terfermentasi sebagai minuman kesehatan. Formula teh celup ganoderma terfermentasi terdiri dari serbuk ganoderma terfermentasi 50%, jahe 10-40%, dan rosela 10-40%. Proses pembuatan teh celup ganoderma terfermentasi meliputi tahapan berikut: penyiapan bahan serbuk, fermentasi ganoderma, formulasi, pencampuran bahan, dan pengemasan bahan. Penyiapan bahan dengan cara penyortiran, pencucian, pengeringan, dan penghalusan bahan. Fermentasi ganoderma dilakukan dengan menggunakan inokulum Lactobacillus plantarum dan inkubasi pada suhu 37°C selama 4 hari. Pencampuran bahan sesuai dengan varian formula teh celup ganoderma terfermentasi. Pengemasan bahan menggunakan kantong teh celup sehingga diperoleh sediaan teh celup ganoderma terfermentasi.