BRIN Logo
Sign In

Katalog Riset & Inovasi

Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN

Filter Pencarian
Rekayasa Keteknikan
SoilPren-N Aplikasi Deteksi Nitrogen Untuk Unsur Hara Tanah

SoilPren-N Aplikasi Deteksi Nitrogen Untuk Unsur Hara Tanah

Aplikasi SoilPren-N adalah alat berbasis web yang dirancang untuk membantu petani, ahli agronomi, dan peneliti tanah dalam menganalisis kandungan nutrien tanah menggunakan data spektrum NIR (Near Infrared Reflectance). Aplikasi ini menggunakan teknik machine learning untuk memprediksi kadar nutrien penting dalam sampel tanah, sehingga memungkinkan pengguna untuk mengambil keputusan yang lebih baik terkait pemupukan dan pengelolaan lahan.

Rekayasa Keteknikan
Selulosa Karboksimetil Tandan Kosong Kelapa Sawit

Selulosa Karboksimetil Tandan Kosong Kelapa Sawit

Invensi ini bertujuan untuk memperoleh produk selulosa karboksimetil dari tandan kosong kelapa sawit, dimana proses sintesis yang dilakukan dengan tahapan proses pulping menggunakan metode kraft, pencucian pulp dengan larutan HCl, alkalisasi dengan isopropanol dan larutan NaOH 10-20%, karboksimetilasi dengan natrium monokloroasetat sebanyak 8 gram, dan pencucian akhir dengan perendaman etanol.

Rekayasa Keteknikan
MTA dari Abu daun bambu dan cangkang kerang

MTA dari Abu daun bambu dan cangkang kerang

Invensi ini bertujuan untuk memperoleh komposisi dan metode pembuatan MTA dari nanosilika dan kalsium oksida cangkang kerang dengan variasi agen radiopasitas. Proses pembuatan material ini menggunakan metode sol-gel dan dilanjutkan menggunakan reaksi padat (solid state). Komposisi material terdiri dari: air deionisasi 200 mL, katalis NH3 25% sebanyak 200 µL, nano silika 20% 30nm sebanyak 10 gram, CaCO3 dari cangkang kerang sebanyak 10,71 gram, Al(NO3)3 0,74 gram, dan Bi2O3 atau ZnO atau SrO sebanyak 1,8 gram. Adapun metode pembuatan MTA meliputi: (a) mengaduk 30 menit air deionisasi dengan katalis (b) menambahkan nanosilika (c) menambahkan kalsium karbonat (CaCO3) dari cangkang kerang sebagai sumber CaO (d) mengaduk campuran selama 30 menit (e) menambahkan Al(NO3)3 sebagai sumber Al2O3 2% (f) melakukan pengadukan 30 menit (g) menambahkan agen radiopasitas bismut oksida atau seng oksida atau stronsium oksida (h) mengaduk dan memanaskan campuran dengan suhu 80 °C sampai terbentuk gel kering (i) mengoven gel kering selama 4 jam dengan suhu 120 °C (j) melakukan kalsinasi 1000 °C selama 3 jam (k) menghaluskan dan mengayak material 200 mesh (l) memperoleh material MTA dengan variasi agen radiopasitas.

Pangan
Garam Cottonii

Garam Cottonii

Invensi ini berkaitan dengan metode pembuatan garam rumput laut (Kappaphycus alvarezii) melalui ekstraksi thallus rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dengan usia tanam 30-45 hari tanpa tambahan air dan tanpa proses dipanaskan sehingga menghasilkan garam dengan kandungan rendah natrium dan thallus yang dapat diolah kembali menjadi produk lain.

Rekayasa Keteknikan
Wood Sponge

Wood Sponge

Invensi ini berkaitan dengan pembuatan material kerangka kayu super ringan dengan teknik delignifikasi bertingkat. Bahan baku kayu yang digunakan adalah jenis kayu dengan densitas rendah (0,1 – 0,3 g/cm3), lebih khususnya kayu balsa (Ochroma sp.) dan sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen). Material kerangka kayu super ringan yang dihasilkan dapat digunakan sebagai prekursor aerogel kayu. Perlakuan delignifikasi bertingkat juga dapat membuat warna kayu menjadi lebih terang dengan diameter pori yang lebih kecil untuk masing-masing jenis kayu. Proses pembuatan material kerangka kayu sebagaimana dalam invensi ini terdiri atas, Delignifikasi pertama dengan campuran NaClO2 dan CH3COOH; Pencucian pertama dengan menggunakan air suling; Delignifikasi kedua dengan larutan NaOH; Pencucian kedua dengan menggunakan air suling; Pembekuan (prefreezing); dan Pengering-bekuan (freeze-dry). Produk material kerangka kayu super ringan yang dihasilkan dengan teknik delignifikasi bertingkat memiliki karakteristik kerapatan yang rendah berkisar 0,12-0,35 g/cm3, memiliki warna yang lebih terang dengan ΔELab berkisar 7,72-12,93, serta diameter pori lebih kecil berkisar kurang dari 19 mm2. Invensi material kerangka kayu super ringan dapat dijadikan solusi dalam kompleksitas proses pembuatan prekursor aerogel konvensional.

Rekayasa Keteknikan
Selulosa Karboksimetil Ampas Tebu

Selulosa Karboksimetil Ampas Tebu

Invensi ini berkaitan dengan metode pembuatan selulosa karboksimetil (carboxymethyl cellulose, CMC) dari selulosa ampas tebu dengan pra perlakuan hidrolisis suhu 120°C selama 60 menit. Metode dimulai dengan proses pra perlakuan hidrolisis lalu pemasakan serat menggunakan metode Kraft suhu 170℃ menggunakan kadar alkali aktif dan sulfiditas (dinyatakan sebagai Na2O) sebesar 20%, tekanan 9 atm, selama 30 menit dan proses pemutihan menggunakan hydrogen peroksida yang dilanjutkan dengan klorinasi menggunakan klorin oksida untuk mendapatkan selulosa ampas tebu. Proses sintesis CMC diawali dengan alkalisasi menggunakan NaOH 20% dan isopropanol, dilanjutkan dengan proses karboksimetilasi atau eterifikasi menggunakan sodium monokloroasetat, penetralan menggunakan asam asetat glasial dan perendaman dengan etanol selama 24 jam. Produk yang dihasilkan memiliki derajat substitusi (DS) 0,6 Analisis FTIR menunjukkan adanya pita serapan gugus karboksilat pada 1579 cm⁻¹, sedangkan analisis termal menunjukkan ketahanan termal untuk kemudian terdegradasi pada suhu 225°C, dengan ukuran partikel sebesar 2 mikron.Carboxymethyl cellulose hasil invensi ini sangat potensial digunakan pada aplikasi kertas, tekstil dan detergen sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI) 06-3726-1995 dan tergolong CMC mutu II.

Rekayasa Keteknikan
Lantai Papan Bambu Laminasi

Lantai Papan Bambu Laminasi

Invensi ini bertujuan untuk menyediakan suatu proses pembuatan papan komposit lamina bambu andong dengan perlakuan alkali dan hidrogen peroksida berperekat polivinil asetat yang terdiri dari tahapan-tahapan: menyiapkan bahan baku; memotong pangkal bambu andong, dimana pemotongan dilakukan sepanjang ± 50 cm untuk menghilangkan ruas batang bambu yang tidak beraturan; membuat bilah dari bambu andong tersebut; menyerut bagian atas dan bawah bilah bambu andong tersebut; mengeringkan, memotong, merendam, memutihkan, dan mengeringkan kembali bilah bambu andong tersebut; merekatkan enam bilah bambu andong tersebut ke arah lebar sehingga menghasilkan sebuah papan tipis; merekatkan sejumlah papan tipis, dimana merekatkan tiga lapis papan tipis ukuran 15 cm x 45 cm (panjang kali lebar) dengan perekat PVAc (polivinil asetat) dengan berat labur perekat 175 g/m2 permukaan; mengempa dingin; mengkondisikan pada suhu ruang selama setidaknya 2 pekan, hingga produk siap digunakan.

Energi
Briket Aromatik

Briket Aromatik

Invensi ini berkaitan dengan suatu proses pembuatan produk briket aromatik berbahan dasar arang tempurung kelapa, dengan penambahan gaharu pada komposisi arang tempurung kelapa 5,10,15, dan 20 bagian dari berat arang tempurung kelapa. Produk briket arang aromatik gaharu dibuat dalam skala pilot sedemikian hingga memiliki kadar air 3,17-3,98%; kadar abu 5,57-6,76%, kadar zat terbang 19,06-24,7%, dan karbon terikat 68,87-74,40%. Briket harum gaharu tersebut juga memiliki kuat tekan hingga 569 kg/cm2 dan nilai kalor 6518-6790 kkal/kg. Sementara itu, produk briket arang aromatik gaharu skala pabrik berbahan arang tempurung kelapa pada komposisi arang aktif tempurung kelapa 1 bagian dan gaharu 5 bagian dan arang aktif 1 bagian dari berat arang tempurung kelapa memiliki kadar air 5,71%; kadar abu 1,74%; zat terbang 16,28%, karbon terikat 76,27%, total sulfur 0,06%, serta nilai kalor 7.034 kkal/kg dengan self-heating test bernilai negatif.

Rekayasa Keteknikan
BIOKOMPOSIT BERBASIS PATI TERMOPLASTIK, BATANG JAGUNG DENGAN POLI ASAM LAKTAT UNTUK APLIKASI PRODUK CETAK

BIOKOMPOSIT BERBASIS PATI TERMOPLASTIK, BATANG JAGUNG DENGAN POLI ASAM LAKTAT UNTUK APLIKASI PRODUK CETAK

Invensi ini adalah invensi yang berkaitan suatu metode pembuatan bijih biokomposit berbahan dasar pati termoplastik, tepung batang jagung dan PLA dengan ekstrusi proses kering 1X. Metode pembuatan biokomposit pada invensi ini dilakukan dengan proses mencampurkan pati termoplastik kering sebanyak 25-35% terhadap berat total, tepung batang jagung dengan berat 10-30% terhadap berat total, dan Poli asam laktat 65-35% terhadap berat total menggunakan alat pengaduk selama 5-10 menit. Melakukan proses ekstrusi menggunakan alat ekstruder sekrup ganda dengan 1x proses pada rentang suhu 140-175 oC, torsi ekstrusi 3,8-3,9 Nm sehingga menghasilkan bijih biokomposit. Berdasarkan invensi ini, diperoleh bijih biokomposit berwarna coklat dengan panjang 0,33 cm , diameter 0,36 cm dan mempunyai karakteristik kuat tarik berkisar 15,19 MPa dan dan melt flow indeks 7,86 g/10 menit, dan suhu leleh 165 oC.

Rekayasa Keteknikan
Kertas Kraft Tidak Diputihkan Pulp Rumput Gelagah (Saccharum spontaneum)

Kertas Kraft Tidak Diputihkan Pulp Rumput Gelagah (Saccharum spontaneum)

Invensi ini berkaitan dengan suatu kertas kraft berbahan dasar pulp rumput gelagah (Saccharum spontaneum), khususnya kertas kraft tidak diputihkan yang dibuat tanpa penambahan bahan aditif. Kertas kraft menurut invensi ini memiliki karakteristik berupa daya serap air sebesar 188,64 gram/cm2 , kekuatan tarik sebesar 9,155 kN/m, daya regang sebesar 9,827 %, dan derajat kecerahan sebesar 21,68 %. Selain itu, kertas kraft menurut invensi ini memiliki bilangan kappa sebesar 16,59, yang berada dalam rentang optimal untuk delignifikasi tanpa menurunkan sifat mekanis kertas. Bilangan kappa yang rendah menunjukkan kandungan lignin yang lebih sedikit dalam pulp, yang berarti proses pemutihan (bleaching) akan membutuhkan bahan kimia yang lebih sedikit, menghasilkan pulp yang lebih bersih, serta lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Kertas kraft menurut invensi ini dapat digunakan sebagai bahan kemasan yang kuat dan tidak mudah rusak.

Rekayasa Keteknikan
Kertas Kraft Tidak Diputihkan Pulp Rumput Gelagah (Saccharum spontaneum)

Kertas Kraft Tidak Diputihkan Pulp Rumput Gelagah (Saccharum spontaneum)

Invensi ini berkaitan dengan suatu kertas kraft berbahan dasar pulp rumput gelagah (Saccharum spontaneum), khususnya kertas kraft tidak diputihkan yang dibuat tanpa penambahan bahan aditif. Kertas kraft menurut invensi ini memiliki karakteristik berupa daya serap air sebesar 188,64 gram/cm2 , kekuatan tarik sebesar 9,155 kN/m, daya regang sebesar 9,827 %, dan derajat kecerahan sebesar 21,68 %. Selain itu, kertas kraft menurut invensi ini memiliki bilangan kappa sebesar 16,59, yang berada dalam rentang optimal untuk delignifikasi tanpa menurunkan sifat mekanis kertas. Bilangan kappa yang rendah menunjukkan kandungan lignin yang lebih sedikit dalam pulp, yang berarti proses pemutihan (bleaching) akan membutuhkan bahan kimia yang lebih sedikit, menghasilkan pulp yang lebih bersih, serta lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Kertas kraft menurut invensi ini dapat digunakan sebagai bahan kemasan yang kuat dan tidak mudah rusak.

Rekayasa Keteknikan
Fibrinova

Fibrinova

Invensi ini berhubungan dengan suatu proses pembuatan benang pilin dari pemanfaatan limbah kulit rotan sebagai benang pilin. Proses pembuatan benang pilin sebagaimana dalam invensi ini terdiri atas mengumpulkan dan membersihkan kulit rotan, merendam kulit rotan selama 14 - 20 hari, membilas, mengeringkan, melakukan dekortikasi, menghilangkan impuritas serat, melakukan pengelantangan, melakukan pelunakan serat, mengeringkan, memisahkan serat (menggaru), dan memilin serat sehingga menghasilkan produk berupa benang pilin. Produk benang pilin ini memiliki karakteristik diameter serat sebesar 19,5 μm; rasio runkel sebesar 0,77; kadar air sebesar 7,73; felting power sebesar 98,91; fleksibilitas sebesar 0,57; dan kekakuan sebesar 0,22.