BRIN Logo
Sign In

Katalog Riset & Inovasi

Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN

Filter Pencarian
Pangan
Deteksi Kematangan Pisangan dengan R-CNN Algoritma

Deteksi Kematangan Pisangan dengan R-CNN Algoritma

Invensi ini mengenai metode pendeteksian kematangan pisang tanduk menggunakan algoritma Faster Region-based Convolutional Neural Networks (R-CNN) yang disesuaikan, lebih khususnya invensi ini berhubungan dengan metode untuk mendeteksi kematangan pisang tanduk yang diklasifikasikan menjadi 7 kategori warna (dominan hijau, hijau kekuningan, hijau sempurna, hijau tua kekuningan, dominan kuning, kuning sempurna, dan kuning berbintik coklat) dengan bantuan kamera digital berbasis visi komputer. Metode yang digunakan pada invensi ini terdiri dari tahap pra-pemrosesan data untuk meningkatkan kualitas dari citra dan menghilangkan fitur-fitur yang tidak diperlukan, melakukan segmentasi citra untuk memisahkan citra pisang tanduk dengan latar belakang citra, melakukan ekstraksi fitur, pengembangan model kematangan pisang tanduk hingga memproses pendeteksian pisang tanduk.

Pangan
Soil Enhancer untuk Bawang Merah

Soil Enhancer untuk Bawang Merah

Invensi ini berkaitan pembenah tanah yang diaplikasikan pada tanaman bawang merah (Allium cepa L.) untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan umbi tanaman bawang merah. Formulasi pembenah tanah pada invensi ini terdiri dari bahan organik dan bioaktivator FLOP. Bahan organik tersusun atas limbah serasah, limbah media tumbuh jamur (baglog), biochar (batok kelapa), ampas tahu dan kasgot. Sedangkan bioaktivator FLOP tersusun atas Coriolopsis hainanensis, Polyporus thailandensis, dan Cerrena aurantiopora. Pembenah tanah pada invensi ini diawali dengan membersihkan bahan organik dari pengotor kemudian menyusun beberapa lapisan bahan organik. Setelah itu, menyiram air pada lapisan sedemikian hingga kelembabannya mencapai 60% pada setiap lapisan yang dilanjutkan dengan menaburkan bioaktivator FLOP pada tumpukan. Setelah itu, tumpukan fermentasi ditutup menggunakan material kedap air dan mengaduk secara merata tumpukan fermentasi pada hari ke 12 dan 24, dimana apabila tumpukan mengering maka dapat dilakukan penyiraman. Bioaktivator FLOP ditambahkan pada saat pengadukan hari ke 24 dan ditaburkan ke seluruh bahan baku organik secara merata. Bahan pembenah tanah yang sudah matang dipanen pada hari ke 45-50, kemudian dikeringkan dan disaring pada saringan berukuran 10-20 mesh serta dilakukan pengemasan.

Pangan
Tepung Kelor Rendah Saponin & Tanin – Proses dan Produk Unggul

Tepung Kelor Rendah Saponin & Tanin – Proses dan Produk Unggul

Invensi ini berkaitan dengan proses pembuatan tepung daun kelor. Lebih khusus, invensi ini berhubungan dengan produk tepung berbahan dasar daun kelor (Moringa oleifera) yang telah dihilangkan bau langunya dengan cara maserasi menggunakan asam sitrat. Keunggulan dari invensi ini adalah dapat menurunkan kandungan saponin penyebab bau langu sampai 75-78% dan kandungan tanin sebagai zat antinutrisi sebesar 16–18%. Maserasi dilakukan dalam larutan asam sitrat. Kemudian dilakukan penyaringan atau dapat juga disentrifugasi untuk dipisahkan antara endapan dan cairannya. Endapan yang diperoleh kemudian dikeringkan. Endapan kering yang diperoleh kemudian dihaluskan menjadi tepung. Karakteristik produk tepung daun kelor yang dihasilkan tidak bau langu dan memiliki kandungan mineral berupa kalsium sebesar 12735,85 - 16503,39 mg/kg; besi sebesar 58,35 - 79,67 mg/kg; kadar air sebesar 5,925 - 6,465%; tidak berbau langu karena memiliki kandungan saponin yang rendah; dan warna hijau muda kecoklatan dengan tingkat kecerahan (L*) sebesar 54,75 - 56,55.

Pangan
Metode Gingerol Plus untuk Jahe Merah Unggul

Metode Gingerol Plus untuk Jahe Merah Unggul

Invensi ini berkaitan dengan metode peningkatan kandungan gingerol pada tanaman jahe merah, khususnya varietas Jahira 2, dengan induksi mutasi menggunakan mutagen sodium azida. Tahapan-tahapan menurut invensi ini terdiri dari perendaman jahe merah dalam larutan sodium azida, pengeringan rimpang jahe merah, penanaman rimpang jahe merah pada cocopit, penanaman jahe merah pada media tanam, pemeliharaan rimpang jahe merah, dan pemanenan. Metode peningkatan kandungan gingerol tanaman jahe merah menurut invensi ini menghasilkan tanaman jahe merah dengan kandungan gingerol hingga 6,17 mg/g.

Pangan
Formulasi Biokontrol Trichoderma untuk Penyakit Busuk Batang Vanili

Formulasi Biokontrol Trichoderma untuk Penyakit Busuk Batang Vanili

Invensi ini berkaitan dengan suatu agen biokontrol penyakit tanaman vanili memanfaatkan jamur Trichoderma asperellum sedemikian hingga dapat mengatasi penyakit busuk batang pada tanaman vanili. Formulasi agen biokontrol pada invensi ini terdiri dari bulir jagung, dedak, air dan biang induk yang berupa Trichoderma asperellum. Pembuatan agen biokontrol dilakukan melalui tiga tahap antara lain: tahap persiapan pembuatan isolat Trichoderma asperellum; tahap sterilisasi media tumbuh; dan tahap inokulasi Trichoderma asperellum.

Pangan
Revolusi Mi Sehat Tanpa Terigu yang Lezat, Rendah Lemak, dan Kaya Nutrisi

Revolusi Mi Sehat Tanpa Terigu yang Lezat, Rendah Lemak, dan Kaya Nutrisi

Pembuatan formula mi non terigu dengan penambahan Glukomanan menggunakan bahan-bahan berupa tepung beras, tapioka, Glukomanan, tepung telur kuning, tepung telur putih, guargum, dan air. Tahapan proses pembuatan mi meliputi pencampuran bahan dengan mixer selama 5-10 menit pada kecepatan tingkat 3-4 (skala pada alat), pengukusan adonan kering selama 15-20 menit, pencampuran adonan semi basah (kadar air sekitar 15-20%) dan pencetakan dengan alat ekstuder sampai terbentuk untaian mi. Selanjutnya untaian mi dilakukan pengukusan selama 15-20 menit, kemudian pengeringan untaian mi ke alat penggoreng tanpa minyak (air fryer) dengan suhu 130-135oC selama 5-7 menit, dan mi dibalik serta dilakukan pengeringan kembali ke alat penggoreng tanpa minyak (air fryer) dengan suhu 130-135oC selama 5-7 menit. Hasil mi instan ini dengan waktu masak 4-4,2 menit pada air mendidih, padatan terlarut yang hilang (cooking loss) adalah 5-6%, penyerapan air (cooking weigth) mencapai 190-200%, serta Whiteness Index sebesar 50,20-50,39. Secara proksimat mi ini mempunyai kadar air 9,00-9,10%, kadar abu 1-1,05%, kadar lemak 0,71-0,76%, kadar protein 16,09-16,16%, kadar karbohidrat 72,93-73,20% energi 363,20-363,55 kkal.

Pangan
Inovasi Penyedap Rasa Nabati Premium dengan Keajaiban Fermentasi Alami

Inovasi Penyedap Rasa Nabati Premium dengan Keajaiban Fermentasi Alami

Invensi ini mengenai suatu formula dan metode pembuatan bumbu penyedap rasa nabati dari fermentasi koji kacang tunggak dengan tahapan pembuatan inokulum campuran kapang Aspergilus oryzae dan Rhizopus oligosporus PI-17 (perbandingan 1:1) dalam media beras, pembuatan koji dengan substrat kacang tunggak pada perbandingan 1:20 (b/b), pencampuran garam ke koji kacang tunggak dengan perbandingan 1:10 (b/b), melakukan fermentasi pada suhu 30°C selama 8 minggu, dan mengeringkan serta menggiling hasil fermentasi sehingga dihasilkan bumbu penyedap rasa alami bubuk. Berdasarkan invensi ini, diperoleh bumbu penyedap rasa alami berbentuk serbuk dengan kadar protein 16,85 mg/mL, kadar glukosa 0,98 mg/mL, kadar air 91,83%, kadar lemak 4,48%, kadar abu 27,36% serta indeks organoleptik rasa dan aroma masing-masing 3,2 dan 3,0.

Pangan
Solusi Media Kultivasi Mikroalga Mandiri Energi dari Keajaiban Limbah Lokal

Solusi Media Kultivasi Mikroalga Mandiri Energi dari Keajaiban Limbah Lokal

Invensi ini mengungkapkan suatu metode pembuatan media kultivasi mikroalga dari 100% limbah tahu yang telah diolah secara anerobik menggunakan deteksi faktor pembatas pertumbuhan yang bertujuan untuk memproduksi biomassa Chlorella vugaris dengan menggunakan seminimal mungkin penambahan material. Tahap-tahap yang dilakukan pada invensi ini meliputi pengolahan limbah tahu (sedimentasi, filtrasi hingga mencapai ukuran partikulat 1,2 μm, dan sterilisasi), kultivasi pendahuluan (pada 3 jenis media, yaitu media kontrol (AF 6), media limbah tahu 50% dan media limbah tahu 100%), kultivasi utama dan analisis pertumbuhan. Berdasarkan hasil beberapa eksperimen, N dan P tidak perlu ditambahkan pada media kultivasi dari limbah tahu. Jika kultivasi C.vulgaris tidak menunjukkan fase eksponensial maka deteksi dilakukan pada mikro maupun makro elemen selain N dan P hingga kultivasi memasuki fase eksponensial. Setelah faktor-faktor pembatas pertumbuhan terdeteksi pada eksperimen pendahuluan, maka dilakukan eksperimen lanjut, dimana faktor-faktor pembatas pertumbuhan C.vulgaris ditambahkan pada limbah tahu. Hasil pengujian pada invensi ini menunjukkan bahwa metoda ini dapat digunakan untuk pemanfaatan 100% limbah tahu sebagai media pertumbuhan dan menghasilkan produksi biomassa C.vulgaris dalam jumlah yang sama atau lebih tinggi daripada yang dihasilkan dalam media kontrol.

Pangan
Inovasi Filtrat Trichoderma untuk Pertumbuhan Maksimal & Lahan Lestari

Inovasi Filtrat Trichoderma untuk Pertumbuhan Maksimal & Lahan Lestari

Invensi ini berkaitan dengan agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung berbasis filtrat kultur Trichoderma asperellum AC.3, proses pembuatan, dan penggunaanya dalam metode untuk memacu pertumbuhan tanaman jagung melalui perendaman dan penyemprotan. Agen pemacu pertumbuhan menurut invensi ini mengandung kultur filtrat cendawan T. asperellum AC.3. dalam medium potato dextrose broth (PDB) dan surfaktan berupa polisorbat 20. Proses pembuatan agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung menurut invensi ini dilakukan melalui perbanyakan Trichoderma asperellum AC.3 pada media potato dextrose agar (PDA), inokulasi Trichoderma asperellum AC.3 pada media potato dextrose broth (PDB), penyaringan kultur, penyaringan kembali, pemanasan filtrat kultur, dan pencampuran filtrat kultur dengan polisorbat 20. Agen pemacu pertumbuhan yang dihasilkan kemudian digunakan dalam metode untuk memacu pertumbuhan jagung melalui perendaman benih jagung sebelum penanaman dan penyemportan agen pemacu pertumbuhan pada tanaman jagung berusia 7 hari setelah tanam. Agen pemacu pertumbuhan tanaman jagung menurut invensi ini dapat meningkatkan bobot segar tanaman jagung hingga 47%.

Pangan
Solusi Mi Sehat Berbasis Porang Lokal dengan Kualitas Tekstur Kelas Dunia

Solusi Mi Sehat Berbasis Porang Lokal dengan Kualitas Tekstur Kelas Dunia

Invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan mi non terigu, lebih khususnya lagi mi non terigu berbahan dasar tepung glukomanan porang, pati singkong atau pati kentang atau pati jagung, glukosa, dan air yang diproses dengan teknik ekstrusi, perebusan pada larutan alkali, perendaman pada larutan glukosa dan pengeringan serta produk yang dihasilkannya. Produk mi non terigu dalam invensi ini terdiri dari: tepung glukomanan porang sebanyak 4-6%, pati singkong atau pati kentang atau pati jagung dengan rasio jumlah pati dan total bahan sebesar 1:20; 1:10; dan 1:6,67, lebih disukai 1:6,67; air sebanyak 83-94%, dan glukosa sebanyak 1-2%. Proses pembuatan produk mi non terigu berbahan dasar tepung glukomanan porang dan pati meliputi: penimbangan, pelarutan, pencampuran, pendiaman, pencetakan dengan alat extruder single screw, penyiapan larutan alkali, perebusan dengan larutan alkali, pembilasan, perebusan dengan air panas, perendaman dalam larutan glukosa, pembilasan, pengeringan, dan pengemasan. Invensi ini memiliki keunggulan yaitu kadar abu rendah sebesar 0,27-0,38%; daya rehidrasi tinggi sebesar 142,5-174,2%; elongasi tinggi sebesar 64,1-170,3%; dan serta kehilangan padatan akibat pemasakan rendah sebesar 1,12%.

Pangan
Teknologi Fraksinasi Kering untuk Tepung Sagu Premium Berdensitas Presisi

Teknologi Fraksinasi Kering untuk Tepung Sagu Premium Berdensitas Presisi

Nilai ekonomi batang sagu ditentukan oleh biaya produksi dan jenis tepung sagu yang dihasilkan. Pengolahan empulur sagu denganfraksinasi kering dilakukan untuk mengurangi biaya produksi, namun pada tahap reduksi ukuran empulur menjadi tepung sagu terjadi kerusakan pada granula pati sagu, yang menyebabkan hilangnya sifat alami pati sagu. Invensi ini merupakan upaya mempertahankan sifat alami pati sagu dan memisahkan pati sagu berdasarkan perbedaankarakter alami dan fungsionalnya. Pemisahan jaringan vaskular bundle dari jaringan parenkima setelah pemarutan empulur tanpa pengeringan dapat meningkatkan efektifitas pengeringan untuk masing-masing jaringan penyusun empulur sagu. Penggunaan penggiling atrisi untuk mereduksi ukuran, mengeluarkan pati sagudari jaringan parenkima, sekaligus memisahkan tepung parenkima densitas tinggi dari tepung serat parenkima dan tepung parenkima berdensitas rendah. Dua jenis koproduk, yaitu serbuk vaskular bundle dan tepung serat parenkima. Klasifikasi tepung parenkima berbeda densitasnya hingga lolos pori ayakan 230 mesh menjadi tepung sagu kaya pati densitas tinggi dan tepung sagu kaya pati densitas rendah. Usia pohon sagu dan bagian batang mempengaruhi rendemen produk yang dihasilkan, maka digunakan parameter prioritas produk untuk menyelaraskan ketersediaan bahan baku dengan permintaan jenis tepung sagu oleh konsumen.

Pangan
Losion Anti Nyamuk Dari Minyak Kayu Putih Dan Ekstrak Lavender

Losion Anti Nyamuk Dari Minyak Kayu Putih Dan Ekstrak Lavender

Invensi ini mengenai pembuatan losion anti nyamuk dari minyak kayu putih dengan campuran ekstrak lavender, lebih khusus lagi invensi ini berhubungan dengan proses pembuatan losion anti nyamuk dengan bahan utama minyak kayu putih Melaleuca cajuputi dan ekstrak lavender yang bermanfaat untuk mencegah gigitan nyamuk, melembabkan kulit, dan memiliki efek antioksidan. Proses pembuatan losion berbahan dasar beeswax, polawax, aquades, ekstrak aloevera cair, Tocopheryl acetate,minyak kayu putih Melaleuca cajuputi, dan ekstrak lavender. Formulasi losion dibuat dengan tujuan meningkatkan nilai ekonomi pada bahan dasar yang digunakan, meningkatkan manfaat dan efektivitas losion, dan terciptanya losion berbahan dasar herbal dan ramah lingkungan. Losion anti nyamuk dari minyak kayu putih dan ekstrak lavender ini memiliki keunggulan mencegah gigitan nyamuk dengan bahan alami herbal serta memberikan manfaat lebih bagi kulit yaitu meningkatkan kelembaban dan efek antioksidan.