Eksplorasi produk unggulan hasil penelitian dan inovasi BRIN
Invensi ini berkaitan dengan primer spesifik untuk deteksi bakteri Pantoea sp. sebagai penyebab penyakit hawar daun bakteri pada tanaman bawang merah ( Allium ascalonicumL.), khususnya untuk digunakan dalam metode deteksi menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk amplifikasi gen Alt dari bakteri Pantoea sp. sedemikian hingga diperoleh amplikon yang mengkonfirmasi identitas bakteri Pantoea sp. Primer spesifik menurut invensi terkini yaitu Pa_AltF: 5’-TCT GGT CCG ATC TGG TCT GT-3’ dan Pa_AltR: 5’-CAT CAT CAG CTC AGC GTT GC-3’. Primer tersebut digunakan dalam metode deteksi bakteri patogen Pantoea sp. pada tanaman bawang merah menggunakan PCR dengan kondisi proses pre-denaturasi pada suhu 95oC selama 5 – 10 menit; denaturasi pada suhu 95oC selama 30 – 60 detik; penempelan primer pada suhu 60 - 65oC selama 30 – 60 detik; pemanjangan dan pembentukan DNA pada suhu 72oC selama 60-90 detik; dan pemanjangan akhir pada suhu 72oC selama 5-10 menit; di mana denaturasi - pemanjangan dilakukan sebanyak 40 - 45 siklus. Penentuan hasil dilakukan dengan menggunakan elektroforesis gel agarosa dengan konsentrasi 1 - 2%, di mana hasil pemeriksaan dikatakan positif jika muncul pita DNA target berukuran 197 pasang basa (pb).
Invensi ini berhubungan dengan menyediakan komposisi dan proses pembuatan nori krispi dari rumput laut yang dilapisi dengan tepung tapioka. Komposisi nori krispi dari rumput laut, terdiri dari Ulva lactuca 18,0%–23,0%; Gracilaria changii1,8%-3,5%; Eucheuma spinosum 1,8%-3,5%; gliserin 1,5%-2,0%; teri 0,5%-3%; saus tiram 1,0%-3,0%; minyak wijen 1,0%-3,0%; minyak goreng 1,0%-3,0%; sodium metabisulfit 0,1%-0,3%; dan air sehingga jumlahnya menjadi 100%, serta tepung tapioka sebagai pelapis nori sebanyak 25%–100% dari berat nori kering. Proses pembuatan nori krispi dari rumput laut dilakukan dengan tahapan-tahapan yang terdiri dari: mencuci rumput laut; merendam dengan asam cuka 0,5% selama 6 jam (b/v); meniriskan; menimbang bahan-bahan sesuai komposisi; memasak campuran rumput laut pada suhu 1000C selama 10 menit; menghaluskannya bahan-bahan selama 1 menit; mencetak campuran ke dalam cetakan nori; mengeringkan suhu 60°C selama 24 jam; melapisi dengan tepung tapioka; menggoreng nori suhu 200°C selama 5-10 detik; meniriskan dan mengemas nori rumput laut krispi yang dilapisi dengan tepung tapioka. Produk nori yang dihasilkan mempunyai warna menyerupai nori komersial, bertekstur krispi, dan tidak ada after taste.
Invensi ini mengenai mulsa organik alas buah dan pembuatannya yang berfungsi menahan kelembaban tanah di bawah buah dan menjaga buah dari kontak langsung terhadap tanah. Mulsa terdiri dari dua lapis. Lapisan bawah berupa campuran tandan kosong kelapa sawit giling dan bentonit. Lapisan atas berupa cocofiber. Mulsa mampu mengurangi kelembaban tanah hingga 6-13% dibandingkan dengan perlakuan tanpa alas buah. Mulsa mampu mengurangi pertumbuhan gulma sebanyak 30-100% di area sekitar mulsa. Metode pembuatannya mulsa organik terdiri dari: merendam cocofiber dan tandan kosong kelapa sawit giling masing-masing dengan air bersih ditambah desinfektan 0,5- 5,0% selama 20-24 jam dan meniriskannya; mencampur tandan kosong kelapa sawit dengan bentonit dengan perbandingan berat 10:1 sebagai lapisan bawah; meletakkan pelat besi setebal 5 mm di bagian dasar cetakan; melapisinya dengan plastik; mencampur tandan kosong kelapa sawit dan bentonit ke dalam cetakan; menambahkan cocofiber sebagai lapisan atas; menutup lapisan atas dengan plastik kemudian plat besi; mengulang proses pengisian bahan hingga cetakan penuh, menutup cetakan dengan plat besi, mengempa dengan kekuatan 5 ton/900 cm2 selama minimal 4 jam, membuka cetakan, melepaskan dan mengeringkannya.
Invensi ini berhubungan dengan metode produksi zooplankton Artemia sp. tanpa penggantian air dengan pakan spirulina dan tepung singkong termodifikasi (mocaf) sedemikian hingga dihasilkan biomassa zooplankton artemia. Metode ini dilakukan melalui tahapan - tahapan menetaskan kista artemia; menyiapkan media produksi biomassa artemia; menebar nauplius artemia; memberikan pakan berupa campuran tepung singkong termodifikasi dan tepung spirulina; mengatur kadar oksigen; mengendalikan volume biofloc; dan melakukan pemeliharaan artemia hingga artemia mencapai tahapan dewasa. Metode produksi biomassa artemia menurut invensi ini dapat menghasilkan biomassa artemia hingga 800 g/m3 dengan menggunakan konsentrasi pakan dengan tingkat rendah dan dapat menjaga kualitas air media pemeliharaan tanpa melakukan penggantian.
Invensi ini berupa metode dan wadah pembesaran kepiting dengan dengan merangkai unit crab house secara horizontal (5 unit) dan vertikal (4 tingkat), urutan tingkat keempat pasir laut, ketiga pasir sungai, kedua pasir gunung (kuarsa) dan kesatu tanpa pasir. Tiap crab house yang diisi pasir seberat 2,5 kg dan seluruh crab house diisi seekor benih kepiting jantan. Rerata berat awal kepiting : 41,0 g (pasir laut), 33,4 g (sungai), 62,2 g (kuarsa) dan 27,2 g (tanpa pasir). Pakan berupa daging kerang darah, dosis 10% berat individu dan diberikan dua kali sehari. Aliran air sistem resirkulasi 24 jam per hari, dipompa dari tampungan, debit air ke tiap crab house sekitar 0,77 liter/menit. Limpasan air menuju ke unit filtrasi, tandon air dan dipompa kembali ke tiap crab house. Pemeliharaan selama 90 hari, diukur pertumbuhannya tiap 15 hari dan pengelolaan air serta pasir secara periodik. Rerata pertambahan berat kepiting : 166,46%; 167,96%; 112,62% dan 250% dari berat awal dengan kehidupan 100%, 80%, 80%, 20% untuk pasir dan tanpa pasir.
Invensi teknologi ini berupa suatu metode jatuhan dan alat ukur kekerasan kulit lada setelah perendaman. Metode yang digunakan berupa metode jatuhan, yaitu menjatuhkan bagian bawah piston yang berbeban ke sekumpulan lada. Kulit lada jauh lebih lunak dibandingkan piston. Tumbukan tersebut akan membuat sekumpulan lada terkompresi. Karena arah lateral dan vertikel bagian bawah tabung ukur sudah tertutup, maka lada akan tertekan ke bawah. Kecepatan tumbuk dan massa piston bagian bawah relatif tetap. Oleh karena itu, penyusutan ketinggian lada ditentukan oleh kekerasan kulit lada. Makin keras kulit ladanya, makin pendek penyusutan tinggi ladanya. Jadi kekerasan kulit lada berbanding terbalik dengan penurunan ketinggian lada. Suatu alat ukur kekerasan kulit lada setelah perendaman pada invensi teknologi ini terdiri dari empat subsistem yaitu satu subsistem tabung ukur kekerasan lada (1) yang tersusun dari pemberat (beban, 1.1), dudukan beban (1.2), tabung lada (1.3), batang piston (1.4), piston (1.5), dan pemegang tabung (1.6); satu subsistem pengukur jarak (2) yang berupa satu laser distance meter (LDM, 1.1) dan satu pengatur posisi LDM (1.2); satu subsistem statif (3) yang tersusun dari batang statif (3.1) dan alas statif (3.2); serta satu pengolah data (4) yang terdiri dari mikrokontroler (4.1) dan display atau penampil (4.2).
Invensi ini berupa sistem dan metode pengukuran kesuburan lapisan tanah dengan kamera endoskopi. Sistem ini terdiri dari satu kamera endoskopi (1.1), satu sumber cahaya (1.2), satu pelindung( 1.3), satu selubung (casing, 1.4), satu kabel kamera (1.5), satu perangkat keras pengolah video (1.6), perangkat lunak pengolah video (1.7), dan satu penampil hasil pengukuran (1.8); yang dicirikan alat tersebut dapat mengukur kesuburan tanah untuk berbagai lapisan tanah. Suatu metode pengukuran kesuburan tanah dengan kamera endoskopi yang digunakan pada invensi ini adalah metode pengolahan video. Suatu selubung (1.4) yang di dalamnya terdapat sumber cahaya (1.2) yang dilapisi pelindung (1.3), dimasukkan ke dalam tanah pada lahan yang akan dideteksi kesuburannya. Permukaan vwerikal tanah tersebut akan memantulkan cahaya dari sumber cahaya (1.2). Pantulan cahaya tersebut kemudian ditangkap oleh kamera endoskopi (1.1) yang ada di dekat sumber cahaya (1.2). Selanjutnya, cahaya yang ditangkap kamera endoskopi (1.1) akan menghasilkan citra video yang dikirimkan ke perangkat keras pengolah video (1.6) melalui kabel kamera (1.5). Citra video tersebut kemudian diolah lebih lanjut dengan suatu perangkat lunak pengolah video (1.7), sehingga tanah dalam citra video tersebut dapat diinterpretasikan kesuburannya sebagai fungsi kedalaman.
Invensi ini berhubungan dengan proses pemisahan untuk mendapatkan ekstrak, fraksi, subfraksi, dan isolat dari kulit batang tanaman Diospyros blancoi A. DC. Cara pemisahan yang digunakan meliputi ekstraksi, fraksinasi bertingkat, fraksinasi lanjut dengan kolom kromatografi, dan isolasi. Hasil yang diperoleh diuji aktivitasnya yaitu anti oksidan dan anti elastase. Identifikasi isolat asam galat dan asam betulinat dilakukan dengan analisis spektroskopi FTIR dan NMR 1 dimensi yaitu 1H-NMR dan DEPT135 dan 13C-NMR, dan NMR 2 dimensi yaitu, HMQC, HMBC, dan COSY, dan analisis kromatografi LCMSMS.
Invensi ini berhubungan dengan metode regenerasi tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.) galur Darmais-1 secara in vitro pada, khususnya metode regenerasi melalui pembentukan tunas adventif secara in vitro untuk menghasilkan tanaman cabai besar yang utuh dan fertil. Tahapan - tahapan yang dilakukan menurut invensi ini meliputi mencuci buah cabai yang sudah matang fisiologis dengan sabun; mengumpulkan biji cabai dan mencuci biji cabai; melakukan sterilisasi biji cabai; mengeringanginkan biji cabai; menanam biji steril dalam media MS padat tanpa tambahan zat pengatur tumbuh; mengambil kotiledon berumur 2-3 minggu sebagai eksplan; memotong kotiledon; menanam potongan kotiledon; melakukan subkultur pertama; melakukan subkultur kedua; dan memperoleh tunas adventif tanaman cabai besar hasil regenerasi. Metode regenerasi tanaman cabai menurut invensi ini dapat menghasilkan tunas adventif dalam waktu 8-10 minggu.
Invensi ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan perbanyakan pada tanaman obat langka gandasoli hutan dan tujuan khususnya adalah untuk mendapatkan metode perbanyakan tanaman obat langka gandasoli hutan in vitro. Invensi dilakukan menggunakan sumber eksplan mata tunas yang berasal dari lapang dan eksplan dipelihara didalam kotak steril. Kegiatan bertujuan untuk memperoleh metode perbanyakan H. roxburghii secara in vitro dan invensi ini terdiri dari dua tahapan yaitu: 1) inisiasi dan induksi tunas pada media MS cair dengan penambahan BA (0.0 ; 1.0 ; 3.0 ; 5.0 mg/l) secara tunggal dan kombinasinya dengan TDZ 0.1 mg/l, dan 2) multiplikasi tunas in vitro untuk meningkatkan jumlah tunas pada perlakuan kombinasi BA, TDZ dengan NAA. Hasil invensi menunjukkan bahwa media dasar MS cair dengan penambahan kombinasi BA 3.0 mg/l + TDZ 0.1 mg/l menghasilkan respon inisiasi dan induksi tunas paling baik dibandingkan perlakuan lainnya dengan jumlah tunas 1-4 tunas dalam waktu empat minggu. Multiplikasi tunas terbaik diperoleh pada penggunaan perlakuan media MS cair dengan penambahan BA 3.0 mg/l + TDZ 0.1 mg/l dan NAA 0.3 mg/l dengan jumlah 2-5 tunas dalam waktu tiga minggu.
Invensi ini berupa suatu proses pembuatan sambal tabur yang diperkaya protein dengan menambahkan protein dari ikan kering dan kacang-kacangan,kemudian dipress pada salah satu tahapnya untuk mengurangi minyak. Pada beberapa bahan baku dilakukan pengorengan dan beberapa bahan tertentu dilakukan penyangraian. Bahan kemudian dicampurkan menjadi satu dengan blender kemudian dipress untuk mengeluarkan minyak keluar hasil penggorengan. Setelah dipress bahan diblender kasar kemudian dikemas dengan menggunakan botol dan ditutup rapat.
Invensi ini mengenai formulasi produk biostimulan peningkat efisiensi hara tanaman bawang merah. Produk biostimulan mengandung bahan aktif konsorsium bakteri pemacu tumbuh yaitu penambat nitrogen, pelarut mineral (Zn, P, K), penghasil siderofor, produksi eksopolisakarida, produksi Indol Acetic Acid (IAA), produksi amonia dan hidrogen sianida (HCN) yaitu: Acinetobacter pitti, Seratia liquifaciens, Seratia marcescens, Klebsiela varicola, dan Pseudochrobactrum asaccharolyticum. Produk biostimulan diformulasikan dalam bahan pembawa berbahan dasar blotong, dengan penambahan zeolit dan bentonit. Proses formulasi dilakukan dengan menggunakan mesin granulator untuk menghasilkan produk biostimulan berbentuk granul berukuran 0.2-0.5 cm. Hasil pengujian rumah kaca menunjukan aplikasi biostimulan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan tanaman bawang merah hingga 50%.